DENPASAR, BALI EXPRESS - Masyarakat Hindu Bali sangat percaya dan meyakini cerita-cerita mitologi yang berkembang di masyarakat. Cerita mitologi diyakini cepat dan tepat sebagai media dalam penyampaian atau transformasi filosofi pada zaman dahulu. Salah satu mitologi yang berkembang dan diyakini hingga saat ini adalah sejarah Ngerebong yang merupakan salah satu tradisi unik dari Desa Adat Kesiman, Denpasar.
Secara etimilogi Ngerebong merupakan kegiatan spiritual religi yang memiliki kata kunci Ngereh yang berarti memerintah. Tradisi Ngerebong dilakukan di Pura Agung Petilan dengan tiga rangkaian yaitu Pangebekan, Pamagpagan atau Pamendakan, dan Ngerebong itu sendiri.
Menurut Wakil Bendesa Adat Kesiman I Gede Anom Ranuara, tradisi Ngerebong telah ada sejak tahun 1925. Tradisi ini berawal dari kisah Raja Kesiman Gusti Ngurah Kesiman yang melakukan ekspansi ke Sasak Lombok. Pada ekspansi pertama Kerajaan Kesiman mengalami kekalahan dalam melawan Kerajaan Sasak Lombok. Rombongan Kerajaan Kesiman Kembali ke Bali lalu Menyusun strategi untuk melakukan ekspansi yang kedua. Sebelum melakukan ekspansi kedua, Raja Kesiman melakukan ritual untuk memohon anugerah ke Pura Uluwatu. Dari ritual tersebut, Raja Kesiman diberi anugerah sebuah keris yang selanjutnya digunakan untuk memperlancar penyerangan ke Kerajaan Sasak Lombok. Berbekal keris tersebut akhirnya Kerajaan Kesiman berhasil menaklukkan Kerajaan Sasak.
Meski berhasil ditaklukkan, Kerajaan Sasak belum mau menyerahkah daerah kekuasaannya. Pihaknya kembali melakukan banding dan menantang Kerajaan Kesiman untuk melakukan adu jangkrik. Tanpa berpikir panjang, Raja Kesiman pun menyanggupi karena berpikir bahwa tantangan tersebut adalah adu jangkrik biasa. Padahal jangkrik yang digunakan oleh Kerajaan Sasak adalah jangkrik siluman. Hal ini lantas membuat Kerajaan Kesiman menelan kekalahan.
Berbekal emosi yang membara, Raja Kesiman akhirnya kembali ke Bali dan memohon anugerah ke Pura Uluwatu. Sebelum permohonan anugerahnya dikabulkan, Raja Kesiman pun harus menyetujui syarat yang diajukan yang berbunyi “Wanen sing Cening Ngerehang Lemah? (Beranikah engkau memerintah wilayah ini).”
Jika diungkap semiotika Ngerehang berarti memerintah sedangkan Lemah berarti tanah atau wilayah. Namun karena masih diselimuti oleh amarah, tanpa berpikir panjang Raja Kesiman akhirnya menyetujui syarat yang diajukan Ida.
Sesudah menyanggupi syarat yang diberikan, Raja Kesiman diminta mengambil kilian jangkrik di pesisir Jimbaran, tepatnya di Pura Muaya. Sementara untuk sadek jangkrik, Raja Kesiman diminta memohon di Pura Dalem Kesiman. Selain dianugerahi sadek jangkrik, di tempat itu Raja Kesiman juga dianugerahi Jepun (Kamboja) putih. Raja Kesiman pun kembali ke Kesiman Kertelangu untuk mengambil Jangkrik Banaran (jangkrik kuning berbulu putih).
Setelah segalanya disiapkan, Raja Kesiman kembali ke Sasak untuk melakukan adu jangkrik. Sebelum pertandingan dilakukan, kedua belah pihak melakukan kesepakatan, yaitu jika Kerajaan Kesiman menang, maka semua muslim (Bugis) yang berada di Sasak harus ikut dan tinggal ke Kesiman. Begitu juga sebaliknya, ketika Kesiman kalah maka wilayah Kesiman harus diserahkan ke Sasak.
Saat diadu, Jangkrik Banaran berubah menjadi banaspati dalam wujud barong, dan berhasil mengalahkan jangkrik Kerajaan Sasak. Karena Kerajaan Sasak kalah, maka iapun harus menepati janjinya, sehingga semua masyarakat yang beragama muslim atau yang dikenal dengan Bugis diserahkan ke Kerajaan Kesiman. Hingga kini masyarakat Bugis tinggal di Kesiman dan menjadi Agama Hindu, sedangkan beberapa sudah menyebar ke beberapa daerah seperti menjadi masyarakat Bugis di Serangan.
Anom Ranuara yang juga budayawan ini mengatakan, setelah masa kejayaan Kerajaan Kesiman melawan Sasak dalam adu jangkrik, peristiwa itu sempat terjeda karena Perang Puputan.
Setelah keadaan aman, barulah keturunan Uluwatu terus menanyakan perihal jangkrik yang pernah dianugerahkan kepada Raja Kesiman. Karena terus ditanyakan, maka Raja Kesiman membuat visualisasi Jangkrik Banaran Petak tersebut dalam bentuk barong yang disimpan di Pura Dalem Puri Kesiman dan melakukan tradisi Ngerebong sebagai bentuk visualisasi dari Jangkrik Banaran Petak di merajan Agung Puri Kesiman Petilan.
Sejak tahun 1925 mulai dilakukan persiapan-persiapan untuk meresistensi Tradisi Ngerebong di bawah pemerintahan Distrik Kumbawa Kesiman. Pada tahun 1937 dibangunlah Pura Agung Petilan dengan tujuan untuk meresistensi Ngerebong dan sejak saat itu tradisi Ngerebong dilakukan di Pura Agung Petilan yang sebelumnya dilakukan di Pura Dalem Puri Kesiman. Boleh dikatakan bahwa Pura Petilan ini merupakan monumental pelestarian system pemerintahan raja-raja, karena apapun ritual yang dilakukan, masih memakai system keraton. Ada yang disebut Ratu Agung, Pamayun, dan lainnya.
Inilah cerita mitologi yang menjadi cikal bakal tradisi Ngerebong. Hingga kini tradisi ini yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali, khususnya oleh masyarakat yang ada di Desa Kesiman, Denpasar. Tidak hanya itu, tradisi ini juga menjadi daya tarik lain para wisatawan.
Pada saat tradisi Ngerebong diadakan, dipercaya para dewa sedang berkumpul. Tradisi Ngerebong akan diadakan setiap 6 bulan sekali sesuai dengan penanggalan Bali, yaitu setiap 8 hari setelah Hari Raya Kuningan, pada hari Minggu/ Redite Pon Wuku Medangsia. (win)
Editor : Nyoman Suarna