Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Membangun Sikap Moderat dengan Perbedaan

Nyoman Suarna • Jumat, 3 September 2021 | 13:06 WIB
Membangun Sikap Moderat dengan Perbedaan
Membangun Sikap Moderat dengan Perbedaan

Bagaimana moderasi dalam Hindu? Pengelola konten Sesuluh dalam Yudha Triguna Chanel ini mengatakan dalam Bahasa Sansekerta atau Kawi kata madya artinya tengah. Berada di tengah, bertingkat menengah. Tidak memihak dan netral. Kata madyama juga berarti di tengah-tengah, bernilai tengah atau sikap sedang.


Ada sejumlah sumber, dimana kata madya dan turunannya ditemukan. Seperti dalam Adi Parwa, Udyoga Parwa, Sumanasantaka, Sarasamusccaya, Bramanda Purana dan Agastya Parwa.


Moderasi dalam konteks nilai tertuang dalam Sanskya Dharsana. Disini diakui adanya konsep Purusa Pradana, Siwa tattwa, Maya Tattwa, Cetana-Acetana. Kedua kutub  ini dipertemukan di tengah. “Ang-Ah, Lingga-yoni semuanya di tengah,” jelasnya.


Lanjutnya, sunia di dalam tradisi di Bali dipahami sebagai realitas yang absolut. Bukan sementara, apalagi sudah menggunakan terminologi dewa-dewi. Cara berpikir absolut itu dilakukan dengan middle way. Karena dunia termasuk manusia terikat oleh kedua  cetana dan aceatana


Manusia yang menginginkan kebahagiaan sekala dan niskala. Ia bisa mengambil jalan tengah. “Itu sebabnya orang tua dulu berpesan kepada kita agar de bes (jangan berlebihan Red). De bes kedewan-dewan, de bes dueg, de bes memegegeng. Apapaun bes, pasti tidak baik. Sehingga harus diseimbangkan,” katanya lagi


Di dalam Astika carita, adi parwa disebutkan, ring pantaraning swarga kalawan neraka. atau jika diartikan di antara surga dan neraka. Dalam Jnana Sidanta disebutkan bru madya, salaning alis, di tengah. Itu sebabnya kita menggunakan bija di antara alis. inilah konsep-konsep nilai Bahwa orang hindu sangat menghargai madyama.


Di dalam acara-acara besar keagamaan, tawur kesanga selalu mencari catus pata. Orientasi moderat di tengah-tengah agar menjadi sentral bagi arah timur, selatan, barat dan utara. Begitu pula nilai madyama ini dapat dipelajari dalam konsep pengider-ider.


“Kita sering menghafalkan, Sa, Ba, Ta, A, I Na, Ma, Si, Wa, Ya. Orientasinya berakhir di tengah. Itu menunjukkan dari konsep itu Hindu menempatkan posisi sentra,” jelas mantan Dirjen Bimas Hindu ini.


Ada empat sikap moderat yang dibutuhkan. Sikap ini diharapkan menjadi dasar laku dalam hidup sehari-hari bermasyarakat dan bernegara. Yakni sikap terbuka, rasional, rendah hati dan suka bersedia memberi menerima maaf.


Sikap terbuka atau open minded itu, artinya seorang Hindu yang moderat siap untuk mendengar pendapat orang lain. Bukan pendapat kita saja yang harus didengar. Tetapi pendapat orang juga harus didengar. Sikap bersedia menghargai perbedaan. Semua itu mendandakan manusia hidup dalam perbedaan dan bersedia menerimanya


“Sikap bersedia menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Kita hidup berada di antara orang lain. Kita punya kelebihan, punya kelemahan. Begitu orang lain. Kita merasa nyaman dengan perbedaan itu,” tambahnya.


Sikap rendah hati tentu sederhana, sopan, tidak sombong, tidak meninggikan diri di hadapan orang lain, apalagi merendahkan orang lain. Tenang dan lebih banyak tersenyum. Dalam sloka Sarassamuccaya, sloka 306 menyebutkan: Jangan pernah bangga saat dipuji orang lain dan jangan merasa hina saat dicaci maki. Ini adalah nasihat agar manusia senantiasa rendah hati.


Umat Hindu senantiasa mengambil sikap dan laku jalan tengah atau middle way. Membangun sikap moderat dengan membiasakan hidup dengan perbedaan, menerima perbedaan dan berusaha terus menyesuaikan diri dengan perbedaan dan perubahan. “Hiduplah dengan kerendahan hati dan saling memaafkan. Niscaya kita akan berbahagia,” pungkasnya. (habis)

Editor : Nyoman Suarna