Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mulang Pakelem Berharap Tak Lagi Ada Musibah di Air

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 3 Mei 2021 | 15:36 WIB
Mulang Pakelem Berharap Tak Lagi Ada Musibah di Air
Mulang Pakelem Berharap Tak Lagi Ada Musibah di Air

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Bali memiliki banyak tradisi. Salah satu tradisi tersebut adalah upacara Mulang Pakelem atau menghaturkan sesajen di tengah laut. Sesajen yang dihaturkan dapat berupa banten maupun hewan. 


Mulang Pakelem adalah bentuk lain pengorbanan umat Hindu kepada Tuhan. Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan memohon dan menjaga keharmonisan alam semesta. 


Pakelem berarti menenggelamkan sesajen (yadnya) di air. Baik air laut, danau, atau kepundan gunung.


Masyarakat Bali percaya bahwa danau dan laut merupakan sumber air yang tentu amat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, tempat ini dianggap sebagai sakral dan tepat untuk pelaksanaan upacara suci tersebut.


Beberapa bukti bahwa Upacara Pakelem adalah upacara warisan leluhur Hindu dapat dilihat dari prasasti dan lontar yang menyebutkan tentang makna atau tujuan upacara tersebut. Salah satunya adalah Prasasti Batur Sakti. 


Pada prasasti ini disebutkan, pada tahun Saka 833, keturunan Raja Sri Ugrasena Warmadewa menyampaikan telah ada perintah dari raja untuk tetap melaksanakan Upacara Pakelem.


Dalam Lontar Bhuana Kertih disebutkan, tujuan upacara ini untuk menghilangkan hama penyakit yang datang dari sumbernya, yaitu laut atau danau. 


Di samping itu, tujuan lainnya adalah untuk memohon kemakmuran dan kesuburan tanah pertanian dan memohon perlindungan dari ancaman bencana alam.


Ida Pandita Dukuh Tri Budha Natha Gni Nanda dari Grya Gde Bajra Sidhi, Banjar Dinas Brongbong, Desa Adat Celukan Bawang mengatakan, Upacara Pakelem sendiri memiliki makna yang berbeda sesuai dengan tujuannya. 


“Kalau pakelem itu bisa untuk memohon dan juga ucapan suksma,” kata dia. Ia pun menambahkan, jika pakelem yang dilakukan menggunakan hewan, maka itu berarti umat hindu meyakini bahwa hewan itu merupakan sebuah pengganti bagi arwah yang tertinggal di tengah laut. Biasanya akan menggunakan sarana berupa hewan yang berwarna hitam. 


“Kalau hewan dilarung ke tengah laut, untuk dijadikan sebuah pakelem itu artinya untuk pengganti atau penukar arwah yang hilang. Arwahnya dipanggil untuk disemayamkan kembali ditempat seharusnya, kemudian diganti dengan pangupah-upah dengan sarana hewan,” ujarnya.


Disinggung mengenai alasan warna dari sarana pakelem tersebut, Ida Pandita Dukuh Tri Budha Natha Gni Nanda menyebut, warna hitam adalah warna dari Dewa Wisnu. “Kenapa warna hitam semua, karena penguasa laut dalam hal ini Dewa Wisnu berada di laut, dan warna beliau adalah hitam. Hitam itu adalah wujud dari air, sebagai pangurip segala kehidupan,” jelanya.


Dengan menghaturkan pakelem, masyarakat Bali percaya kedepan tidak akan lagi terjadi sebuah bencana. Sebab bencana yang telah terjadi, telah ditebus dengan menghaturkan pakelem dengan cara melarung sesajen ke tengah laut atau danau. Sesajen yang dilarung tersebut dapat berupa banten suci ataupun hewan kurban. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #binatang #hindu #tradisi