SINGARAJA, BALI EXPRESS- Desa Adat Buleleng memiliki tradisi unik yang disebut Naur Pelebuh. Ritual yang dilaksanakan setiap purnama di Pura Desa Buleleng ini ditujukan kepada mantan anggota Tridatu yang telah meninggal dunia. Sarananya daging babi minimal seberat 100 kilogram.
Kelian Desa Adat Buleleng Jro Nyoman Sutrisna kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan tradisi Naur Pelebuh erat kaitannya dengan krama Tridatu. Disebut Tridatu karena saat bertugas di desa adat mereka menggunakan seragam tiga warna. Yakni berbaju hitam, kamen berwarna putih dan saput berwarna merah.
Krama Tridatu, dikatakan Sutrisna sudah ada sejak turun temurun. Keberadaannya erat kaitannya dengan Raja Buleleng. Tridatu berjumlah 40 orang, dibentuk oleh Raja untuk bertugas mengamankan raja dan mengawal aktifitas ritual kala itu. “Dalam konteks kekinian, krama Tridatu itu tugasnya vital dalam kegiatan adat dan agama di Desa Adat Buleleng. Mereka juga sering melaksanakan paruman di Pura Desa Buleleng saat purnama untuk membahas kegiatan adat, piodalan alit, penyepian, pembangunan di banjar adat dan Kahyangan Tiga,” jelas Jro Sutrisna.
Apa kaitannya dengan upacara Naur Pelebuh? Dikatakan Sutrisna, setiap krama Tridatu ada yang meninggal, maka pratisena atau keluarga dari anggota Tridatu wajib menggelar upacara Naur Pelebuh. Upacara ini menggunakan sarana daging babi beratnya 100 kilogram. Tak terkecuali, mantan Kelian Adat Buleleng secara otomatis masuk krama Tridatu.
Maka selain menghaturkan daging babi, keluarga mantan kelian Desa Adat yang telah meninggal diwajibakan pula menghaturkan seekor kerbau. “Babi ataupun kerbau yang dihaturkan itu kemudian dibagi-bagikan kepada anggota Tridatu yang aktif, Jero Mangku Kahyangan tiga,” jelasnya.
Disinggung terkait konsekuensi bila Naur Pelebuh tak dilakukan, mantan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng mengaku sering pratisentananya atau keluarganya mengalami kesakitan. Sehingga ketika dimohonkan petunjuk secara niskala, maka diminta untuk melaksanakan Naur Pelebuh.
“Kosekuensi itu paling sering dialami. Naur Pelebuh bisa dibayar jika memang keluarga yang meninggal sudah punya uang. Tradisi ini kami laksanakan turun temurun, dan diungkap dalam awig-awig desa” imbuhnya.
Masa ngayah krama Tridatu yang berasal dari beragam soroh itu adalah seumur hidup. Bahkan, bila krama Tridatu meninggal, bisa digantikan oleh keturunannya langsung atau anggota keluarganya di satu dadia. “Makanya ada krama Tridatu dari berbagai klen. Seperti Pasek, Pande, Arya, Tegeh Kori, macam-macam klennya. Mereka ngayah seumur hidup. Jumlah krama Tridatu itu hanya 40 orang. Tidak lebih dan tidak kurang,” jelasnya.
Editor : I Dewa Gede Rastana