Ritual Ngaturin yang sangat disakralkan juga memiliki fungsi yang mengikat. Artinya, apabila hingga meninggal belum melaksanakan Ngaturin, maka yang berkewajiban melaksanakan adalah keluarganya atau anak keturnannya.
Entah itu anak, cucu, bahkan cicitnya. Mereka wajib membyar secara niskala sampai lunas tanggung jawabnya untuk melaksanakan Ngaturin dengan mempersembahkan 3 tegen yang berarti 6 ekor godel.
Keberadaan orang sudah meninggal yang kewajiban Ngaturinnya dilakukan oleh keturunannya, disimbolkan dalam sebuah adegan yang menyerupai boneka. Biasanya terbuat dari daun lontar dengan dikenakan kain putih sebagai busananya, udeng yang laki-laki, serta perhiasan emas yang dulu dimilikinya ketika masih hidup.
Dikatakan Nengah Arijaya, pada prosesi upacara Ngaturin, godel yang akan disembelih disaksikan dulu pada Dewa Gede di Pucak. Setelah sapi diperciki tirta plukatan maka dengan dimintakan pada Dewa Catur Kahyangan kemudian barulah godel itu disembelih.
“Kondisi godel yang digunakan sebagai persembahan atau disembelih dalam ritual Ngaturin adalah godel tidak boleh cacat. Bahkan, ada larangan untuk godel yang kakinya bang dan dahinya putih untuk dijadikan sarana,” akunya lagi.
Hal itu dikarenakan godel tersebut dianggap cacat, kecuali jika godel yang telah dimiliki ekornya ujungnya putih. Pada saat upacara ngaturin, hewan yang akan disembelih dipercki tirta nampul sanggah setelah diperlihatkan kepada dewa, kemudian disembelih. Tirta diambil dari rumah masing-masing, dengan istilah pengijeng, kalau di luar Sembiran disebut sanggah pekurenan yang berada dikamar.
Pengijeng itu bisa di dalam dapur, dengan dibuatkan tempat tersendiri. “Masyarakat Sembiran beranggapan, jika tidak memilikinya maka kehidupannya akan hancur. Kamar suci itu pengijeng, bisa digunakan sebagai tempat memuja tirta, kalau tidak di dapur dikamar itu juga bias,’ paparnya.
Sedangkan, kepala dan kaki godel yang dipotong di tempatkan di pengancapan juga iga dan kulit yang juga diletakkan di bebantenan yang namanya banten tandingan. Daging dari bagian lain serta tulang tulangnya di simbolkan kepada betara samua.
Bgeitu juga bagi keseluruhan yang menerima suguhan. Petugas yang memotong-motong daging adalah masing-masing keluarga, tergantung dari jumlah keluarga.
“Mantram yang digunakan untuk menghaturkan persembahannya lebih ke saha. Cara menyuguhkan kepada Sang Hyang Widi dengan melalui doa yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari atau dengan niatnya sendiri,. ungkasnya. (habis)
Editor : I Dewa Gede Rastana