Bagi masyatakat Desa Pedawa tradisi Kawin Melaib Ngemaling memang menjadi tradisi yang lazim dilakukan saat menikah. Namun, khusus bagi masyarakat Pedawa yang berasal dari Yos Embang (kawitan lokal), maka wajib hukumnya melaksanakan sistem perkawinan Melaib Mebasa Tegeh. Jika tak dilaksanakan, maka akibatnya pun bisa fatal.
Tokoh Masyarakat Desa Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, Tradisi perkawinan Melaib Mebasa Tegeh memang hanya khusus dilakukan oleh Warga Pedawa yang khusus berasal dari penyungsung Yos Embang.
Tidak ada catatan khusus terkait bagaimana sejarah maupun asal-usul keberadaan perkawinan melaib mebase tegeh di Desa Pedawa. Namun, beredar mitos mengenai asal-usul melaib mebase tegeh yang belum dipastikan kebenarannya.
Konon, Melaib Mebasa Tegeh berawal dari seseorang yang berasal dari Yos Embang mengalami musibah yang diakibatkan oleh seorang perempuan. Sehingga sulit memiliki keturunan perempuan.
Maka munculah pemikiran. Jika nanti mempunyai keturunan perempuan, pada saat prosesi upacara perkawinannya akan dibuatkan upacara mebase tegeh. Hal itu akan dilakukan jika anak perempuan mereka menikah keluar dari Yos Embang.
“Melaib Mebasa Tegeh itu dasarnya adalah kawin lari. Namun, mempelai perempuan wajib diganti dengan banten Mebasa Tegeh,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Tradisi ini dilakukan dengan berjalan berjejer bersama banten utama yaitu base tegeh. Banten ini dibawa oleh anak-anak dengan menggunakan gelang pada bagian kaki. Mereka rata-rata yang berusia rata-rata 7 tahun. Bukan tanpa alasan mengapa melibatkan anak-anak.
“Karena dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa anak-anak masih suci dan tidak punya dosa dan symbol kesucian. Melaib mebase tegeh dilaksanakan pada saat tahap akhir dari rangkaian upacara perkawinan yaitu pada saat nguye ke rumah mempelai perempuan,” imbuhnya.
Banten Mebase Tegeh sebut Sukrata memang sebagai suatu simbol wujud pengganti anak perempuan mereka yang kawin keluar dari Yos Embang. Sarana ini harus diserahkan oleh pihak keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan yang akan dikawini secara sah.
“Jadi ini bukan symbol membeli perempuan. tetapi lebih ke bentuk penghormatan terhadap perempuan dari Yos Embang”
Banten base tegeh menggunakan daun sirih sebagai sarana utama. Daun sirih tersebut dirangkai sedemikian rupa berjejer ke atas menyerupai wujud manusia yang disimbolkan sebagai pengganti mempelai perempuan.
Daun sirih yang dirangkai berjejer ke atas memakai wadah dulang yang berisi uang kepeng1 pocong kemudian memakai sumbul yang dirangkai langsung dengan daun sirih.(bersambung)
Editor : Nyoman Suarna