Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Ayu Veronika Somawati mengatakan bentuk tumpeng yang berupa kerucut dan mempunyai satu titik pusat pada puncaknya dipercaya melambangkan Gunung Mahameru yang merupakan konsep alam semesta dan berasal dari agama Hindu. Asal muasal bentuk tumpeng ini ada dalam mitologi Hindu, di epos Mahabarata.
Gunung, dalam kepercayaan Hindu adalah awal kehidupan, karenanya sangat dihormati. Dalam Mahabarata dikisahkan tentang Gunung Mandara, yang dibawahnya mengalir amerta atau tirtha, air kehidupan.
“Yang meminum air itu akan mendapat mendapat keselamatan. Inilah yang menjadi dasar penggunaan tumpeng dalam upakara Hindu,” jelasnya.
Belakangan, sering dijumpai penggunaan tumpeng kering atau tumpeng siap saji atau ready stock dalam pembuatan upakara. Tumpeng ini sangat mudah didapatkan di pasaran hingga melalui media sosial dengan harga yang sangat terjangkau.
“Tumpeng kering dianggap sebagai jalan alternatif yang memudahkan umat dalam pembuatan upakara, karena bisa bertahan cukup lama dibandingkan tumpeng basah yang hanya bertahan tidak lebih dari dua hari,” paparnya.
Dikatakan Veronika, dilihat dari proses pembuatan tumpeng sebagai sarana upakara, hendaknya dipilih bahan yang sempurna. Disamping untuk menghasilkan kualitas tumpeng yang bagus, sering didengar para tetua panglingsir terdahulu mempersiapkan beras dengan kualitas terbaik untuk pembuatan tumpeng.
Beras tersebut dipilih melalui proses nampinin atau ditapis hingga memilih beras yang terbaik dan masih utuh untuk bahan pembuatan tumpeng. Agar lebih nikmat untuk dinikmat lungsurannya, tidak jarang tetua kita menumbuk nasi tersebut agar lebih halus sehingga tumpeng yang dihasilkan merekat lebih bagus dan tahan lebih lama.
“Secara etika, sebelum pembuatan sarana upakara diupayakan diri bersih secara jasmani, berpakaian sopan dan rapi, serta diupayakan untuk menjaga kesucian pikiran untuk dapat menghasilakn yajna yang satwika,” imbuhnya.
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan tumpeng hendaknya menggunakan alat yang bersih dan sukla. Tumpeng difungsikan sesuai fungsi dan kegunaanya, semisal tumpeng sebagai sarana pembuatan banten pras atau pengambean.
Veronika menyebut, ada beberapa aturan yang mengatur bagaimana etika di dalam pembuatannya. Seperti termuat dalam Lontar Yajna Praketi berikut ini:
......mangkana angawiti sira akarya, den ambek suci juga, aywa sabda gangsul, wak prakasa, mwang cemer, tinemah kita de Bhatari, balik sabda rahayu juga ucap menak maka ucapanta, apan ri sedengta akarya babanten ya ika kalanta angajum rupa warna mwang pawangganing sarwa Dewata-Dewati, Bhatara mwang Bhatari.
Terjemahan: Berikut adalah etika seorang yang hendak membuat upakara, selalu bersih dan berpikiran suci, sudah mewinten, mendapat mandat dari Pandita, membuat banten sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pandita, dan tidak bermotif bisnis.
Jika merujuk pada lontar tersebut, memperhatikan petunjuk sastra agar tidak menyimpang dari ketentuan yang telah ditentukan, tidak mengurangi dan menambahkan sarana yang digunakan dalam pembuatan suatu upakara.
“Karena sangat buruk pahalanya bagi seseorang yang berani menambahkan atau mengurangi sarana dalam pembuatan upakara,” ungkapnya. Editor : I Putu Suyatra