Upacara Nangluk Mrana merupakan salah satu upacara yang dilaksanakan bertujuan untuk mengendalikan hama penyakit yang dapat berpengaruh buruk bagi kehidupan di dunia ini. Dalam pelaksanannya, ritual ini tidak lepas dari penggunaan Kober Ganapati atau Dewa Ganesha.
Dosen Teologi, STAHN Mpu Kuturan SIngaraja, Wayan Titra Guna Wijaya, S.Fil.H, M.Ag mengatakan ritual Nangluk Merana merupakan upacara yang dilaksanakan di pesisir pantai atau di rumah, dengan harapan agar seluruh masyarakat akan terhindar dari segala marabahaya atau serangan hama penyakit. Upacara ini juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
Dikatakan Titra, saat upacara Nangluk Mrana digelar, maka Dewa Ganapatilah yang dipuja untuk membersihkan segala hama dan penyakit. “Penggambaran Gaṇapati dalam upacara Nangluk Mrana itu diwujudkan dalam sebuah gambar di atas kain putih atau disebut Kober,” jelasnya, Selasa (16/11).
Dalam lontar Gaṇapati tattwa, disebutkan: “Haywa cawuh, adomrana de nira telas, bihan panglukatan Gaṇapati, wénang angge midér, śa,ampel gading rajah gaṇa, tangan kiwa ngagém cakra, tangan téngen ngagém gadā,dulurnya banten, ajuman putih kuning, suci asoroh mahiwak pitik putih jambul, toyanya mewadah sangku témagā, sékar shudāmala saha prasaantun, arthanya 1.100, samsam don katima, rajahhan ika lebokakéna ring sangku, ri huwus pinuja tiwakakéna ring kamranan, ma”
Terjemahannya: Inilah pengelukatan (pembersihan) Gaṇapati, boleh digunakan di sekeliling (yang hendak dibersihkan), bahannya bambu ampel gading digambari gana, tangan kanan memegang cakra tangan kiri memegang gada. Disertai dengan upakara: ajuman putih kuning, suci satu dagingnya bebek (itik) putih jambul, airnya ditempatkan pada sangku tembaga yang diisi kembang sudamala serta pras sesantun, disisi uang sesari 1.100, samsam daun ketima. Bambu ampel gading yang telah digambari gana itu dimasukan pada sangku yang sudah berisi air. Setelah dipuja gunakanlah pada tempat yang tercemar hama dan penyakit.
Pada upacara Nangluk Mrana, Gaṇapati dipuja karena Beliau sebagai pembasmi segala penyakit dan hama. “Mengapa Gaṇapati dihadirkan? Tujuannya adalah sebagai pengeruwat atau menetralisir kekuatan Bhutakala pada lingkungan tempat upacara agar pengaruh buruknya tidak menggangu jalannya upacara,” imbuhnya.
Pelaksanaan upacara nangluk mrana biasanya dilakukan pada sasih ke enam. Saat itu diyakini adanya pergantian musim sehingga timbulnya hama, penyakit dan bencana alam. Maka Gaṇapati lah yang dipuja sebagai perabas segala rintang, pengeruwat atau pengelukat (pembersih) dan menghalau segala bencana alam.
“Maka, penyakit dan hama yang timbul dari Dewi Durga yang mempengaruhi alam dibasmi dengan menggunakan senjata Cakra dan Gada milik Ganapati,” paparnya. (bersambung)
Editor : I Dewa Gede Rastana