SINGARAJA, BALI EXPRESS-Lontar Rare Angon menjadi salah satu rujukan atau sumber mengenai siklus kehidupan atau asal-usul manusia di muka bumi.
Dalam lontar ini dijelaskan sumber kehidupan manusia berasal dari sumber purusa dan pradana atau dari laki-laki dan perempuan. Pertemuan benih laki-laki dan perempuan akan berkembang menciptakan sosok baru.
Pembaca Lontar Gedong Kirtya Singaraja, Buleleng, Putu Suarsana menyebutkan, dalam tutur Rare Angon dikatakan, manusia terjadi karena pertemuan antara Rare Angon dan Rare Cili, lalu keluar Kama Bang atau sel telur. Kemudian bertempat dan berkembang di dalam rahim, disebut dengan Sang Hyang Amretha Sabhuwana.
“Posisinya, mukanya menengadah di waktu malam hari. Itulah sebabnya mengapa si bayi berada di bawah ketika masih di dalam rahim si ibu,” katanya kemarin.
Berdasarka Tutur Rare Angon, janin yang sudah berusia satu bulan dalam rahim bernama Sang Hyang Manik Kama Gumuh. Usia dua bulan bernama Sang Hyang Manik Kama Bhusana. Usia tiga bulan bernama Sang Hyang Manik Tigawarna.
Ketika usia empat bulan disebut Sang Hyang Manik Srigading. Usia lima bulan dinamai Sang Hyang Manik Kembang Warna. Usia enam bulan disebut Sang Hyang Manik Kuthalengis. Usia tujuh bulan disebut Sang Hyang Manik Wimbasamaya. Dan, usia sembilan bulan bernama Sang Hyang Tungtung Bhuwana.
Perkembangan janin sampai menjadi sosok manusia dewasa, maka ada sebuah sumber sastra, yakni Aji Tattwa Ampel Wadhi, yang menyebutkan, ketika si bayi baru lahir, bernama Sanghyang Kawaspadhana.
Selanjutnya ketika diletakkan di tanah bernama Sanghyang Prana Bhuwanakosa. Saat ari-arinya dipotong disebut Sanghyang Naganglak. Ketika pertamakali berdiri disebut Sanghyang Sari Ning. Kemudian, ketika disusui ibunya untuk pertama kalinya dinamai Sanghyang Naghagombang.
Ketika mulai belajar berjalan bernama Sanghyang Melengis. Saat diberikan suwuk atau jimat diberikan nama Sanghyang Tutur Bhuwana. Ketika diemban namanya Sanghyang Seroja namanya. Bila ditempatkan ditempat duduk atau mulai bisa duduk disebut Sanghyang Windhusaka. Ketika disusui dinamakan Sanghyang Bhuta Pranasakti. Waktu disuapi namanya Sanghyang Anantabhoga.
Ketika mulai bisa mengambil atau memegang, maka namanya Sanghyang Kakarsana. Ketika mulai melihat-lihat, namanya Sanghyang Menget. Ketika mulai meraba-raba rambut, maka namanya Sanghyang Nagasesa.
Bila mulai cemburu atau bisa membedakan orang tua dengan orang lain, maka namanya Sanghyang Banyumiri. Ketika bisa duduk, Sanghyang Gana namanya. Mulai berdiri dan mulai memukul-mukul namanya Sang Hyang Tala.
Manakala mulai berjalan, maka namanya Sanghyang Bhuta Gelis. Ketika mulai menyebut nama ayah dan ibu, diberi nama Sang Hyang Tutur Menget. Ketika mulai bisa bermain dinamakan Sang Hyang Ajalila. Dan, ketika si anak mulai bisa memakai pakaian, maka dinamakan Sang Hyang Kumara.
Selanjutnya, ketika baru tahu kata dan bisa berkata-kata dinamakan Sang Hyang Jatiwarna. Kemudian ketika menginjak dewasa disebut Sang Hyang Twas. Saat ia mulai memperlajari sastra dan mengetahui sastra agama, maka ia disebut Sang Hyang Tattwajnana.
Bila mulai bisa melakukan semadi dan mengetahui Weda disebut Sang Hyang Mahawidya. “Jadi, semua itu ada di sastra Aju Tattwa Ampel Wadhi. Sastra ini juga erat kaitannya dengan tutur Rare Angon yang menuturkan siklus kehidupan manusia di duniawi,” lanjutnya.
Selain itu, juga terdapat 14 ritual yang dilakukan umat Hindu yang ditujukan kepada anak dari masa kehamilan hingga meninggal dunia. Ini pun diambil berdasarkan rujukan dari Lontar Rare Angon dan Lontar Gama Dewa.
Pada bagian Manusa Yadnya, terdapat 14 ritual yang harus ditempuh dalam kehidupan manusia. Yang pertama adalah upacara Ngrujak. Ngrujak merupakan upacara yang pertama dilaksanakan bagi seorang wanita yang sedang hamil muda. Upacara ini bertujuan memperkuat kehamilan ibu dan mengurangi risiko keguguran. Juga bertujuan untuk pertumbuhan bayi yang sehat dan aman.
Bahan utama untuk Ngrujak adalah berbagai jenis pisang dan buah-buahan seperti Delima, Pepaya, Mangga, Belimbing, Badung, Kecubung juga Gula Aren (Juruh) dan Madu. Permata Rubby kecil (jika mungkin Delima rubby) kemudian dimasukkan ke dalam campuran buah, diletakkan dalam batil atau gedah yang terbuat dari gelas, kemudian diberkati dengan mantra oleh pendeta.
Yang kedua adalah upacara Magedong-gedongan. Upacara ini untuk seorang ibu dengan usia kehamilan 3-6 bulan. Upacara ini untuk memurnikan dan menjaga keselamatan janin dan ibu, berharap bayi yang akan lahir tumbuh menjadi orang yang baik atau suputra dan memainkan peran penting baik untuk keluarga maupun masyarakat.
Rangkaian upacaranya meliputi suami ditemani istrinya menyiapkan benang hitam, menyiapkan galah buluh. Bambu ini digunakan untuk untuk menumbak daun kumbang (sejenis talas) dibentuk seperti bungkusan dan didalamnya diisi dengan ikan air tawar. Selanjutnya istri menjunjung ceraken, kemudian dipuja mantra oleh pendeta dan pada saatnya tiba, istri kemudian menelan sepasang permata mirah (mirah delima).
Upacara yang ketiga yakni nanem ari-ari. Upacara ini bertujuan untuk memohon permakluman kepada Hyang Ibu Pertiwi dan Hyang Akasa untuk menerima dan berkenan memberikan perlindungan, umur panjang serta keselamatan bagi si bayi.
Ari-ari pertama harus dicuci sampai bersih, dibungkus dengan kain kasa, diisi rempah-rempah, lalu dimasukkan ke dalam kelapa untuk selanjutnya ditanam. Di atas ari-ari diletakkan batu dengan permukaan datar dan pandan berduri, disampingnya ditempatkan baleman (bara api).
Baleman adalah simbol dari pembakar jasad. Lamanya membuat baleman adalah satu bulan tujuh hari (42 hari).
Upacara selanjutnya adalah Kepus Wedel atau Kepus Pungsed. Upacara ini khusus ketika plasenta terlepas dari pusar bayi. Biasanya 5-15 hari setelah bayi lahir.
Dalam kepercayaan orang Bali, Kepus Wedel menandai masuknya kekuatan spiritual Nyama Catur yang akan terus merawat bayi. Ritual yang kelima adalah Mapag Rare. Ritual ini dilakukan ketika bayi berusia 12 hari. Tujuan dari upacara ini adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada Sang Hyang Dumadi (yang lahir kembali), bahwa bayi itu lahir dengan selamat.
