Penanaman ari-ari merupakan upacara pertama kali yang dilakukan terhadap seorang anak yang terlahir. Ari-ari yang menemani lahirnya sang bayi tidak boleh sembarangan ditanam tanpa memperhatian etika dan upacaranya.
I Wayan Titra Gunwijaya, S.Fil.H, M.Ag mengatakan dalam Lontar Smarareka upacara ini merupakan upacara pertama yang menjadi pembahasan. Upacara ini dilakukan pada saat bayi baru lahir dan plasenta yang dibawa bayi ditanam dengan upacara khusus.
Adapun kutipan tentang upacara ini sebagai berikut: tan wenang ananem ari-arine ngawagawag, ananem ari-arine dudu manusa sato pawakannya maka wenangannya ring pasingghaning lawang paturon, yaning lanang ring tengen, yan wadon ring kiwa. Apan wiwitaning manusa
wantah Dewa, ngaran Dewa Bayu, angin. Dewa Bayu pratiwi. Dewa Bayu, toya, Dewa Bayu dina, wawaran dadi manusa, duaning I manusa makadang dewa, maka kayu makadang dewa toya, mwang makadang pratiwi, mwang dina, malih Sang Hyang Aji punika dewane sami nyandang idihin urip, idhin merta, ajak idup, ajak mati. (Smarareka 1b)
Bila diterjemahkan tidak dibenarkan menanam ari-ari sembarangan, apabila menanam sembarangan, maka bukan sebagai manusia, melainkan sebagai binatang. Seharusnya menanam ari-ari tersebut di depan pintu masuk menuju tempat tidur.
Jika bayi yang terlahir berjenis kelamin laki-laki, maka ari-ari ditanam di sebelah kanan pintu masuk menuju kamar tidur. Sebaliknya, apabila bayi terlahir dengan jenis kelamin perempuan, maka ditanam di sebelah kiri.
“Karena asal dari manusia adalah dewa, bernama Dewa Bayu, angin, Dewa Bayu pratiwi. Dewa Bayu Toya dan Dewa Bayu Dina, Wawaran menjadi manusia. Karena manusia terkait dengan dewa, kayu, air dan tanah serta hari. Maka dari itu semua dewa patut untuk dimohonkan kehidupan, rejeki, hidup.
Dalam Lontar Semarareka disebutkan dengan jelas apabila menanam ari-ari dilakukan secara sembarangan, maka bukan disebut sebagai manusia, melainkan sebagai binatang. Pasalnya, manusia dalam hidupnya perlu disucikan dari tiga bentuk kekotoran, yang disebabkan oleh si Ibu, alam atau hari kelahiran dan oleh perbuatanya sendiri.
Pertama-tama manusia akan disucikan dari kekotoran yang disebabkan oleh ibu waktu melahirkan. Pada waktu itu banyak darah yang keluar demikian juga air yang kotor, inilah yang perlu disucikan secara sekala dan niskala, seperti halnya dengan upacara: mapag rare, penanaman plasenta (ari-ari), lepas tali pusar dan sebagainya.
Secara filosofis, menurut lontar Semarareka upacara ini bertujuan untuk mempermaklumkan dan memohon kepada Hyang Ibu Pertiwi dan Sang Hyang Akasa untuk menerima keberadaan si bayi dan memberikan perlindungan serta umur panjang kepada si bayi.
Adapun tata cara penanaman ari-ari yang disebutkan dalam lontar Smarareka (2a)adalah sebagai berikut:
ari-arine wadahin kelapa. Ayua ngawonang daging kelapane, tur rinajah daging kelapane, wimbannya kaya iki, ang, ong, ah. Malih rajah ring mukniya rajahannya kayeki, ong raris dagingin ari-ari, bekelin lontar 9 guli, rajah kayeki, ong sang tabeya pakulun. Raris kaput antuk duk, raris tanem, munggwing sasapane kayeki, ong sang hyang ibu pratiwi, angreka sagumatap gumitip, simaria nugtugaken tuuh.
Risampune puput matanem, raris karyanan ajengan petang kepel, warna pat, iwaknya bawang jahe, maraka woh-wohan, maruntutan pararasikan, raris resikin genah ari-arine, sisig ambuhin, langengin, tepung tawarin, sasapannya, pakulun hyang ibu pratiwi, maraga bayu merta sajiwa, ngamertanin sarwa tumuwuh, sida munutugaken tuwuh, (Smarareka 2a)
Terjemahannya adalah: ari-ari tersebut kita tempatkan di dalam kelapa. Isi dari kelapa tersebut tidak boleh dihilangkan dan isinya tersebut di-rajah, dengan aksara ang, ong dan ah. Selanjutnya kembali dirajah di ujung buah kelapa dengan aksara ong lalu masukkan ari-ari, diisi lontar sepanjang 9 guli, dengan ditulisi ong sang tabeya pakulun.
Lalu dibungkus dengan ijuk kemudian ditanam, dengan mengucapkan ong sang hyang ibu pratiwi, angreka sagumatap gumitip, simaria nugtugaken tuuh. Apabila sudah di tanam lalu dibuatkan sesajen berupa nasi sebanyak empat kepal dan empat warna, berisikan bawang dan jahe serta buah-buahan.
Kemudian dibersihkan disekitar tempat ari-ari ditanam, diberikan air, minyak, tepung tawar, disertai dengan ucapan mantra: pakulun hyang ibu pratiwi, maraga bayu merta sajiwa, ngamertanin sarwa tumuwuh, sida munutugaken tuwuh.
“Upakara seperti yang dihaturkan tersebut lebih condong kepada upakara yang dipersembahkan untuk buta kala dan untuk pembersihan dari ari-ari sebagai saudara yang diajak lahir oleh si bayi,” imbuhnya.
Hal ini dapat dilihat dengan adanya persembahan nasi kepel warna pat serta bawang jahe yang biasa ditemukan dalam segehan atau sesajen persembahan untuk butha kala yang biasa dihaturkan setiap hari kliwon.
Tujuannya agar para buta kala tidak mengganggu si bayi sehingga diberikan persembahan tersebut sebagai gantinya. Dalam kepercayaan masyarakat Bali buta kala menyukai hal-hal yang berbau amis, oleh karena itu tempat dari ari-ari harus dibersihkan untuk menghilangkan bau amis yang ada sehingga terhindar dari gangguan buta kala.
“Merawat ari-ari tidak berbeda seperti merawat seorang bayi pada umunya, karena ari-ari tersebut merupakan salah satu saudara yang diajak lahir oleh si bayi yang disebut sebagai catur sanak,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna