Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Atasi Seks Terlarang dengan Meditasi Pamutus Semara

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 29 September 2020 | 16:39 WIB
Atasi  Seks Terlarang dengan Meditasi Pamutus Semara
Atasi  Seks Terlarang dengan Meditasi Pamutus Semara

TABANAN, BALI EXPRESS-Asmara terlarang atau perilaku seks menyimpang dalam ajaran Kanda Pat disebut dengan Agamia Gamana. Jika di suatu desa pakraman ada orang yang melakukan asmara terlarang, maka desa tersebut menjadi leteh (kotor) sehingga perlu disucikan kembali dengan banten Prayascitaning Gumi.


Menurut Ketua Cabang Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata, Dr. Ngurah Bagus, S.Si., M.Si, Senin (28/9), yang termasuk asmara terlarang, antara lain adalah Salah Timpal, yaitu melakukan hubungan seksual dengan binatang, seperti sapi, babi, anjing, dan sebagainya. 


Kemudian ada Gamia Gamana atau incest, yaitu melakukan hubungan intim dengan keluarga dekat, seperti bapak dengan anak perempuan, ibu dengan anak laki-laki, dan sebagainya. 


Ada juga Panguman-Uman, yaitu mengadakan kegiatan percintaan di tempat suci, seperti Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Kawitan, dan sebagainya. Ada yang dinamai Nyolong Semara atau perselingkuhan, yaitu hubungan intim di luar ikatan suami istri. 


"Adapun contohnya adalah arabining wong arabi, yaitu berhubungan intim dengan wanita yang masih terikat perkawinan atau dengan wanita yang masih bersuami. Arabining kanyaka wong len, yaitu berhubungan intim dengan anak gadis orang lain," paparnya.


Selanjutnya ada Angrusak Kanyaka, yaitu berhubungan intim dengan gadis yang belum menikah, yang sifatnya memaksa atau memerkosa. Lalu, ada Sira Apadu Muka, yaitu hubungan seksual sejenis antara wanita dengan wanita atau lesbian. Ada juga Sira Magait, yaitu hubungan seksual sejenis antara laki-laki dengan laki-laki atau gay.


Kemudian Kakung Jaruh, yaitu laki-laki tua yang senang mengganggu istri orang atau anak gadis orang dengan berbagai cara. Ada juga Wadon Jaruh, yaitu wanita tua yang suka mengganggu suami atau anak perjaka orang lain dengan berbagai cara. Selanjutnya Kama Kumara atau pedofilia, yaitu orang dewasa yang berhubungan intim dengan anak-anak kecil.


Ada lagi Kama Kunangkangin Silit atau anal seks, yaitu pria berhubungan intim melalui pantat bukan kemaluan. Kamaning Layon, yaitu berhubungan intim dengan orang yang sudah meninggal atau layon. Kama Taru Tumuwuh, yaitu berhubungan intim dengan pohon-pohonan. Samar Gamana, yaitu berhubungan intim dengan wong samar. "Dan, masih banyak lagi yang lainnya," lanjutnya.


Lebih lanjut dijelaskannya, dalam Kanda Pat Madukama ada meditasi yang mampu mengatasi masalah asmara terlarang tersebut, yaitu Meditasi Pamutus Semara. "Ada empat keistimewaan dari Meditasi Pamutus Semara ini," tegasnya.


Yang pertama, memutuskan ikatan rasa cinta dari orang yang terlibat asmara terlarang atau perilaku seks menyimpang tersebut, sehingga mereka tidak akan saling menyintai lagi atau tidak akan mengulangi perilaku seks menyimpangnya.


Yang kedua, menyembuhkan mereka yang terlibat asmara terlarang atau perilaku seks menyimpang. Misalnya, wanita lesbian atau wanita yang menyukai wanita akan menjadi wanita normal, yaitu wanita yang menyukai laki-laki. Lelaki yang menyukai lelaki atau gay akan menjadi lelaki normal, yaitu lelaki yang menyukai perempuan, dan masih banyak contoh yang lainnya. 


Yang ketiga adalah menyucikan kembali orang-orang yang terlibat dalam perilaku seks menyimpang tersebut. Dan, yang keempat, menyucikan kembali desa pakraman, yang kekuatan penyuciannya setara dengan banten Prayascitaning Gumi.


Untuk menghindari terjadinya perilaku seks yang menyimpang, maka dianjurkan agar membekali anak-anak dengan pengetahuan seks yang memadai, sebagaimana yang terdapat dalam Pustaka Upasthanigraha dan Pustaka Bhaganigraha. 


"Pustaka Upasthanigraha mengandung ajaran tentang pengendalian nafsu kejantanan laki-laki, sedangkan Pustaka Bhaganigraha mengandung ajaran tentang tuntunan pengendalian nafsu kewanitaan," tandas pria yang juga akrab disapa Gus Japa.  

Editor : I Komang Gede Doktrinaya