Nama belakang Kei memang ngetop di negeri ini. Tak lepas dari sosok John Kei yang dikenal ganas di ibukota Jakarta, belakangan heboh lagi kasus penyerangan pasukan John Kei ke pamannya Nus Kei. Satu nyawa melayang dalam kasus ini. Ternyata Suku Kei ada kaitannya dengan Bali.
ADALAH Suku Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Konon, leluhur orang Kei berasal dari Desa Pedawa. Salah satu Desa Bali Mula di Kecamatan Banjar, Buleleng.
Bali Express (Jawa Pos Group) pun melakukan penelusuran ke Desa Pedawa terkait hubungan kekerabatan antara Suku Kei dengan Pedawa, Jumat (26/6) siang. Koran ini mendapat penjelasan dari tokoh masyarakat desa setempat, Wayan Sukrata, 66.
Ditemui di rumah adat Pedawa yang berlokasi di Dusun Desa, Wayan Sukrata menyebut, tahun 2018 lalu Bupati Maluku Tenggara Anderias Rentanubun berkunjung ke Pedawa bersama rombongan untuk menelusuri jejak leluhurnya di Bali. Kesimpulan sementara, diyakini Suku Kei memang berasal dari Desa Pedawa.
Sukrata menceritakan, kunjungan tersebut berawal dari pertemuan budayawan, Sugi Lanus dengan orang-orang dari Kepulauan Kei, Maluku Tenggara di Denpasar. Kehadiran orang Kei yang merupakan utusan dari Pemkab Maluku Tenggara bertujuan untuk menelusuri jejak leluhurnya di Bali.
“Sudah beberapa desa dikunjungi oleh rombongan dari Kei itu, tetapi belum mantap. Akhirnya Bapak Sugi Lanus mengajak mereka ke Pedawa,” ungkap Sukrata kepada Bali Express di kediamannya.
Sebelum ke Pedawa, rombongan Suku Kei sempat diantar oleh Sugi Lanus ke daerah Tamblingan, Kecamatan Banjar. Mengingat, cerita dari orang-orang Suku Kei itu, rumah yang dikeramatkan namanya Ring Tambling.
“Pada waktu itu rombongan datang sore. Nah ada salah satu orang dari rombongan yang umurnya sudah tua, terharu ketika memasuki rumah Adat Bandung Rangki ini. Mengingat seperti rumah yang dikeramatkan bernama Ring Tambling di Kei, hampir sama bentuknya dengan rumah Bandung Rangki di Pedawa,” terangnya.
Lanjut Sukrata, orang tua itu juga merasa bahwa ada getaran secara spiritual yang kian menguatkan adanya hubungan antara Pedawa dan Suku Kei. Selanjutnya rombongan dari Maluku Tenggara, dipimpin Bupati Anderias Rentanubun pun mengunjungi Pedawa.
Rentanubun, sebut Sukrata, menyampaikan bahwa banyak persamaan antara orang-orang Pedawa dengan orang-orang dari Kepulauan Kei. “Kemudian ada pendeta kemari. Menurut pengamatan secara rohani, beliau leluhurnya dari sini (Pedawa). Bahkan dari penjelasannya yang bereinkarnasi, neneknya konon berasal dari Pedawa,” imbuhnya.
Dari penjelasan Pendeta tersebut, menurutnya, leluhurnya bernama Dewa. Secara kebetulan, Sukrata menyebut jika leluhur orang Pedawa juga disebut Dewa. “Jadi kami tidak akan mau menyebut nama lengkap, karena pantang menyebut lengkap jika tidak ada upacara. Itulah leluhur orang Pedawa,” akunya lagi.
Dari rombongan itu, Sukrata juga mendengar bahwa tatanan sosial di Suku Kei yang lazim disebut Hukum Adat Larvul Ngabal diduga dibawa oleh perempuan Bali, disebut-sebut bernama Nendit Sakmas. Dalam hukum adat tersebut mengatur tentang pelanggaran terhadap tindakan kejahatan, tata krama pergaulan antara pria dan wanita serta mengatur hak kepemilikan seseorang atau kelompok.
“Kalau di Kepulauan Kei, jika ada yang mengganggu wanita, bisa terjadi pertumpahan darah. Sama juga seperti di Pedawa. Kalau wanita Pedawa diganggu, maka bisa terjadi pertumpahan darah,” tuturnya.
Pun dengan masalah hak kepemilikan seperti lahan, kebun, hewan ternak, kalau di Pedawa dikenal dengan istilah sawen (tanda). “Jika di Kei ada yang menaruh benda di jalan, ditaruh penanda maka tidak boleh diganggu. Sama juga seperti di Pedawa, kalau sudah ditaruh sawen, maka hak kepemilikan tidak boleh diganggu gugat.” jelasnya.
Kalau urusan makanan, di Kepulauan Kei makanan pokoknya sagu. Pun dengan masayarakat di Pedawa, juga ada makanan Enau yang bisa menghasilkan sagu. Kemudian jagung gembal, jali, ubi jalar, juga sama antara di Pedawa dan Kepulauan Kei.
Dalam bidang tata ruang, Sukrata menyebut, di Kepulauan Kei juga ada empat pintu masuk wilayah desa. Hal serupa juga bisa temukan di Pedawa yang dikenal dengan istilah Ngempat. Dianggap sebagai penjaga di empat penjuru, sama seperti di Kei.
Bentuk rumah adat antara Suku Kei dengan warga Bali Aga di Desa Pedawa juga sangat mirip. Dari segi arsitektur, konon rumah adat keduanya memiliki kemiripan. Rumah adat sama-sama membelakangi jalan raya. Seluruh aktivitas keseharian seperti memasak dan bersembahyang juga dilakukan di dalam rumah.
Editor : Chairul Amri Simabur