Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Calon Pengantin Pantang Melewati Pura Dalem Prajurit

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 1 Maret 2021 | 17:01 WIB
Calon Pengantin Pantang Melewati Pura Dalem Prajurit
Calon Pengantin Pantang Melewati Pura Dalem Prajurit


DENPASAR, BALI EXPRESS-Pura Dalem Prajurit di wilayah Banjar Pagan Kelod, Desa Sumerta Kauh, Denpasar sabgat disakralkan. Ada kepercayaan masyarakat setempat, yang enggan melewati kawasan pura bila mengajak calon pengantin.


Hingga kini warga Desa Sumerta mematuhi pantangan untuk tidak melewati Pura Dalem Prajurit, bila mengajak calon pengantin. Jika pantangan ini dilanggar, maka musibah akan dialami pengantin tersebut. 


Apalagi kejadian ini pernah dialami beberapa pengantin yang tanpa sengaja melewati Pura Dalem Prajururit, yang akhirnya mengalami ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga. Bahkan, meninggal karena kecelakaan. 


Pemangku sekaligus Perbekel Desa Sumerta Kauh Wayan Sentana mengibaratkan, secara sekala keadaan pengantin yang masih dalam proses upacara belum diresmikan dengan upacara secara sekala dan niskala, layaknya pengemudi yang belum memiliki surat lengkap, maka bakal terkena tilang polisi yang berjaga. 


Lantas bagaimana jika pengantin tersebut melanggar secara tidak sengaja? Maka pasangan pengantin tersebut wajib menghaturkan guru piduka (peneduh) untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 


“Percaya atau tidaknya, mungkin saja secara niskala yang tidak terlihat ada prajurit berjaga disana. Yang jelas masyarakat memang sejak dahulu mempercayainya, dari cerita turun-temurun orang tua dahulu untuk digugu (yakini),” pungkasnya. 


Kisah berdirinya Pura Dalem Prajurit ini berawal dari perjalanan Sri Aji Kepakisan yang melakukan perjalanan suci (tirtayatra) bersama para punggawa kerajaan. Dalam perjalanannya, ia menemukan wilayah yang sangat tepat digunakan untuk beristirahat dan menyatukan diri bersama para punggawa. Di tempat tersebut saat raja dan para punggawa beristirahat, mereka dibentengi prajurit dengan berbagai kasta. 


Para prajurit inilah yang melindungi dari berbagai hal yang tidak diinginkan ketika beristirahat, sehingga titik-titik yang dijaga prajurit  (pasukan) ini disebut dengan Pagan yang berarti tembok, dan kini dikenal dengan Banjar Pagan Kaja dan Pagan Kelod. 


Karena ketaatan dan tanggung jawab dalam mengemban tugas, maka dibangunlah pura sebagai tempat berstananya para prajurit itu, baik yang kelihatan maupun yang tak kasat mata. Dan, pura kemudian dikenal hingga kini dengan nama Pura Dalem Prajurit. (win).



Editor : I Komang Gede Doktrinaya