Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Isyarat Bila Pohon Dapdap Sanggah Kamulan Mati

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 18 Juni 2021 | 15:47 WIB
Ini Isyarat Bila Pohon Dapdap Sanggah Kamulan Mati
Ini Isyarat Bila Pohon Dapdap Sanggah Kamulan Mati

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Tak hanya unik secara struktur, Sanggah Kamulan di Desa Les, Tejakula, Buleleng yang mesti dibuat dari pohon Dapdap.


Masyarakat Desa Les juga meyakini jika sampah pohon Dapdap pada Sanggah Kamulan tersebut tidak boleh dibuang sembarangan. Bahkan tidak boleh dipakai makanan sapi, apalagi dibakar. Melainkan harus dibuang ke kebun.


Kelian Desa Adat Les, Made Adiarta mengatakan, jika dilanggar, maka diyakini dapat mengakibatkan sakit berkepanjangan. Demikian juga bekas-bekas Sanggah Kamulan harus dibiarkan membusuk sendiri, karena pohon Dapdap sebagai bahan Sanggah Kamulan ini disakralkan yang pada waktu mulai, maupun setelah selesai pembuatannya melalui ritual.


Sampah yang berasal dari batang pohon Dapdap yang lapuk ini tidak sama dengan sampah di kebun. Sebab sampah Sanggah Kamulan ini diupacarai, sedangkan sampah kebun tidak. 


Jika satu tiang sanggah yang berasal dari pohon Dapdap ini mati, maka berarti panyungsung kehilangan Bhatara Sri, dan segera harus diganti, diikuti upacara Mrebu atau pembersihan.


Kalau dua tiang pohon Dapdap ini mati, berarti panyungsung kehilangan Bhatara Indra (hujan). Apabila tiga tiang mati, itu berarti panyungsung kehilangan Bhatara Guru. Untuk mengembalikannya harus dengan upacara Ngulapin.


“Kalau keempat tiang mati, ini berarti Bhatara Yama akan turun untuk menghukum. Keadaan ini harus dilakukan upacara pangulapan,” bebernya.


Lalu, bagaimana dengan Warga Les yang tinggal di luar desa? Adiarta mengatakan, setiap warga Les wajib hukumnya membangun Sanggah Kamulan dari pohon Dapdap. Meskipun warga Les ada yang berdomisili di luar Les. 


“Sanggah Kamulan mereka tetap memakai pohon Dapdap sebagai bahan sanggah. Sekali pun rumahnya permanen,” tegasnya.


Hal ini terjadi karena kuatnya keyakinan masyarakat Les itu terhadap Sanggah Kamulan yang terbuat dari pohon Dapdap. Kuatnya keyakinan mereka menjadi semakin kekal setelah ada beberapa penduduk Les yang tinggal di Denpasar membuat Sanggah Kamulan yang bukan dari pohon Dapdap mengalami gangguan penyakit.


“Demikian juga yang membuat sanggah berukir. Ternyata setelah ditanyakan ke orang pintar disuruh untuk membuat sanggah seperti di tempat asal. Hasilnya penyakit mereka sembuh. Inilah yang tersiar luas ke masyarakat Les, sehingga keyakinan mereka semakin tebal,” ungkapnya.





Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #pura #tradisi #buleleng