DENPASAR, BALI EXPRESS - Pura Dalem Prajurit di wilayah Banjar Pagan Kelod, Desa Sumerta Kauh, salah satu pura di wilayah Kota Denpasar yang memiliki sejarah yang cukup unik.
Kisah berdirinya Pura Dalem Prajurit ini berawal dari perjalanan Sri Aji Kepakisan yang melakukan perjalanan suci (tirtayatra) bersama para punggawa kerajaan. Dalam perjalanannya, ia menemukan wilayah yang sangat tepat digunakan untuk beristirahat dan menyatukan diri bersama para punggawa. Di tempat tersebut saat raja dan para punggawa beristirahat, mereka dibentengi prajurit dengan berbagai kasta.
Para prajurit inilah yang melindungi dari berbagai hal yang tidak diinginkan ketika beristirahat, sehingga titik-titik yang dijaga prajurit (pasukan) ini disebut dengan Pagan yang berarti tembok, dan kini dikenal dengan Banjar Pagan Kaja dan Pagan Kelod.
Karena ketaatan dan tanggung jawab dalam mengemban tugas, maka dibangunlah pura sebagai tempat berstananya para prajurit itu, baik yang kelihatan maupun yang tak kasat mata. Pura ini yang hingga saat ini dikenal dengan Pura Dalem Prajurit.
Hingga kini Pura Dalem Prajurit diempon krama yang berada pada generasi kelima sejak pura ini dibangun. Pemangku sekaligus Perbekel Desa Sumerta Kauh Wayan Sentana mengatakan, Pura Dalem Prajurit ini merupakan bala tantara yang mengawal perjalanan suci Raja Sri Aji Kepakisan. Tidak hanya prajurit dalam bentuk manusia dalam dunia nyata, tetapi juga prajurit dalam bentuk niskala (tidak terlihat).
Kepercayaan terhadap keberadaan prajurit ini semakin dirasakan ketika dilaksanakannya piodalan pada Sasih Kaenam dalam kalender Bali dengan dilakukannya upacara Nangluk Merana.
Dalam upacara ini sasuhunan di Pura Dalem Prajurit banyak yang menampakkan wujud dengan adanya karauhan (trance) dari beberapa warga pangempon yang hadir saat itu.
Wujud tersebut dapat dilihat dalam bentuk bala tentara Cina yang berbahasa Cina, ada bala tentara Jepang, dan beberapa pengawal atau prajurit yang berbentuk binatang seperti macang gading, naga gomang, dan binatang lainnya. “Inilah yang semakin meyakinkan kami bahwa disini tempat berstananya para prajurit, baik skala maupun niskala,” ungkapnya.
Pura yang diempon masyarakat Banjar Adat Pagan, Kelandis, dan beberapa wilayah yang ada di Denpasar maupun Gianyar ini, dipercaya sebagai tempat mohon taksu segala taksu, khususnya taksu kesenian, yaitu taksu Tari Legong Kelandis.
Taksu yang paling tersohor dan mendunia pada zaman Belanda adalah taksu Legong Kelandis. Karena semua hal yang berkaitan dengan Palegongan pasti tidak terlepas dari Pura Dalem Prajurit. “Banyak penari yang memohon taksu di Pura ini,” ungkapnya.
Sebagai tempat memohon taksu Palegongan, Pura Dalem Prajurit erat kaitannya dengan maestro Penari Legong Ni Polok yang merupakan salah satu Penari Legong tersohor yang menjadi generasi dari Pura Dalem Prajurit.
Di pura ini tersimpan Gelungan Legong dan gambelan Legong asli yang hanya dipentaskan ketika Ida (sasuhunan) menghendakinya. Tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya Gelungan dan gambelan ini tersimpan.
Yang jelas hingga kini tradisi Tari Legong Kelandis menjadi salah satu warisan budaya yang disakralkan. Bahkan, pementasan hanya dilakukan di Pura Dalem Prajurit oleh anak-anak yang belum mengalami masa akil balik.
“Tidak bisa sembarangan dipentaskan. Jadi, kalau Beliau menghendaki, barulah Tari Legong Kelandis ini kami pentaskan,” paparnya.
Sebagai warisan budaya klasik dan sakral, Wayan Sentana ingin tarian ini diperkenalkan kepada generasi penerus. Sehingga pihaknya membuat duplikat Gelungan maupun Gambelan Legong Kelandis untuk dapat digunakan saat latihan sekaa teruna-teruni. Sebab, pihaknya berharap, jangan sampai karena tarian ini sakral dan hanya dipentaskan pada acara-acara tertentu, membuat generasi muda tidak mengenal seperti apa Tari Legong Kelandis itu.
“Untuk perbedaan, jelas ada perbedaan antara Tari Legong yang disakralkan dan Tari Legong yang digunakan untuk latihan. Tari yang disakralkan tidak boleh ditarikan penari yang sudah mengalami menstruasi. Sedangkan tarian yang digunakan untuk tontotan bisa ditarikan penari yang sudah menstruasi,” jelasnya.(win)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya