Namun yang membedakan dengan prosesi upacara yang pertama yaitu pada saat upacara tiga bulanan adalah tempat tirtanya berupa jun pirian. Uniknya, jun pirian ini dengan sarana pengetisan pitung pemujaan atau tujuh pucuk pohon. Yaitu, kayu tulak, kayu sisih, andong bang, sudamala, lalang, bungan jepun, dadap tis.
Selain itu, ada juga ritual Nyambutain. Hanya saja, ritual ini tidak ditentukan dengan pasti. Sebab, bisa dilakukan ketika tersedianya dana. Tetapi sering dilaksanakan sebelum anak menek kelih. Ada pula beberapa keluarga melakukan walaupun umurnya sudah dewasa.
Dikatakan Nyoman Kalam, nyambutin hampir memiliki makna sama dengan nelu bulanin. Meskipun nelubulanin dilakukan saat bayi berumur tiga bulan, dan nyambutin saat bayi setelah umur tiga bulanan bahkan sebelum tanggal gigi.
“Kalau di Pedawa, nyambutin itu bisa dilakukan sudah beranjak dewasa. Bahkan sudah tua. Tteapi kalau bisa disarankan agar sebelum gigi tanggal. Cuma itu tergantung kemampuan dana dari orang tuanya,” paparnya.
Semua proses ritual penyucian dari kayeh di Cangkupe sampai nyambutin menggunakan sesapa atau mantram ala masyarakat Pedawa. Sesapa ini umumnya disampaikan oleh Balian Desa. “Sesapa ini umumnya ditujukan Para Dewa, kepada para Leluhur, dan kepada Para Bhuta saat upacara berlangsung,” pungkasnya. (habis) Editor : Nyoman Suarna