Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngarapuh Bersihkan Rumah Sekala Niskala Sebelum Ditempati

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 4 September 2020 | 18:40 WIB
Ngarapuh Bersihkan Rumah Sekala Niskala Sebelum Ditempati
Ngarapuh Bersihkan Rumah Sekala Niskala Sebelum Ditempati


DENPASAR, BALI EXPRESS-Di Bali, membuat tempat tinggal tidaklah segampang yang dikira, khususnya warga Hindu Bali. Bahkan, setelah tempat tinggal jadi, tidak bisa langsung didiami begitu saja. Dibutuhkan upakara khusus agar tempat tinggal bisa nyaman  ditempati. 


Ada prosesi upakara khusus yang mesti  dilakukan, sebelum mendiami rumah, seperti Ngarapuh, Mamakuh serta Mlaspas. Terkait Ngarapuh, disebutkan upacara ini merupakan persembahan suci yang sesuai ajaran Panca Yadnya mengarah ke Bhuta Yadnya.


Menurut Ida Mangku Satria I Dewa Nyoman Muliarta, 52, Ngarapuh merupakan pengalihan fungsi dan status lahan, baik itu secara sekala maupun niskala. Ngarapuh juga tergolong tahapan awal, karena si pemilik rumah memang terkendala dengan biaya.


“Dalam Pangrapuhan itu ada namanya banten Sapuhau Jagrasatru. Sapuh artinya menyapu. Au berarti abu, debu atau kotoran. Jagrasatru artinya menjaga musuh. Yang dimaksud musuh yang dijaga tersebut secara sekala dan niskala, supaya tidak masuk ke rumah," urai pria yang tinggal di Desa Samsam, Kerambitan, Tabanan, kemarin.


Jadi, banten Sapuhau Jagrasatru berarti upakara untuk segala bangunan yang berdiri di atas Ibu Pertiwi (tanah), untuk menghilangkan pamali atau kotoran secara niskala.


Selain itu, Ngarapuh juga berfungsi mengembalikan fungsi lahan. "Jika sebelumnya tanah bangunan adalah persawahan, dikembalikan fungsinya ke alam sunia, yakni ke Bhatari Sri sebagai Dewi Kesuburan. Karena nantinya sebagai rumah atau tempat tinggal,” imbuh Ida Mangku.


Setelah dirapuh, lanjutnya, rumah  sudah boleh ditempati, karena  segala energi negatif sudah dibersihkan. Apalagi, ada kepercayaan jika sebelum menginjak Hari Raya Galungan, rumah wajib dirapuh.


“Jadi, pada saat Hari Raya Galungan, tiga bhuta sakti  turun ke dunia. Jika rumah belum dirapuh, dikhawatirkan bhuta akan ngarebeda atau mengganggu dan membuat atmosfer rumah menjadi tidak bagus. Selain itu, setelah Hari Raya Galungan, selama 35 hari, menurut kalender Bali, juga tidak ada dewasa ayu (hari baik) lagi,” beber Ida Mangku yang memiliki tiga putra dan satu cucu ini.


Setelah dirapuh, masih ada upakara lagi, yakni Mamakuh. Mamakuh bertujuan merekatkan atau membuat kokoh. Setelah Mamakuh, baru melakukan pamlaspasan (Dewa Yadnya).


“Banten Ngarapuh ini termasuk upakara menengah. Tapi, jika langsung melaksanakan Pamlaspasan, keduanya sudah termasuk. Tapi kembali ke soal biaya juga,” imbuhnya.


Dalam upacara Ngarapuh itu, terdapat juga pelaksanaan Ngaruak ditambah dengan banten khusus, dimana ada tiga unsur yang menjadi dasar untuk membuat bangunan baru.


Adapun tiga unsur itu, kata Ida Mangku Satria Dewa Nyoman Muliarta, adalah citak (bata merah) yang dibungkus kain kasa marajah Bedawang Geni masastra Ang. Lalu lingga masastra Mang, dan batu masastra Ung.


Nantinya tiga unsur itu menjadi dasar perumahan yang bermakna pertemuan antara Lingga dan Yoni. Nantinya, banten itu ditanam di sudut rumah di arah utara-timur.


“Fungsi banten Ngaruak ini adalah sebagai pengganti atau pengembalian kehidupan. Jadi, sebelum dijadikan tempat tinggal, terdapat sebuah kehidupan daulunya, entah itu tumbuhan atau makhluk hidup lainnya. Di banten ini juga ditambah dengan ayam kecil,” tuturnya.


Selain banten, ada juga tambahan pemasangan ambu di pekarangan rumah yang dirapuh. Ambu, salah satu dari kelabang (ulat-ulatan) yang berfungsi sebagai penolak bala. “Prosesi ngantebang banten kurang lebih sampai satu jam,” pungkasnya.



 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya