DENPASAR, BALI EXPRESS - Fenomena virus Corona yang mendunia, bikin kelabakan puluhan negara. Indonesia, termasuk terimbas, sektor pariwisata pun akhirnya turut jadi korban. Bagaimana virus yang kini dinamai Covid-19 ini, menurut kajian Hindu ?
Covid-19 banyak menelan korban, terutama di China yang jumlahnya di atas 3.000 orang. Meski kecendrungan korban meninggal menurun, namun yang bikin cemas karena obatnya hingga kini belum ditemukan.
Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Guru Nabe Jro Budiarsa menganalisa berdasarkan wiweka, analisa sekala niskala agar bisa diterima akal sehat dan logika yang rasional. Dikatakan analisa niskala, karena
awalnya mendapat analisa ini dari sebuah petunjuk alam atau sabda alam 'suara langit' karena virus Corona adalah penyakit ilmiah dunia kesehatan.
"Namun, tidak akan salah bila kita melakukan kajian secara sastra menurut konsep sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat yang ada di Bali," terang Guru Nabe Jro Budiarsa kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Yeh Embang, Tegak Gde, Jembrana, pekan kemarin.
Tokoh umat yang juga penerima wahyu ajaran Wahyu Siwa Mukti ini, mengajak umat untuk berpikir cerdas lugas, logis dan rasional. "Kita patut melakukan kaji analisis terhadap sistem kerja virus tersebut kehidupan manusia, lalu kaji sastra yang berkesesuaian untuk mengatasinya, agar bisa menumbuhkan keyakinan pada diri kita masing-masing," terang pria yang memahami soal energi alam ini.
Bila sudah dapat memahami, lanjutnya, akan bisa mengantisipasi sebagai langkah prepentif. Meski banyak yang mengatakan menemukan solusi, namun tetap perlu cerdas menganalisa semuanya demi kebaikan bersama. Ditekankannya, ciri dan cara virus Corona, memiliki cara kerja seperti demam pilek, sesak napas, napas kering, batuk radang, infeksi, dan pada puncaknya akan menjadi gagal ginjal kronis yang berakhir tragis.
Menurut Guru Nabe Jro Budiarsa, analisa yang patut dipahami dan lakukan sebagai bahan diagnosa adalah faktor penyebab demam dan pilek, faktor penyebab batuk dan infeksi, kemudian faktor penyebab sesak napas dan napas kering. Selanjutnya adalah faktor penyebab gagal ginjal, rentang waktu perubahan status penyakit, dan sistem penyebaran penyakit.
Dari analisa faktor tersebut, lanjut Jro Budiarsa, virus Corona adalah sejenis Sasab Merana Gerubug, Tetumpur Agung, atau Ila-ilaning Jagat, Sarwa Pemedalara, Sarwa Mamilara Mamiruda Angruak Angrumeda.
Berdasarkan acuan tersebut, dapat dipelajari dan petik makna yang jelas sebagai bahan kajian untuk menentukan langkah nyata dalam spiritual menurut kajian sastra Hindu Bali. Kajiannya bahwa demam filek dipengaruhi suhu siklus perubahan alam, khusus faktor panas dan dingin (sastra Ang Ung), unsur air dan api, dan karena batuk kering, sesak napas kering, maka otomatis ada pengaruh dari angin panas (Bayu Gni Wesia Mandi) atau angin beracun sastra Sang Nang. " Dari analisa ini, maka kendali sistem kerja Bayu Wesia Mandi ini bisa diatasi dengan kekuatan Sang Nang atau Brahma Sweta yang dapat dimurtikan atau ditingkatkan sampai berkali-kali lipat kekuatannya hingga memiliki kekuatan Sapuh Jagat," beber Jro Budiarsa.
Dikatakannya, di Bali sudah ada konsep Nyapuh Awu. Jika jnana tinggi bisa dengan nasi wong-wongan putih dan pajati. Bahkan, nasi kepel putih pun bisa. Dan, yang lebih bagus lagi, nasi kepel putih dan caru ayam putih (Angreka kita Bayu Sweta Wijaya, anyapuh awu jagat pada Buana Agung Buana Alit, amurtyaken Bhatara Bayu, anunggalaken Sanghyang Panca Bayu Murti, angreka Cakra Bayu Murti Sakti, anglaraken Sapuh Jagat, angawe suci nirmala jagat pada, Ong Sang Nang Wang Sang Namah).
Yang paling tinggi dengan caru sapi putih. Dahulu ada lahir sapi putih di Bali Barat dan Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana mendapat petunjuk disuruh datang ke tempat yang punya sapi putih untuk melakukan Puja Stuti Tatwa, Puja Sapuh Jagat Larantaka, atau Sapu Bersih Jagat, tetapi tidak dilakukan karena tidak ingin dikatakan makuma-kuma atau mengada-ngada, merasa paling dapat petunjuk atau wahyu.
"Masih banyak persepsi, antipati, negatif thinking orang di Bali. Sama halnya dengan konsep Asta Purusa Asta Siwa, Angreka Bala Bela Bali Niskala, Anangun Rajeg Bali, yang masih banyak mendapat tanggapan kurang responsif," urainya.
Dikatakannya, cara kerja dari virus Corona ini adalah Sapuh Jagat Larantaka atau penderitaan panjang oleh alam oleh Bayu Wesia Mandi atau angin beracun mengadung virus yang membuat laraantaka. Artinya penderitaan dan penyakit wabah yang meluas dan berkepanjangan.
Virus Corona tersebut tersebar lewat angin yang berasal dari cairan lendir pilek atau ingus, air ludah, bahkan keringat dan darah yang mengandung virus bisa dengan mudah menyebar lewat udara.
Lendir ingus atau darah setelah kering kena panas matahari, maka air atau lendir akan menguap kemudian virus akan terbang dan ketika virus di hirup oleh hidung, secara otomatis akan tertular, lalu kena dampak Corona.
Kemudian ketika lendir ingus, bahkan darah, dan cairan tubuh lainnya masuk ke dalam air, bila air itu tidak disterilkan bisa menyebarkan sakit karena mengandung racun atau virus, dan dalam istilah Hindu Bali, air yang memiliki kandungan penyakit itu disebut Banyu Wesia Mandi atau air mengadung upas atau racun.
Dikatakan Guru Nabe Jro Budiarsa, menurut kajian tatwa sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat pada unsur sastra Sang Nang, maka yang bisa mengatasi virus Corona adalah upacara Sapuh Awu, Sapuh Jagat dengan kekuatan Bayu Sweta Wijaya atau Brahma Sweta.
"Silakan sesuaikan kemampuan untuk melakukan ritual tersebut. Bisa hanya dengan nasi kepel putih, nasi wong-wonganan putih, bisa caru ayam putih, bisa caru bebek putih, bisa caru sapi putih," paparnya.
Banten sane munggah, lanjutnya, harus disesuaikan dengan besar upacara di bawahnya. Jika nasi kepel atau wong-wongan atau caru ayam putih cukup pajati. Jika bebek putih wajib suci, jika sapi putih tanyakan kepada Sang Sulinggih.
Penyakit yang berkembang dalam bentuk virus, dan virus tidak mati oleh sistem penguraian tanah. Penyakit kena virus Corona ini tidak boleh dikubur atau ditanam, tetapi harus dibakar atau geseng (menurut istilah di Bali). Dalam proses pangesengan ini bisa menggunakan Panca Brahma dan Panca Gni. Apabila memiliki jnana lebih tinggi, sangat tepat menggunakan Cakra Gni Murti atau kekuatan paleburan penuh ( Angreka kita Cakra Gni Murti, amurtyaken Bhatara Yama, anunggalaken Sanghyang Panca Bayu Bayu Murti, mulih nunggal maring daksina, Mawisesa Bhatara Yama, angeseng angelebur sakuwehing pemedaning jagat sarwa mamilara mamiruda, angrusak angrumeda amuk mawiroda wateking sasab merana gerubug, muah tetumpur Agung, sarwa ila ilaning jagat pada, hilang musnah lebur geseng denira, Ong Bang Mang Nang Bang Namah).
Upacaranya bisa dengan nasi kepel bang, nasi wong-wongan bang, caru ayam biying, caru asu bang bungkem atau caru sapi merah. Jadi, sesuaikan dengan kemampuan dan jnana yang dimiliki dan tingkatan ritual upacara sesuai kemampuan ekonomi masing-masing.
Sistem penyebaran penyakit akibat virus Corona dibantu dan didukung faktor sinar matahari sebagai penyebab munculnya penguapan, sehingga mudah terbang bebas, lalu dihirup oleh semua makhluk.
Dikatakan tokoh penuntun ajaran Wahyu Siwa Mukti ini, akibat dari faktor sinar ini berpengaruh besar terhadap penyebaran virus lewat penguapan, maka menurut tatwa sastra, sinar ini dipaparkan oleh sastra Tang dan sastra Sing.
Pertemuan kedua sastra ini melahirkan kekuatan Gni Jnar atau sinar panas. Agar kekuatan sinar tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap perkembangan virus, maka menurut sastra ada kekuatan Sanghyang Licin yang mampu melepaskan segala ikatan dan pengaruh negatif dari kekuatan alam, dan kekuatan Sanghyang Licin ini mampu menciptakan pengaruh positif ke segala arah, lalu disebut kalimo usada atau sistem penyembuhan ke lima arah, karena di bumi ini hanya ada energi lima unsur yang menempati lima arah. Maka, pengendali kekuatan negatif dari energi lima unsur itu disebut kalimo usada yang menjadi kalimosada. (Angreka kita kalimosada jagat pertiwi, amurtyaken Sanghyang Licin, anunggalaken Sanghyang Panca Bayu Murti mulih nunggal maring pascima, Mawisesa Sanghyang Licin, angluputaken ala sengkalaning jagat pada, muah sarwa mamilara mamiruda angrusak angrumeda, wateking pemala pemali, muah sasab merana gerubug tetumpur Agung, hilang musnah hilang moksah denira wetu hening suci nirmala seising jagat pada, Ong Tang Sing Mang Tang namah).
"Di sini dikenal istilah nama Sanghyang Licin yang menyatukan segala kekuatan, untuk melepaskan atau angluputaken segala bahaya dan marabahaya di bumi ini," paparnya.
Upakara bisa dengan nasi kepel kuning, nasi wong-wongan seliwah, caru ayam putih siyungan (ayam hitam dada dan sayap putih, kaki dan cocor mulut kuning atau warna putih kuning dan hitam, unsur angin, sinar, dan air sebagai cikal bakal lahirnya tri suci dan tri amerta), bisa juga dengan caru kambing.
Jika punya jnana bagus, lanjutnya, maka nasi kepel kuning dan caru ayam putih siyungan, sudah cukup untuk menciptakan kekuatan kalimo usada atau sistem penyembuhan datang dari lima arah. Jadi, penyakit datang dari angin, kembali ke angin. Penyakit datang dari api, kembali ke api. Penyakit datang dari sinar, kembali ke sinar.
Penyakit datang dari air, kembali ke air, dan penyakit datang dari bumi, kembali ke bumi. "Silakan sesuaikan bahasa dan doanya, tanpa mengubah maknanya, " tuturnya.
Bayu Wesia Mandi dan Banyu Wesia Mandi ini, menyebabkan petaka bagi umat manusia, sehingga kotoran itu disebut malapati atau kotoran membawa kematian.Bagaimana kajian sekala niskala dan solusinya? (bersambung)