TABANAN, BALI EXPRESS-Dewata Nawa Sanga adalah dewa-dewa menurut ajaran Hindu Bali yang menguasai sembilan penjuru mata angin. Dewa-dewa tersebut juga memiliki senjata khusus.
Senjata itulah yang diaplikasikan dalam bentuk jejaitan yang dipergunakan umat Hindu Bali dalam setiap upakara, terutama upacara Dewa Yadnya.
Dimulai dari arah utara dengan Dewa Wisnu bersenjatakan Cakra. Kemudian berturut-turut sesuai arah jarum jam, yaitu Dewa Sambhu di arah timur laut dengan senjata Trisula. Di timur Dewa Iswara dengan senjata Bajra.
Di tenggara Dewa Maheswara dengan senjata Dupa. Di selatan Dewa Brahma dengan senjata Gada. Di barat daya Dewa Rudra dengan senjata Moksala. Di barat Dewa Mahadewa dengan senjata Nagapasa. Di barat laut Dewa Sangkara dengan senjata Angkus atau Duaja, dan di tengah Dewa Siwa dengan senjata Padma.
Serati atau pembuat banten (upakara) asal Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Desak Made Rai Hartini, 62, menjelaskan, pembuatan lis senjata tersebut sesuai dengan Desa Kala Patra setempat.
Lis Senjata yang paling umum dibuat dan digunakan adalah Lis Senjata Lima Warna, yang terdiri Nagapasa, Cakra, Padma, Gada, Bajra, yang mengimplementasikan arah barat, utara, tengah, selatan dan timur.
“Kalau disini (di Samsam), untuk membuat Lis Senjata lima warna pakai tiga lembar janur. Tapi lumrahnya memang memakai tiga janur,” imbuh Desak Made Rai Hartini kepada Bali Express (Jawa Pos Grup) beberapa waktu lalu.
Ditambahkannya, Lis Senjata lima warna ini difungsikan untuk kegiatan, seperti piodalan alit, ngulap ngambe, otonan, dan lain-lain, yang termasuk upakara kecil. Lis Senjata lima warna ini dibuat dalam satu janur utuh, yakni janur nyuh gading.
Kenapa hanya lima senjata?Dipaparkannya, selain tujuan Lis Senjata ini dipergunakan dalam banten prayascita, mantram dari prayascita hanya menyebutkan lima aksara suci, yaitu Sa, Ba, Ta, A, dan I.
Lima aksara suci tersebut merupakan aksara milik dewa-dewa penguasa lima arah mata angin. Dewa Iswara (Timur) aksara sucinya Sa. Dewa Brahma (Selatan) aksara sucinya Ba. Dewa Mahadewa (Barat) aksara sucinya Ta. Dewa Wisnu (utara) aksara sucinya A dan Dewa Siwa (tengah) aksara sucinya I.
Namun beda lagi dengan Lis Senjata sembilan Warna. Lis Senjata ini termasuk yang lengkap dan sering dipergunakan dalam upacara yang lebih besar, seperti padudusan alit, contohnya piodalan agung. Dalam pembuatannya, Lis Senjata sembilan warna itu dipisah-pisah, mulai dari Cakra hingga Angkus.
Berbeda dengan lis yang dibuat utuh dalam satu janur atau Lis Senjata lima warna, Lis Senjata sembilan warna ini dibuat secara terpisah atau satu-satu. Bahkan, untuk bahan utama, janur memakai kelapa yang berbeda-beda.
Untuk janur yang dibutuhkan dalam pembuatan Lis Senjata sembilan warna itu, seperti membuat Nagapasa yang menggunakan busung nyuh gading. Kemudian Cakra menggunakan busung nyuh gadang. Padma dibuat dari busung sudamala. Gada dari busung nyuh udang atau busung nyuh barak, dan Bajra memakai busung nyuh bulan.
Setelah semua selesai dibuat, lalu digabung jadi satu. Penempatan pun tidak boleh sembarangan, dan mengacu sesuai arah mata angin senjata itu. “Biasanya bahan-bahannya, yakni janurnya itu saya membeli ke yang punya kelapa. Tapi kadang ambil juga di tegalan sendiri,” sambung Desak Made Rai Hartini yang sudah menjadi Serati selama 30 tahun.
Tapi, jika dalam upacara besar seperti Ngenteg Linggih, Lis Senjata itu tetap berjumlah sembilan, tapi tambahan jejaitannya lebih banyak dan beragam. Seperti siku, entud, tangkar, ancak, bingin, basang pradnyan.
Kemudian ditambah alas yang berisikan sabuk, sat-sat, tatak gelung, dingding payung dan lainnya. Baru digabungkan jadi satu, dan dimasukkan ke bale gading.
Lalu, bagaimana proses pembuatannya? Selain janur sebagai bahan utama atau yang lumrah digunakan. Ibung juga bisa digunakan, hanya saja, jika memakai ibung, diakui Desak Made Rai, terbilang rumit. Karena harus membentuknya dengan seksama dan diberikan semat, streples atau diikat supaya lebih terlihat. “Kalau pakai janur lebih mudah,” bebernya.
Panjang dari Lis Senjata juga beragam. Tergantung si pembuat. Versi Desak Made Rai, biasanya ia membuat Lis Senjata dengan panjang kurang lebih 60 cm, visualisasi dari senjata itu dibuat di tengah-tengah. Kemudian dibawah atau atasnya dibuatkan reringgitan.
“Kalau Lis Senjata lima warna, biasanya saya tidak isi reringgitan. Setelah jejaitan pertama, langsung disambung membuat jejaitan senjata di atasnya,” imbuhnya.
Untuk proses pembuatan juga tergantung si pembuat. Bagi yang sudah paten, biasanya kurang lebih lima menit. “Semua tergantung kebiasaan dan seni dari jejaitan si pembuat. Yang terpenting adalah makna dan tujuannya tetap sama,” pungkas Desak Made Rai.
Editor : Chairul Amri Simabur