DENPASAR, BALI EXPRESS - Atman akan selalu lahir ke dunia selama belum mencapai Moksa. Begitulah kepercayaan umat Hindu tentang kelahiran kembali yang dikenal dengan Punarbhawa. Lantas, bagaimana kaitan kelahiran kembali Atman itu dengan keluarganya di masa lampau?
Punarbhawa berarti lahir kembali, dimana semua Atman dalam ajaran Hindu akan senantiasa harus kembali lahir ke dunia. Alasannya tentu karena belum mencapai Moksa sebagai tujuan tertinggi. Namun, berapa lama waktu yang diperlukan Atman dari meninggalkan badan lamanya hingga berinkarnasi kembali.
Menanggapi hal itu, Dosen Pendidikan, Weda, dan Tattwa UNHI Denpasar, I Kadek Satria S.Ag. M.Pd.H, mengambil referensi dari geguritan Atma Prasangsa. Dalam geguritan itu, dijelaskan bahwa manusia yang penuh dosa akan mendapatkan hukuman yang lama. Hukuman ini diterima si Atman setelah kematiannya (meninggalkan badan manusiannya). “Ada yang menyatakan bahwa hingga 1000 tahun Atman tersebut bisa mendapat penyiksaan atas dosa yang selama ini telah dia perbuat ketika hidup di dunia,” ujar pria asal Pedawa, Buleleng ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar.
Namun tidak dipungkiri Kadek Satria, banyak di beberapa tempat ada juga yang belum diaben (diupacarai tuntas) bisa kembali numitis (reinkarnasi).
Keyakinan umumnya di Bali untuk mengetahui reinkarnasi dilakukan ketika memiliki anak dengan cara nunasan, ngaluang atau nyapati sane numadi (meminta petunjuk) ke balian tentang siapa yang reinkarnasi dalam tubuh si anak yang lahir. Tidak jarang didapatkan jawaban bahwa ternyata anak yang lahir kembali itu salah satu leluhurnya. Kadek Satria mengatakan semua itu dikembalikan kepada diri masing-masing, apakah percaya atau tidak mengenai hasil nunasang tersebut. “Semuanya kembali pada keyakinan masing-masing. Sulit dijelaskan benar atau tidak, tetapi begitulah keyakinan dalam Hindu di Bali ini,” ucapnya.
Kadek Satria menerangkan, kebenaran nunas bawos (mohon petunjuk) kepada balian ( tokoh supranatural) dalam umat Hindu, khususnya di Bali kembali pada kepercayaan orang yang melakukan nunasang tersebut. “Kalau saja keyakinan kita bagus, maka mungkin saja leluhur memberikan anugerah bahwa hasil nunasang itu bisa benar apa adanya,” ungkap pria yang juga menjadi dosen tersebut.
Dalam kasus nunasang, lanjutnya, seringkali juga Atman leluhur dikatakan lahir kembali dalam beberapa keturunannya.
Dikatakannya, Atman bisa saja terpecah dalam banyak kelahiran, karena dengan lahir lebih dari satu manusia akan bisa mengurangi kepapaan yang harus dihadapi ketika hidup di dunia.
Selain membawa karma dalam kehidupannya ketika dilahirkan kembali, Atman juga bisa membawa sifat hingga perilaku dari masa lalunya. Semua itu terlihat dari kesamaan sifat dan kepribadian yang mencerminkan bawaan kelahiran orang. “Ini bisa kita lihat pada keluarga kita, sangat banyak kemiripan karakternya dengan karater leluhur yang dikatan meragai dirinya sekarang. Walau secara ilmu pengetahuan ini bisa juga turun melalui gen,” terang dosen yang sedang menempuh studi doktoralnya di UNHI Denpasar.
Ditegaskannya, sebagai umat Hindu harus mengingat bahwa dalam setiap kelahiran yang dibawa paling banyak oleh seseorang adalah karma wasananya. "Karma wasana yang akan ditebus olehnya dalam kehidupannya sekarang,” sambung Kadek Satria.
Atman sudah menjalankan kehidupannya sebagai manusia dan akhirnya meninggal. Ketika meninggal, kembali umumnya keluarga almarhum pergi ke balian untuk nunasang. Hasilnya sering didapat sang Atman memerlukan sesembahan di alam niskala. Dalam kasus terebut, Kadek Satria tidak memungkiri ini emang fakta yang sering terjadi di lapangan.
Sesembahan berupa sarana upakara ini dari sudut pandang pria yang juga menjadi penceramah agama Hindu tersebut, dimungkinkan ketika meninggal masih ada bekas karma. Karma yang dimaksud itu, mungkin bisa disebut sebagai ingatannya pada alam duniawi. Ingatan inilah yang menjadi dasar Atman tersebut meminta bantuan untuk dibuatkan semisal upakara. “Jadi, masih bisa kita sebut Atman bisa mengingat masa lalunya. Buktinya banyak kita dengar dalam masyarakat, Atman almarhum keluarganya meminta suatu persembahan di alam nisakala, walau sudah meninggal alias hanya dari bawos balian saja,” terangnya.
Fenomena bahwa atman perlu persembahan tertentu, bagi Kadek Sartria pribadi, bahwa Atman yang sudah bersih tentu tidak memerlukan hal seperti itu. “Namun, semua saya kembalikan pada umat. Memang beginilah cara umat Hindu khususnya di Bali dalam meyakini keberadaan Atman dan menghargai Atman almarhum keluarganya tersebut. Intinya kembali saya tegaskan mengenai amAtman ini adalah keyakinan pada diri masing-masing,” pungkas Kadek Satria.
Editor : I Putu Suyatra