Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengatakan, segehan artinya suguh atau menyuguhkan., dalam hal ini segehan di haturkan kepada para Bhutakala agar tidak mengganggu dan juga Ancangan atau pasukan Para Batara dan Batari. Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari.
“Penyajiannya diletakkan di bawah sudut-sudut natar merajan, pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Selasa (4/1) siang.
Sejauh ini, di Desa Adat Buleleng mengenal istilah Segehan Atuunan atau juga dikenal sebagai segehan agung merupakan simbol dari Tri Loka. Yaitu Bhur atau dunia bawah tempat hidup manusia, hewan dan tumbuhan, Bvah atau lapisan dunia tengah dan Svah atau lapisan dunia atas tempat tata surya dan benda-benda angkasa.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat segehan ini antara lain Klakat (bambu yang dianyam persegi empat) digunakan sebagai alas segehan Klakat memiliki lubang-lubang segi empat dengan aturan lubangnya pada sisi yang satu berjumlah lima buah dan sisi lainnya juga berjumlah lima lubang, sehingga keseluruhan lubang berjumlah duapuluh lima lubang.
Klakat juga disebut pancak dari kata panca atau lima mengacu pada lima lubang pada masing-masing sisi yang merupkan simbol kekuatan Panca Maha Bhuta. Daun pisang dan taledan diletakkan di atas klakat. Makna dari taledan ini adalah sebagai simbol empat arah mata angin.
Tebu merupakan simbol Dewa Brahma,Pisang sebagai simbol Dewa Mahadewa, Porosan dibuat dari sepotong kecil janur yang dipotong menyerong. Di dalamnya terdapat sepotong daun sirih, seiris buah pinang dan diolesi kapur sirih. Porosan yang terdiri atas daun sirih dan plawa yang berwarna hijau, melambangkan Dewa Wisnu dengan lambang aksara Suci Ungkara (Ung).
Selanjutnya adalah buah sirih yang disisir sedemikian rupa, ini mewakili warna merah, simbul dari Dewa Brahma dengan aksara sucinya adalah Angkara (Ang). Dan, yang terakhir adalah kapur sirih yang berwarna putih, yang merupakan simbul dari Dewa Iswara (Siwa) dengan aksara sucinya adalah Mangkara (Mang).
Jaja pepelan sebagai lambang dewa dewi, Nasi berwarna-warni seperti putih, kuning, hitam, merah, abu-abu dan hijau. Nasi berwarna putih dipercaya sebagai lambang Dewa Iswara, nasi berwarna merah sebagai lambang Dewa Brahma, nasi berwarna kuning sebagai simbol Dewa Mahadewa, nasi berwarna hitam sebagai simbol Dewa Wisnu dan nasi berwarna warni (nasi brumbun) sebagai simbol Dewa Siwa.
Tegen-tegenan yang diletakkan di atas segehan yang sudah lengkap sudah selesai dibuat terdiri atas tipat mentah, tipat matang, tembakau, kapur sirih, sirih, pinang, pisang, jajan, buah-buahan merupakan lambang sumber kehidupan
Tekor terbuat dari daun pisang sebagai tempat air sebanyak dua buah merupakan simbol air danau dan air laut. Tempelosan kecil berisi bawang serta jahe yang diiris-iris, beras dan garam. Jahe merupakan perwujudan sifat rajas atau sifat semangat, aktif, emosi.
“Bawang merupakan perwujudan sifat tamas misalnya sifat malas. Kedua sifat tersebut dinetralisir oleh simbol garam,” jelasnya.
Tempelosan beras dan bija ratus Bija ratus merupakan gabungan dari biji-bijian yang berwarna warni yang dihaluskan lalu dibungkus menggunakan daun pisang kering. Bija ratus ini merupakan simbol dari kemakmuran. Bija ratus dan beras akan disebar setelah segehan selesai dihaturkan sebagai sebuah harapan kemakmuran dan kesuburan bagi alam semesta
Serbat atau tetabuhan terdiri atas berem dan arak. Berem merupakan simbol pencipta sedangkan arak merupakan simbol Dewa Iswara yang dipercaya sebagai Dewa Pemralina atau dewa pelebur hal-hal yang tidak baik.
“Sebelum segehan dihaturkan, didahului dengan memercikkan berem yang kemudian diikuti oleh arak. Namun setelah segehan dihaturkan, tetabuhan dipercikkan kembali yang didahului oleh arak lalu diikuti oleh berem dan terakhir kedua simbol air danau dan air laut mengelilingi segehan,” imbuhnya.
Canang sari dibuat dari canang genten. Di bawah canang genten terdapat beras dan uang kepeng. Canang sari merupakan simbol dari inti sari alam dalam bentuk uang dan beras. “Api takep ini ditutup dalam dua sabut kelapa yang dicakupkan secara menyilang membentuk simbol tapa dara yang diyakini sebagai lambang harmonisasi alam semesta,” paparnya. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana