GIANYAR, BALI EXPRESS - Setiap pura memiliki sejarah hingga kepercayaan masyarakat sekitarnya, selain untuk sembahyang dan tempat memohon berkah, seperti yang terdapat di Pura Pasek atau Pura Pacek, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar.
Warga setempat meyakini simbol Lingga dan Yoni yang ada di jeroan Pura Pasek,
sebagai tempat mohon agar segera diberkati keturunan. Bahkan, hal tersebut telah dibuktikna oleh masyarakat setempat. Hal itu diungkapkan Pemangku Pura Pacek, Jero Mangku Ketut Sudana,50, didampingi Kelihan Pura, I Wayan Balik Suartana,49, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin.
“Lelingsir kami dahulu menyebutkan Pura Pasek ini berawal dari Pura Pacek. Yaitu sebuah pura sebagai titiknya Desa Mas, karena perkembangan zaman sehingga menjadi Pura Pasek. Mengingat yang ngempon bukan dari keturunan Pasek saja, melainkan hampir semua trah ada di sini. Mulai dari Arya, Bendesa, dan Pasek,” jelasnya.
Pangempon pura yang ada di Desa Mas berjumlah 120 kepala keluarga. Sedangkan di luar Desa Mas hampir 100 kepala keluarga. Untuk di luar Desa Mas yang merupakan rarudan (pindahan) dari sana terdiri atas dari Desa Bedulu, Blahbatuh, Desa Sayan, Desa Kedewatan, Ubud. Desa Guliang, Buduk, Badung, Grenceng, Denpasar, hingga dari Tabanan, Buleleng, Jembrana, Bangli, dan Karangasem.
Pria yang berasal dari Banjar Batan Ancak, Desa Mas itu, menyampaikan hal yang unik pada pura, kerap dijadikan sebagai tempat nunas mohon keturunan bagi pasangan yang sudah menikah, namum belum dikaruniai anak. Hal itu disebabkan terdapat peninggalan purbakala berupa Lingga dan Yoni di jeroan pura.
Tepat di jeroan pura, pada palinggih yang terdapat di sebelah utara paling barat merupakan Lingga. Pangempon pura kerap menyebutnya sebagai Palinggih Lingga, dan palinggih itu bentuknya seperti bangunan Padma. Bahan Lingga terbuat dari batu padas abu-abu kehitaman. Ukurannya setinggi 62 centimeter, berdiameter 30 centimeter.
“Sedangkan Palinggih Yoni ditempatkan pada bagian timur pura menghadap ke barat. Lingga yang berasal dari bahasa Sanskerta di samping memiliki arti Phallus (kemaluan laki-laki), biasanya Phallus ditempatkan di atas vulva (Yoni) yang berarti simbol alat kelamin wanita,” jelasnya.
Untuk palinggih Yoni, lanjut Jero Mangku Sudana, menghadap ke barat berbentuk Tepasana. Diungkapkan juga terdapat sebuah batu Monolit sebagai tinggalan tradisi Megalitik dari masa prasejarah. Yoni yang terdapat di Pura Pasek tersebut berukuran 25 centimeter dan lebar 55 centiemer, dan garis tengahnya 70 centimeter. Karena adanya peninggalan purabakala berupa Lingga dan Yoni tersebut, masyarakat di Desa Mas, dan di luar desa setempat, juga meyakini Pura Pasek diyakini jadi tempat mohon keturuan, selain untuk sembahyang . Bahkan ,Jero Mangku Sudana mengaku, beberapa warga Desa Mas yang telah mohon keturuanan di sana telah terbukti.
“Kalau nunas di sini tergantung dengan kepercayaan pamedek yang tangkil. Istilahnya guyu-guyu pesaja. Tapi, kembali juga dengan keyakinan mereka yang tangkil ke sini, kalau memang tulus ikhlas pasti akan terkabul,” jelasnya.
Disinggung dengan sarana yang perlu dibawa saat tangkil, Jero Mangku Sudana menyampaikan sibisa dari pamedek. Jika mampu menghaturkan Pajati dipersilakan, jika pun hanya Canang juga tak masalah.
“Untuk sarana kembali lagi ke masing-masing pamedek, semampunya. Karena memang tidak ada patokannya jika nengkil atau nunas di sini. Namun, berhasil atau tidaknya itu kembali ke kepercayaan masing-masing,” tandasnya.