DENPASAR, BALI EXPRESS-Lamak biasanya ditempatkan di palinggih maupun Sanggah Surya, ketika ada upacara Panca Yadnya. Menurut salah satu seniman yang ahli dalam hal majejaitan, I Wayan Sumatra, 65, Lamak adalah simbol dari tiga alam atau Tri Bhuana.
Tri Bhuana itu terdiri dari alam Bhur (bawah) seperti tanah atau pertiwi. Kemudian Bwah (tengah), yang terdiri dari Eka Pramana (tumbuhan), Dwi Pramana (binatang), dan Tri Pramana (manusia atau Cili). Dan, Swah (atas) ada matahari, bulan, dan bintang. " Dalam Lamak, Tri Bhuana itu diaplikasikan dalam bentuk jejaitan, reringgitan. Jadi, Tri Bhuana itu wajib dihadirkan dalam Lamak," papar Wayan Sumatra saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Grup) di kediamannya di Banjar Ketapian Kaja, Kelurahan Sumerta, Denpasar Timur, kemarin.
Aplikasi tersebut, lanjutnya, tergantung seberapa panjang dari Lamak itu dibuat. Kalau pendek, minimal di tiga bagian itu terdapat perwakilan dari Tri Bhuana tersebut. 'Misalnya di bawah cukup seperti reringgitan bebatuan atau tanah, di tengah bisa dalam bentuk reringgitan tumbuhan atau kekayonan, dan di atas ada matahari," ujarnya.
Jika Lamak tersebut panjang hingga 6 meter misalnya, ornamen dalam tiga bagian itu bisa bervariasi. Sekarang tergantung imajinasi dari si pembuat Lamak. "Yang terpenting adalah menggambarkan alam atau isi dunia (isin gumi). Bukan buatan manusia. Karena konsepnya adalah Tri Bhuana tersebut, panjang atau pendek harus menuat tiga unsur wajib," terangnya.
Dijekaskannya ada beragam Lamak, yakni Lamak Galungan, Lamak Panggung, Lamak Surya, dan Lamak Sanggar Tawang. Untuk Lamak Galungan, sesuai namanya digunakan saat Hari Raya Galungan. Kemudian Lamak Panggung pada saat piodalan atau karya di pura. Kenudian, Lamak Surya biasanya ditaruh di Sanggah Surya pada saat melakukan upacara Dewa Yadnya. Dan, Lamak Sanggar Tawang biasanya digunakan saat karya agung seperti ngenteg linggih.
Bahan yang digunakan adalah busung (janur), ambu, ron, kain, ental putih maupun merah (ibung), serta uang kepeng (pis bolong) yang sering disebut Salang. "Jika bahan-bahannya terbatas, bisa menggunakan satu bahan saja. Kalau pakai janur saja, boleh. Pakai ron saja, juga boleh. Dan yang paling penting itu adalah ada konsep Tri Bhuana," tegasnya.
Proses pembuatan Lamak dari awal membuat jejaitan berupa reringgitan dari ron yang mengacu dari konsep Tri Bhuana tersebut. Setelah reringgitan selesai dibuat, direndam dalam air biasa supaya reringgitan ron tetap segar. Khusus berbahan ental merah atau ibung tidak perlu direndam.
Setelah selesai reringgitan, kemudian dibuat aled atau alas. Wayan Sumatra sendiri biasanya membuat alas itu secara bertahap mulai dari bawah, tengah, dan atas. Setelah alas selesai, kemudian reringgitan itu dijarit. "Untuk menyambungkannya biasanya menggunakan semat, streples maupun benang. Tergantung bahan-bahannya. Kalau ental, biasanya saya menggunakan benang untuk menyambungkan ke alas," imbuhnya.
Setelah reringgitan dipasang, barulah bagian-bagian itu disambung, sehingga konsep Tri Bhuana menjadi lengkap dari atas sampai bawah. Proses ini belum selesai. Setelah itu, pinggiran Lamak kemudian diisi reringgitan ganggong, dan terakhir di sibeh (pinggiran) supaya lebih rapi. Di bagian atas, ditambahkan jejaitan dengan ujung runcing (trujungan), yang nantinya ujung runcing itu dimasukkan ke palinggih atau sanggah, sehingga Lamak menjuntai. Kalau Lamak yang panjangnya sampai 6 meter, lanjutnya, butuhkan waktu sampai lima hari bila dikerjakan sendirian.