Fungsi pertama bungkak nyuh gading adalah sebagai nyasa atau simbol suci. Ini bisa dilihat dalam upacara megedong-gedongan atau samskara wardana atau manusa yadnya. Di mana nyuh gading sebagai simbol dan dirajah dengan bentuk menyerupai bayi atau manik.
Bungkak ini akan diletakkan di banten megedong-gedongan. Bungkak nyuh gading sebagai simbol rahim dan bungkak sebagai nyasa atau simbol kesucian, simbol gaib dari embrio.
Bungkak nyuh gading juga bisa difungsikan pada ritual dewa yadnya, khususnya banten padudusan manawaratna. Banten ini adalah banten penglukatan untuk meruwat atau melukat arca pralingga. Ini dilakukan pada skala besar, tingkat nyatur, dan menggunakan sembilan jenis bungkak.
“Dan bungkak nyuh gading digunakan pada posisi arah barat, sebagai simbol amerta dari Bhatara Mahadewa, difungsikan sebagai energi suci dari Ida Mahadewa,” imbuhnya.
Bungkak nyuh gading difungsikan sebagai pralina atau mengembalikan berbagai unsur dari sumbernya. Misalnya, saat potong gigi, maka sisanya itu dimasukkan ke dalam bungkak, untuk selanjutnya dipendem.
Begitu juga saat pitra yadnya sisa tulang setelah dikremasi, akan dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading, kemudian untuk dilarung di laut maupun sungai. Hal ini mempertegas jika nyuh gading ini bersifat pralina.
Hal serupa juga dilakukan saat Buda Kliwon Pegatwakan. Sisa penjor setelah dibakar dimasukkan ke dalam nyuh gading, untuk dipendem, sesuai dengan rujukan Lontar Sundarigama
Bungkak nyuh gading memiliki fungsi lain, yakni sebagai sauca atau pembersihan. Meskipun tanpa dilengkapi dengan mantram maupun dirajah, namun tetap bisa dijadikan sarana pembersihan.
Fungsi terakhir sebagai sarana pada ritus magis. Dalam Lontar Rajah Pangereka Bungkak, bungkak nyuh gading dapat digunakan untuk menghidupkan ilmu kebatinan seseorang.
Bungkak nyuh gading dianggap sebagai air langit. Karena posisinya di atas tanah, dan airnya secara tertutup, sehingga sangat murni dan bersih.
“Pada teks itu dijelaskan, bungkak nyuh gading bisa digunakan untuk memohon cuaca cerah. Itu dikaitkan sebagai sarana oleh juru penerang,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra