Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Desa Umeanyar

Nyoman Suarna • Senin, 9 Agustus 2021 | 14:02 WIB
Asal Usul Desa Umeanyar
Asal Usul Desa Umeanyar

SINGARAJA, BALI EXPRESS -  Desa Umeanyar berada di Kecamatan Seririt. Desa ini memiliki sejarah yang cukup unik. Ada dua versi cerita yang beredar. Yang pertama karena banyaknya burung Manyar atau burung Sangsiah. Dan yang kedua berdasarkan cerita rakyat.



Perbekel Desa Umeanyar, Putu Edy Mulyana menceritakan, Umeanyar itu berarti permukiman baru. Konon di desa itu banyak terdapat burung Manyar. Tempat burung-burung itu mencari makan terkadang di persawahan. Sebelum ditempati oleh warga, desa itu adalah sawah yang luas. “Ada dua versi terkait sejarah itu. Yang pertama itu di sini ada Burung Manyar atau burung Sangsiah. Ada sawah. Sawah itu Ume disebutnya. Jadi disambung jadilah Umeanyar. Rumah burung mayar. Atau bisa sebagai rumah baru,” tuturnya.



Kemudian, Edy melanjutkan, berdasarkan cerita tetua, dahulu masyarakat desa tinggal di sebuah bukit dekat pantai. Knon bukit itu adalah pecahan dari wilayah desa Lokapaksa. Setelah lama tinggal disana, maka datanglah sekelompok bajak laut yang menjarah desa. Sebagai kode sandi, masyarakat menyebut para pembajak itu dengan sebutan Semut Api.  “Yang kedua, dulu masyarakat desa ini tinggal di sebuah bukit dekat pantai. Konn bukit itu pecahan dari lokapaksa. Setelah tinggal di sana ada semut ai. Menurut spiritual semut api itu adalah bajak laut. Semut api itu sebuah kode. Kalau bilang bajak laut nanti takutnya di tembak atau celaka. Itu kode sandi masyarakat,” tambahnya.



Lantaran diserang bajak laut, maka masyarakat desa berpindah tempat. Ajaibnya bukit yang dtinggali itu juga turut berpindah. Hingga kini menurut kepercayaan, bukit itu adalah desa yang kii ditempati oleh masyarakat Desa Umeanyar. “Ada pengangon bebek yang melihat bukit ini bergerak. Ikut berpindah juga,” kata dia.



Paska ditinggal oleh masyarakat desa, Edy mengaku ada beberapa peninggalan yang terdapat pada bekas permukiman dahulu. Akan tetapi peninggalan-peninggalan itu dibiarkan begitu saja. selain itu juga terdapat mata air yang dapat dimanfaatkan sebagai tita serta air minum. “Memang ada sebuah peninggalan sebuah candi, batu bata yang besar-besar itu di sana. Ada mata air juga. saya juga sudah minta petunjuk kepada spiritual. Bagaimana kami harus memanfaatkan mata air ini. Takutya salah dan membuat beliau marah. Bukti sejarah lainnya itu ada harta benda seperti kendi, emas dan perhiasan lainnya. Cuma dulu tidak ada laporan ke desa. Kami pun kurang tau bagamana benda itu,” kata dia.



Terkait searah desa itu, Perbekel Edy juga tak mengetahui secara pasti. Ia hanya mendengar dari para tetua. Bukti tertulis dari sejarah itu pun tidak ada. “Jaman itu, saya tidak tau kapan. Menurut pengamatan spiritual ini jamannya Raja Ugracena. Bukti sejarah kami tidak punya. Yang tertulis itu tidak punya kami. Dan kami belum menemukan di sumber lainnya tentang umeanyar,” ujarnya. 

Editor : Nyoman Suarna
#dresta #buleleng