Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rayakan Galungan Pertama, Bayi di Selulung Dapat Jotan Banten

I Made Mertawan • Selasa, 16 November 2021 | 23:13 WIB
Rayakan Galungan Pertama, Bayi di Selulung Dapat Jotan Banten
Rayakan Galungan Pertama, Bayi di Selulung Dapat Jotan Banten


BANGLI, BALI EXPRESS- Desa Adat Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki tradisi ngejot banten.  Ini khusus untuk bayi yang baru pertama merayakan Galungan. Khususnya bayi yang sudah lewat 42 hari.



Seperti terlihat saat Galungan, Rabu (10/11) lalu. Sejumlah bayi di desa setempat dibawakan banten oleh keluarga atau tetangganya. Warga setempat menyebutnya banten ngejot, seperti sesayut. Biasanya berisi dua tumpeng kecil untuk bayi laki-laki. Sedangkan untuk bayi perempuan berisi satu tumpeng, dilengkapi  buah, jajanan. Ada juga berisi sate dan tum.



Klian Desa Adat Selulung I Putu Santosa tak bisa memastikan sejak kapan tradisi itu ada. Hingga saat ini, diakuinya, belum ada penjelasan secara tertulis, baik soal banten maupun makna tradisi itu.  Namun demikian, warga setempat masih melestarikan tradisi warisan leluhurnya.  “Keluarga  ikut bahagia dengan kelahiran si bayi, mendoakan supaya selamat. Jadinya ngejot banten saat Galungan,” ungkap Santosa.



Setiap Galungan, warga menghitung jumlah keluarganya yang punya bayi baru pertama kali merayakan Galungan untuk dibuatkan banten,  dengan catatan sudah berumur lebih dari 42 hari. Bagi bayi yang belum 42 hari akan dibuatkan banten pada Galungan berikutnya. “Pasti ada saja tetangga atau keluarganya yang membuatkan banten ngejot,” terang Santosa beberapa waktu lalu.



Lebih jauh, mantan perbekel Selulung ini menjelaskan, banten itu tidak dihaturkan di pura, melainkan di tempat tidur si bayi. Setelah dihaturkan saat Galungan, bayi selanjutnya natab banten tersebut pada Umanis Galungan. Dalam prosesi ini, tidak perlu dipuput pamangku. Cukup orang tua atau orang yang dituakan di keluarganya memandu bayi natab.



Lungsuran banten juga tidak diambil lagi oleh keluarganya. Keluarga yang membawakan banten cukup mengambil tempatnya saja. Namun seiring berkembangnya zaman, warga sudah mulai praktis. Tempat banten kebanyakan menggunakan tamas, sehingga tidak perlu diambil lagi. “Karena bayi belum boleh makan, ya lungsuran diberikan orang tuanya,” tandas Santosa.



Salah seorang warga Desa Selulung, Mangku Yastini,75, mengatakan bahwa zaman dulu, ngejot banten sampai ke keluarga di luar banjar, wilayah Desa Adat Selulung. Tetapi sekarang cukup keluarga dalam satu banjar. Ia juga memastikan bahwa tradisi itu merupakan warisan turun-temurun.



Editor : I Made Mertawan
#balinese #bangli