Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Budha Kecapi, Kalimo Usadha-Usadhi, Panduan Pengobatan Sekala-Niskala

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 15 Desember 2020 | 17:16 WIB
Budha Kecapi, Kalimo Usadha-Usadhi, Panduan Pengobatan Sekala-Niskala
Budha Kecapi, Kalimo Usadha-Usadhi, Panduan Pengobatan Sekala-Niskala

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pengaruh ilmu kedokteran modern memberikan gambaran hasil pengaruh timbal balik antara pengetahuan modern, penyembuhan cara tradisional dan kepercayaan yang sudah berlangsung ribuan tahun. 


Hasil percampuran pengetahuan akan pengobatan yang ada di Bali dengan pengaruh Hindu digunakan kalangan praktisi Balian usadha Bali, dan itu dapat dibaca dalam berbagai literatur lontar usadha (pengobatan) yang ada di Bali. 


Usadha tentang pengobatan dan jenis penyakit dinyatakan di Lontar Budha Kecapi dan Lontar Kalimo Usadha & Kalimo Usadhi. Lontar-lontar itu memuat hal-hal dasar tentang asal mula ilmu balian, peraturan-peraturan mengenai tingkah laku seorang balian, dan keterangan tentang hakikat penyakit.


Kalimo Usadha memberi gejala-gejala yang cermat tentang mati dan hidup. Artinya, apakah seseorang yang sakit dapat disembuhkan atau akan meninggal. Sementara Budha Kecapi sangat berhikmah dan memberi keterangan tentang kekuatan yang sakit dalam tubuh, tentang penyakitnya dan tentang sesajen yang akan dipersembahkan pada waktu menangani si sakit.


Menurut Pembaca Lontar Gedong Kirtya, Putu Suarsana, Budha Kecapi adalah seorang yang alim (pradnyan) dan suci. Sedangkan Kalimo Usadha dan Kalimo Usadhi adalah sebagai balian yang dihormati atau memiliki kedudukan yang tinggi. 


“Nama Kalimo-Usadha dalam beberapa tutur dihubungkan dengan lima patah kata yakni Ang Ung Mang Om Ah,” kata Putu Suarsana akhir pekan kemarin.


Lebih jelas hubungan ini dapat dibaca dalam tutur Krakah Sari yang menyebutkan sepuluh kekuatan dalam tubuh diwakili oleh tanda-tanda dari abjad (hanacaraka), dan dibagi dijadikan dua golongan masing-masing berisi lima dan satu dari padanya sesuai dengan tanda-tanda Sa-Ba-Ta-A-I, disebut Kalim-Usadha Lelaki. Sedangkan yang satu lagi Na-Ma-Si-Wa-Ya sebagai Kalim-Usadha Perempuan.


Jika dicari maknanya, Budha berarti budhi atau idep. Kecap berarti rasa atau perasaan, dan Pi sesuai dengan pituwi yang berarti benar. Jadi, Budha Kecapi berarti seorang manusia yang benar-benar merasakan budhinya. 


“Budha sendiri adalah waktu. Ketika kita tidur begitulah sesuai Budha waktu bermeditasi, tiap fungsi panca indra terdiam. Kaca artinya perhatian dan Pi kependekan dari pitara berarti roh. Nah, artinya dalam keadaan tidur kita sama sebagai dalam keadaan matinya tubuh yang kasar dalam kedua peristiwa itu, atma atau roh harus dijaga,” jelasnya. 


Pada umumnya usadha memuat tutur dan mantra-matra pengobatan, terdapat pujian terhadap lontar itu, dengan melihat mempergunakannya secara benar dan digandengkan dengan peringatan. 


Jangan mempergunakannya jika orang tersebut tidak dapat memahami isinya atau jika kepandaiannya belum cukup. 


Dalam lontar itu disebutkan, balian sebaiknya harus teliti sekali memandang orang sakit dan teliti pula memeriksanya. Lontar-lontar itu berisi petunjuk-petunjuk dan resep yang amat banyak ketentuannya.


Segalanya harus diperhatikan dengan baik. Keadaan umum, usia pasien dan bagaimana dia datang ke tempat balian, warna, taraf basahnya atau keringnya penyakit pada kulit, bengkak-bengkak, bisul-bisul dan sebagainya, kulit keluar keringat pada bagian tertentu.Yang sangat penting adalah suhu.


Di lain pihak dalam praktik balian usadha lebih banyak berpedoman pada pandangan sendiri serta berdasarkan pengalaman. 


Ciri-ciri dari kematian yang segera akan tiba, dihubungkan secara mistis dengan ajaran Panca Mahabhuta. “Jika orang mengetahui asal mula tubuh adalah pertiwi, air, api udara, akasa, maka orang dapat mempergunakan pengetahuannya untuk meramalkan masih beberapa lama jarak kematian si pasien,” terangnya.

Editor : I Komang Gede Doktrinaya