DENPASAR, BALI EXPRESS - Di Banjar Ketapian Kelod Denpasar, selain memiliki Tarian Gandrung yang sudah terkenal dan disakralkan, ada juga cerita yang berkaitan dengan hal diluar nalar, tentang sebuah Layangan.
Banjar Ketapian Kelod, Kelurahan Sumerta ini, Denpasar Timur, menyimpan cerita unik dan misterius terkait keberadaan sebuah Layangan warisan yang dipercaya memiliki kekuatan aneh tapi nyata.
Bali Express (Jawa Pos Group) pada akhir pekan kemarin mengunjungi Banjar Ketapian menemui I Komang Tri Antara dan Jro Mangku Tajim. Dua pria beda generasi ini sangat fasih menjelaskan soal Layangan yang mereka sebut tetamian nak lingsir ini.
Jro Mangku Tajim menjelaskan, awalnya, puluhan tahun silam, dua maestro layangan Banjar Ketapian Kelod membuat layangan jenis Bebean dua buah, yakni warna dasar merah dengan warna putih di tengah. Kemudian satunya berwarna dasar hitam dengan warna putih di tengah (poleng). "Jadi, dua Layangan ini sebenarnya disiapkan untuk lomba di Pegok. Sebelum lomba, kan wajib dicoba dulu," jelas Mangku Tajim.
Nah setelah dicoba, yang bikin heran itu diakuinya adalah Layangan Poleng nyejer (berada) selama tujuh hari di udara. Bahkan, banjar tetangga waktu itu dibuat heran oleh Layangan Poleng ini dan dibuat bertanya-tanya siapa si empunya Layangan yang begitu tenang berada di udara dengan waktu selama itu. Padahal, ukuran Layangan Bebean tersebut diakui terbilang cukup besar, sekitar 4 meteran. Ditambah lagi, tidak mungkin rasanya angin bisa stabil seperti itu, selama 7 hari 7 malam.
"Seingat saya, waktu itu saya masih SMP," sebutnya.
Sisi mistis pun mulai menyelimuti Layangan ini. Bahkan, ketika Layangan ini disebutkannya pernah putus dan jatuh di banjar tetangga yang lumayan jauh, warga Banjar Ketapian Kelod ketog semprong (berbondong-bondong) datang menengok. Bahkan sampai ngulapin (diupacarai khusus) dengan menyiapkan baleganjur.
"Katanya Layangan itu seperti memiliki roh setelah ngulapin. Wajar saja kan layangan Bali itu terkait dengan kisah Rare Angon," jelasnya.
"Saya tidak tahu kenapa, waktu itu warga banjar ramai-ramai datang. Tua-muda, pria dan wanita, semuanya ikut menengok. Tapi sayang, ketika Layangan sudah ketemu, sisi putih di tengahnya dirobek oleh orang yang tidak bertanggung jawab," sambung Mangku Tajim.
Atas kejadian itu, Layangan Poleng tersebut akhirnya lama vakum. Sempat beristirahat cukup lama, akhirnya Layangan yang disebut Si Poleng berusaha 'dibangkitkan' kembali. Kali ini penggagasnya adalah pemuda-pemuda di banjar setempat yang dikomandoi oleh Komang Tri Antara bersama Komang Yogi Mandala serta Sekaa Teruna-Teruni Yowana Dharma Satya, Banjar Ketapian Kelod.
Berbekal cerita dari kakek mereka, para pemuda mulai menggarap secara hati-hati Si Poleng ini dan tidak sembarangan membuatnya. Meskipun tanpa ritual khusus maupun berpatokan dengan hari baik, mereka tetap mengikuti petunjuk yang diberikan, bahwa layangan ini memiliki aura beda dengan Layangan biasanya.
Benar saja, dengan kreasi baru, Si Poleng kembali menunjukkan kekuatan magisnya. Diakui Tri Antara, pernah beberapa pemuda karauhan ketika menyertakan Layangan ini dalam sebuah lomba di Pantai Mertasari, Sanur. Selain Layangan selem putih ini, mereka membawa tiga Layangan lain, yaitu jenis Bebean satu, dan dua lainnya Pecukan.
"Para tetua sudah menyarankan supaya Layangan selem putih ini harus diterbangkan lebih dulu dan jangan dilangkahi nomor urutnya. Ya karena saat itu anginnya bagus, mau tidak mau Layangan kedua yang kami naikkan, karena kami rasa lebih bagus dan lebih besar," bebernya.
Kenyataan berkata lain. Karena dilangkahi itu, ketiga Layangan yang dibawa semuanya tidak terkendali, bahkan sampai hancur karena terjatuh. "Yang tiga itu benar-benar rusak saat terjatuh, meskipun sempat mengudara. Sedangkan yang selem putih tidak ada apa-apa sama sekali," ucapnya.
Bukan hanya itu saja. Di lomba yang kedua, saat itu di Pantai Padanggalak, kejadian sama persis kembali menimpa. Dan, satu-satunya yang masih utuh, lagi-lagi layangan selem putih tersebut. "Sempat merasa aneh waktu itu. Kok bisa seperti ini lagi," sebut Tri Antara.
Dan, yang benar-benar membuat pemuda tersebut tercengang sekaligus terheran-heran ketika mengikuti lomba di Pantai Mertasari dua tahun lalu.
Ceritanya, mereka membuat Layangan Bebean baru dengan ukuran yang sama persis dengan ukuran Si Poleng (hitam putih). Namun, karena waktu yang sangat mepet, salah satu ornamen pelengkap, yakni bantang guangan tidak selesai tepat waktu. Maka, dipinjamlah bantang guangan yang biasanya dipasang di layangan hitam putih. "Dan lagi-lagi, layangan yang baru kami buat itu kembali hancur dengan bentuk yang tidak karuan setelah jatuh dari langit. Tapi, anehnya hanya bantang guangan itu yang tidak rusak," bebernya.
Dengan berbagai kejadian aneh tapi nyata yang sering menimpa itu, timbullah keinginan para pemuda supaya Layangan hitam putih itu dilinggihkan di banjar. Namun, karena di bale banjar setempat sudah ada sasuhunan Gandrung dan Ratu Ayu, makanya hal itu tidak jadi dilakukan.
"Yang terpenting kata tetua kami harus dijaga dengan baik dan jangan sekali-sekali sembarangan dalam membuat ataupun saat menaikkannya. Kami percaya bahwa Layangan ini memiliki kekuatan magis," tandas Tri Antara.
Editor : I Putu Suyatra