Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nyepi Desa di Tenganan 15 Hari, Pantang Tertawa hingga Menangis

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 18 Maret 2021 | 16:40 WIB
Nyepi Desa di Tenganan 15 Hari, Pantang Tertawa hingga Menangis
Nyepi Desa di Tenganan 15 Hari, Pantang Tertawa hingga Menangis

AMLAPURA, BALI EXPRESS-Warga di Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, punya aturan khusus Nyepi yang berlangsung saat Sasih Kasa. 


Masyarakat adat di salah satu desa Bali Aga itu, memegang teguh kepercayaan untuk tidak tertawa hingga menangis saat melaksanakan Nyepi Desa. 


Berdasarkan penanggalan di desa adat setempat, pelaksanaan Nyepi di Tenganan Pegeringsingan berbeda dengan Nyepi pada umumnya di Bali, yang dilaksanakan tiap awal Sasih Kadasa. 


Nyepi di Tenganan Pegeringsingan berlangsung selama 15 hari. Jadi, hari pertama Nyepi diawali tepat memasuki Sasih Kasa, sampai puncaknya pada Purnama Sasih Kasa.


Beberapa hal yang tak boleh dilakukan selama 15 hari pelaksanaan Nyepi tersebut, salah satunya krama (warga) pantang untuk tertawa. Bukan itu saja, beberapa kegiatan yang pantang dilakukan, seperti memukul kentongan, menumbuk padi, membuat lubang sedalam tangan-siku, menyembelih babi dan ayam. Bahkan, termasuk tidak boleh menangis.


Kelian Adat Pertama Tenganan Pegeringsingan I Wayan Rustana menjelaskan, desa setempat memang melaksanakan Nyepi di waktu berbeda, dari umumnya yang dilangsungkan di hampir semua daerah di Bali. Itu dimulai sehari setelah Tilem Sasih Sadha atau juga disebut saat Pati Panten Sadha.


Selama 15 hari berturut-turut, warga tidak boleh melanggar pantangan yang ditentukan tersebut. Meski Rustana mengakui, tidak ada sanksi adat apapun bagi yang melanggar. Hanya saja krama memaknai tata aturan selama Nyepi adat tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan leluhur. 


“Intinya kami jalankan sebagaimana dari dahulu kami laksanakan. Ini tak berani kami langgar selama 15 hari penuh. Setelah selesai, kami bebas seperti biasa,” ucapnya, Rabu (17/3) sore.


Selama 15 hari itu juga, Rustana menyebut krama desa tidak melakukan ritual khusus, baik di pura maupun di rumah. Namun, ada krama adat yang jumlahnya sekitar 29 orang menggelar sangkepan (rapat) di Bale Agung. 


Krama adat yang ngayah di Bale Agung juga membuat beberapa sarana upacara yang dihaturkan tepat pada puncak Nyepi Adat, Purnama Sasih Kasa di pagi hari.


Rustana menegaskan, 29 krama adat tersebut memang mendapat mandat sebagai pangayah di Bale Agung. Mereka adalah warga yang telah menikah dan menggantikan tugas orang tua mereka sebelumnya. 


“Istilahnya anak-anak yang telah menikah dengan perempuan di Tenganan, mereka ini kemudian yang jadi pangayah di Bale Agung,” kata Rustana.


Kelian Adat Keempat Tenganan Pegeringsingan I Wayan Mudana menambahkan, saat pelaksanaan Nyepi Desa Adat memang berbeda dengan Nyepi pada umumnya. Krama Tenganan hanya pantang melanggar ketentuan yang diatur desa adat. Selebihnya masih boleh dilakukan. 


Namun demikian, pihaknya belum bisa menjelaskan secara gamblang alasan penerapan pantangan tersebut. Yang jelas, tradisi ini sudah ada secara turun-temurun. “Nyepi di desa ini kami laksanakan saat Sasih Kasa selama 15 hari. Kami juga berbeda, tidak ada Ogoh-ogoh seperti saat Nyepi umumnya di Bali. Jadi itu sudah dari dahulu yang kami percayai,” tukasnya. 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya