Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Sidakarya, Denpasar; Berawal dari Kisah Brahmana Keling

I Putu Suyatra • Senin, 15 Februari 2021 | 22:36 WIB
Sejarah Desa Sidakarya, Denpasar; Berawal dari Kisah Brahmana Keling
Sejarah Desa Sidakarya, Denpasar; Berawal dari Kisah Brahmana Keling


DENPASAR, BALI EXPRESS - Asal-usul Desa Sidakarya, Denpasar, Bali, yang berkembang di masyarakat adalah berdasarkan bukti tertulis dalam Lontar Sidakarya. Dalam lontar tersebut dikatakan, pada masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong tahun 1480 sampai dengan 1550 yang berkedudukan sebagai Raja Gelgel Klungkung bermaksud mengadakan upacara Nagkluk Merana di Pura Besakih. Tujuannya memohon kemakmuran dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umatnya di bidang pertanian, perkebunan dan lain-lain.



Rencana upacara Nangkluk Merana yang akan digelar di Pura Besakih tersebut rupanya terdengar hingga ke daerah Jawa Timur. Karena itu, seorang brahmana dari Kerajaan Keling yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Dalem Waturenggong merasa perlu datang ke Bali untuk membantu dan ngayah pada upacara tersebut.



Perjalanan dilakukan dari Jawa Timur langsung ke Pura Besakih. Tapi karena perjalanan yang cukup jauh, membuat penampilan dan pakaian brahamana tersebut menjadi lusuh dan kotor.



Sesampainya di Besakih, sang brahmana ini pun langsung menemui penyanggra karya yadnya dan memberitahu maksud dan tujuannya datang ke Besakih untuk bertemu sang raja. Umat yang melihat penampilan lusuh lelaki tua di hadapannya tidak percaya begitu saja, bahwa brahmana tersebut merupakan keluarga Raja Waturenggong.



“Umat waktu itu menganggap lelaki tua itu berbohong hanya untuk meminta makan dengan mengaku sebagai keluarga raja,” cerita Bendesa Adat Sidakarya Ketut Suka.



Sempat terjadi perdebatan yang cukup alot hingga akhirnya sang brahmana diusir. Dengan perasaan jengkel, akhirnya sang brahmana meninggalkan lokasi tersebut, namun sebelum pergi, brahmana itu mengeluarkan japa (kutukan). Sang brahmana bersabda, jika upacara yadnya Nangkluk Merana tidak akan berhasil (tan sida karya) tanpa kehadirannya.



Setelah pergi dari tempat itu, brahmana yang disebut dengan Brahmana Keling itu melanjutkan perjalanan menuju arah barat daya ke wilayah yang tidak jelas terlihat atau hanya terlihat hitam pekat yang disebut Bandana Negara. Bandana Negara ini memiliki arti Bandana yakni badeng atau hitam, dan Negara yang berarti wilayah. Nah wilayah ini sampai sekarang dikenal dengan Badung. Brahmana melakukan perjalan yang cukup jauh hingga menemukan suatu tempat untuk membangun sebuah pasraman untuk tinggal selamanya di Bali.



Sementara itu, persiapan upacara Nangkluk Merana di Pura Besakih telah berjalan hingga mendekati rampung. Hanya saja hal aneh mulai terjadi, persiapan yang dilakukan dengan matang tiba-tiba menjadi kacau. Buah-buah dan banten persiapan menjadi busuk, ternak banyak mati, hasil pertanian diserang hama hingga gagal panen, dan menyebabkan rakyat kelaparan, berbagai penyakit pun mulai menyerang. “Rakyat menjadi bingung dan melaporkan kejadian tersebut kepada raja,” jelas Ketut Suka.



Raja yang juga bingung akhirnya meminta petunjuk kepada pendeta kerajaan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari semedi yang dilakukan dan melalui petunjuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diketahui bencana atau gering itu terjadi karena kutukan dari seseorang. Sang penyanggra karya pun menceritakan beberapa waktu sebelumnya ada seorang lelaki tua lusuh yang datang ingin bertemu dan mengaku sebagai keluarga raja. Hanya karena umat tidak percaya maka lelaki tua itu pun diusir.



Mengetahui cerita tersebut, Raja Dalem Waturenggong memerintahkan patihnya untuk mencari dan menjemput sang brahamana. Setelah mencari dan berpencar, Brahamana Keling ditemukan di daerah Bandana Negara. Sang patih memohon maaf, dan memohon agar Brahmana Keling bersedia ikut untuk menghadap sang raja.



“Karena tujuan brahmana datang ke Bali untuk ngayah pada upacara Nagkluk Merana, maka ia pun bersedia untuk bertemu raja,” katanya.



Sesampainya di puri, raja menanyakan asal usul Brahmana Keling yang notabene belum pernah bertemu dengan raja. Sang Brahmana menceritakan, dirinya merupakan brahmana dari Kerajaan Keling di Jawa Timur yang masih satu garis keturunan dengan Raja Dalem Waturenggong, yaitu Dang Hyang Kayu Manis. Raja meminta jika benar Brahmana Keling masih memiliki satu garis keturunan dengannya, maka Brahmana Keling harus bisa mengembalikan keadaan seperti sediakala.



Jika memang Brahmana Keling bisa mengembalikan keadaan seperti semula, maka raja akan mengangkat brahmana tersebut sebagai saudara dan memiliki kedudukan yang sama dengannya.



Brahamana Keling pun menyetujui permintaan raja dan membuktikan semua yang terjadi atas kehendaknya. Melalui berbagai ritual, Brahmana Keling menunjukkan kawisesan, dan dalam waktu yang sangat singkat ia bisa memulihkan keadaan seperti sediakala. Bencana yang sempat melanda akhirnya hilang, sehingga upacara Nangkluk Merana bisa dilaksanakan. Dari sinilah raja percaya Brahmana Keling tersebut bukan orang sembarangan.



Sejak itulah raja memberikan gelar kepada brahmana tersebut sebagai Dalem Sidakarya. Sabda raja mengatakan, kedudukan Brahmana (Dalem Sidakarya) sama dengan kedudukan raja. Sejak saat itulah, daerah tersebut dinamakan dengan Sidakarya. Nama ini tercetus dari tan sida karya (upacara yang tidak berhasil) menjadi Sidakarya (upacara yang berhasil).



Sang brahmana yang sudah bergelar Dalem Sidakarya pun akhirnya kembali ke pasraman. Hingga saat ini pasraman ini dikenal dengan Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. Tidak hanya memberikan gelar, Raja Waturenggong pun memberikan bhisama kepada rakyat Nusantara apabila melaksanakan yadnya diwajibkan untuk nuur tirta pamuput karya yadnya di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya.



Disamping tirta pamuput juga dilengkapi dengan panca datu yang ketunas di pura tersebut. Pada puncak karya sebagai simbol karya yadnya selesai secara niskala maka diwajibkan nyolahin Topeng Sidakarya.



“Karya Agung yang ada di Bali dan Nusantara diwajibkan nuur tirta penyidakarya di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, dan di akhir karya wajib nyolahin Tari Topeng Sidakarya sebagai pertanda yadnya telah selesai secara niskala,” katanya. Hingga saat ini daerah ini dikenal dengan Desa Sidakarya, yang merupakan bagian dari Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. (win)



Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #denpasar