SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Bila Kecamatan Kubutambahan merupakan salah satu desa tua yang ada di Buleleng Timur. Desa ini pun menyimpan beberapa fakta unik dan sacral. Salah satunya adalah Pura Taman atau Pura Pingit. Pura ini terletak di pinggir sungai, di seberang Tukad Daya dari pembangunan Bendungan Tamblang. Akses untuk menuju pura ini bisa dilalui dengan sepeda motor. Namun perjalanan harus dilanjutkan kemabali dengan berjalan kaki menyusuri hutan. Kini sudah ada tangga yang dibuat untuk menuju pura. Kurang lebih harus berjalan lagi sepanjang 1 kilometer. Sebelum sampai ke lokasi pura biasanya akan diawali dengan persembahyangan pada sebuah batu paras yang besar. Konon tempat itulah tempat pertapaan para raja yang ingin memohon anugrah.
Keunikan dari pura tersebut adalah lokasinya yang boleh dikatakan ditengah hutan. Selain tidak ada pelinggih juga tidak boleh menggunakan sukupat atau tempat peristirhatan. Bangunan wantilan pun tidak ada. Lantainya masih tanah. “Tidak ada tempat peristirahatan atau bangunan sukupat di tempat itu. Semuanya bebaturan. Karena desa kami desa tua, jadi istilahnya dulu adalah bebaturan. Tidak boleh ada pelinggih atau yang lainnya. Jadi kami ikuti drestanya. Kami biarkan seperti itu,” papar Ketut Artawa, mantan perbekel Desa Bila periode 2003.
Selain itu, juga terdapat larangan-larangan yang harus dipatuhi. Seperti misalnya tidak boleh menggunakan sarana persembahyangan berwarna merah. Disamping itu pda persembahan yang menggunakan beras, harus menggunakan biji beras yang utuh. Tidak boleh patah. Dan menariknya lagi saat mempersiapkan upakaranya dilakukan pada malam hari. Alasannya agar tak ada yang menganggu dan tidak dihinggapi serangga yang membuat sarana persembahyangn ternoda. “Kalau mau kesana tidak boleh menggunakan hal-hal berwarna merah. Tidak saja pakaian tapi juga buah dan bunganya hingga jajannya. Kedua, saat mempersiapkan upacara itu dilakukan pada malam hari supaya tidak dihinggapi lalat. Selain itu persembahan yang menggunakan beras harus utuh. Tidak boleh ada beras yang cacat,” jelasnya.
Editor : Nyoman Suarna