Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya mengatakan, sarana tersebut selanjutnya dirangkai menjadi puspalingga atau puspasarira. Puspalingga berarti bunga sebagai linggih atau tempat sang pitara. Sedangkan puspasarira artinya bunga sebagai badan sang pitara, dikarenakan sang pitara telah terlepas dari sthulasarira. “Oleh sebab itu dibuatkanlah simbolisasi badan dari rangkaian bunga yang disebut dengan puspalingga atau puspasarira,” ungkapnya.
Upacara Nyekah kaitannya dengan perwujudan puspalingga didahului dengan pembersihan kerangka sekah yang terbuat dari bambu buluh dengan air bersih dan suci. Kemudian dilanjutkan dengan memercikkan minyak wangi. Pada bagian ulakan buluh sekah tersebut ditulisi wijaksara yang disesuaikan dengan tingkatan upacara, baik nista, madya atau utama.
Donbingin yang telah dirangkum selanjutnya dililitkan pada bagian kerangka sekah yang berbentuk sumbu (terletak pada bagian bawah). Arah melingkarkan (melilit) donbingin adalah ke arah kanan.
Di dalam buluh pada bagian yang berisi ulakan, diisi sebuah jemek dan di dalam jemek diisi 2 (dua) buah mirahputih, dedes dan ditutup dengan kapuk maduri putih. Jemek dimasukkan ke dalam buluh, ujung buluh bagian atas diisi murdha atau menur yang terbuat dari kayu cendana.
Pada bagian ulakan dari pada buluh diisi saetmingmang (dari ilalang) 3 (tiga) buah, bunga sulasihmiyik 3 (tiga) kuntum, bungaratnaputih 3 (tiga) kuntum, padanlepas 3 (tiga) kuntum, bungamaduriputih 3 (tiga) kuntum, bungacempakakuning bertuliskan wijaksara diletakkan di pinggir bagian kiri, cempaka putih bertulisakan wijaksara di pinggir bagian kanan, belangsah buah 3 (tiga) potong, bunga jepunputih dan bunga sandat
Setelah melakukan nyekah dilanjutkan lagi dengan melaksanakan ritual selanjutnya yaitu memukur. “Semua rentetan dari pelaksanaan upacara ini bertujuan untuk menyucikan sang roh sehingga mencapai pembebasan,” paparnya.
Setelah melaksanakan upacara memukur kemudian dilanjutkan dengan upacara Maligya. Maka Sang Pitara akan menjadi Widhi Wasa Pitara, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan upacara Ngaluwer maka sang roh akan meningkat lagi menjadi Acintya Pramana Pitra.
Semua wujud upacara yang dilaksanakan bertujuan untuk mencapai pembebasan sang roh di alam niskala. Sehingga akan menyatu dengan Brahman sesuai dengan ritual yang dilaksanakan, tidak terlepas pula dengan karma wasana selama hidupnya.
“Mencapai moksa bukan saja bisa didukung dengan ritual atau PitraYajna yang besar dan lengkap. Tetapi didukung dengan prilaku dan Karmawasana ketika masih hidup, hal itu yang akan menjadi bekal untuk mencapai atau tidak tujuan akhir yaitu moksa,” pungkasnya.(habis)