Yang keenam adalah Ngeles Kakambuh. Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. Kakambuh (penjaga) digantikan oleh penjaga/pangijeng bayi yang berfungsi sebagai penjaga jiwa bayi, sehingga bayi akan panjang umur, bebas dari rasa sakit dan halang.
Yang ketujuh upacara Nelu Bulanin atau Tiga Bulanan. Upacara ini dilakukan ketika bayi berusia tiga bulan atau 105 hari. Upacara ini bermakna untuk melepaskan pengaruh negatif yang dibawa oleh Nyama Catur atau empat saudara dan pada saat yang sama menyambut kedatangan untur-unsur Panca Maha Butha untuk menyatukan dan memperkuat fisik dan psikologis bayi. Pada upacara ini dipercaya bayi akan diberkati oleh Dewa Raditya atau Siwaditya.
Selanjutnya adalah Ngenem Bulanin atau yang terkenal disebut Otonan atau Ngotonin sebagai ritual kedelapan. Pada upacara ini bayi dimohonkan restu dari Ida Bhatara Pertiwi agar dilimpahkan keharmonisan, kesehatan dan tidak terpengaruh oleh bencana dan hambatan. Pada usia enam bulan bayi diizinkan untuk menginjak tanah untuk pertama kalinya.
Ritual kesembilan yakni ritual Makutang Rambut atau Mapetik. Upacara ini menunjukkan bahwa bayi telah menjadi manusia yang sempurna. Kekotoran atau leteh bayi yang disebabkan proses kelahiran telah sirna. Setelah upacara ini biasanya rambut bayi dicukur habis.
Upacara ini dilakukan ketika bayi berusia enam bulan kalender Bali (210 hari) atau satu oton. Usia aoton dipilih untuk upacara ini karena pada usia ini bayi dianggap telah memiliki sistem kekebalan tubuh yang cukup dan kesehatan bayi dalam tahap yang baik.
Upacara selanjutnya adalah upacara Semayut Maketus Lan Menek Kelih. Setelah anak kehilangan gigi pertamanya, sejak saat itu pikiran anak mulai dipengaruhi oleh Triguna. Seorang anak harus mulai belajar tentang kehidupan dan secara simbolis harus menindik telinganya. Upacara ini disebut Semayut Meketus.
Setelah anak meningkat remaja dan mulai menstruasi ada upacara yang sebaiknya dilakukan untuk memurnikan faktor-faktor negatif yang melekat yang disebut dengan upacara Menek Kelih.
Ritual kesebelas adalah Matatah. Ritual ini hampir sama dengan upacara Menek Kelih. Upacara ini ditujukan kepada seorang anak yang telah berusia 16 tahun atau sudah bisa dianggap dewasa.
Biasanya ritual ini dapat digabung dengan upacara Menek Kelih. Kemudian setelah melaksanakan ritual Matatah, ada ritual Pawiwahan (ritual 12). Upacara ini juga terkadang dilakukan bersamaan dengan upacara Matatah. Upacara pawiwahan ini tujuan utamanya adalah untuk menetralisasi kotoran/cuntaka yang diakibatkan karena adanya pertemuan dua manusia (pria dan wanita).
Ritual ketigabelas adalah Ngaben. Ritual ini masuk dalam Pitra Yadnya. Upacara ini ditujukan untuk keluarga yang telah meninggal. Upacara ini merupakan pengorbanan yang tulus yang ditujukan kepada roh leluhur.
Pada lontar Yama Tattwa, filosofi Ngaben adalah mempercepat pengembalian unsur-unsur Panca Maha Butha ke asalnya. Upacara yang terakhir (14) adalah Atma Wedana. Setelah upacara Atiwa-tiwa upacara terakhir yang dilakukan adalah Atma Wedana. Upacara ini dilakukan untuk memuliakan dan memurnikan roh atau atma untuk dapat bersatu dengan Sang Pencipta.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya