Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pementasan Wayang Lemah di Buleleng Beda dengan di Bali Selatan

I Putu Suyatra • Senin, 6 Desember 2021 | 19:52 WIB
Pementasan Wayang Lemah di Buleleng Beda dengan di Bali Selatan
Pementasan Wayang Lemah di Buleleng Beda dengan di Bali Selatan

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pementasan wayang lemah di Buleleng berbeda dengan di Bali Selatan. Di sana, pementasan wayang lemah sebagai pemuput upacara yadnya, sementara di Bali bagian selatan cenderung sebagai wadah untuk mengasah kemahiran dalang.


Hal itu seperti diungkapkan oleh Jro Dalang Gusti Made Aryana. “Kalau wayang lemah di Bali selatan cenderung dilakukan oleh dalang dengan tataran baru latihan. Alasannya tidak ada yang menonton. Beda dengan wayang lemah di Bali utara atau Buleleng. Wayang lemah dilakukan pada upacara-upacara Dewa Yadnya. Wayang Lemah dilakukan oleh dalang yang sudah berpengalaman. Karena kaitannya dengan upacara, karena wayang lemah itu dilakukan dalam upacara yang tingkatannya lebih tinggi,” jelasnya.


Wayang lemah juga sebagai pengruwat atau pembersihan. Dijelaskan pula, wayang lemah merupakan salah satu wayang yang disakralkan, selain wayang sapuh leger dan wayang sudhamala.  Pementasan wayang lemah menggunakan kelir berupa benang tukelan bukan layar putih seperti wayang peteng. Benang ini direntangkan dengan disusun tiga yang berisi 11 yang kepeng dan diikatkan pada dua ranting dada cabana tiga yang terpancang pada kedua belas ujung gedebong pentas dengan tidak memakai lampu blencong. “Kalau wayang peteng lebih ke atraksi pertunjukan menggunakan kelir, sementara wayang lemah menggunakan benang yang disimbolkan sebagai langit. Sedangkan gedebong atau batang pisang sebagai pertiwi atau bumi. Sementara pencahayaan atau lampu atau yang disebut dengan blencong pada pementasan wayang peteng adalah simbol Dewa Surya,” tambah Jro Dalang Aryana yang akrab disapa Dalang Sembroli.


Pertunjukkan wayang lemah menggunakan lakon yang disesuaikan dengan upacara yang dilaksanakan. Kalau misalkan pementasan wayang dilakukan pada upacara Dewa Yadnya, maka lakon yang digunakan adalah Kunti Yadnya, Marisuda Bumi, dan lainnya. Sedangkan pada upacara Bhuta Yadnya, maka lakon yang digunakan adalah Bima Dadi Caru dan begitu juga upacara-upacara yang lainnya harus disesuaikan dengan prosesi upacara yang berlangsung. Pertunjukan wayang ini membawakan lakon yang disesuaikan dengan jenis yadnya.


 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #buleleng