Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik, Menggantung Ari-ari di Tigawasa Sebagai Penghormatan 4 Saudara

I Putu Suyatra • Sabtu, 15 Januari 2022 | 17:39 WIB
PIGI: Tempat pembuangan ari-ari yang disebut Pigi. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
PIGI: Tempat pembuangan ari-ari yang disebut Pigi. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suasana desa terasa sangat lekat. Pagi itu cuaca cukup cerah. Perjalanan menuju Desa Tigawasa pun terasa romantis.

Sepanjang perjalanan dihadapkan dengan berbagai aktivitas warga di pagi hari. Menyabit rumput, berjualan kue tradisional, menggembala sapi, memberi pakan babi. Bahkan ada yang memanjat kelapa. Desa Tigawasa merupakan salah satu desa Bali Aga yang ada di Buleleng. Penduduk di desa ini telah berkembang sejak abad ke-8. Nuansa tradisional masih sangat lekat. Mulai dari prilaku, kebiasaan, bahasa hingga kepercayaan.

Keunikan-keunikan itu hingga kini masih sering dilakoni masyarakat desa. Bahasa sehari-hari yang digunakan sangat kental dengan dialek tertentu. Sulit untuk ditiru dan dipahami oleh masyarakat diluar desa.

Keunikan lainnya adalah soal ari-ari. Di desa ini ari-ari bayi yang baru lahir itu dibuang. Caranya pun sangat unik. Ari-ari dibungkus menggunakan upih atau daun pohon pinang. Kemudian digantung. Menggantungnya pun ada aturannya. Tidak terlalu tinggi, tidak juga terlalu rendah. Cukup setara setinggi dada orang dewasa.

Photo
Photo
Jro Mangku Ketut Sudaya (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)

"Kalau tidak ada upih, dibungkus dengan tikar yang digunakan untuk melahirkan," ungkap Jro Mangku Ketut Sudaya, seorang pemangku desa atau pemuka agama di Desa Tigawasa.

Kebiasaan-kebiasaan membung ari-ari dengan cara digantung itu hingga kini masih dilakukan. Kendati telah jarang, namun kepercayaan masyarakat desa Tigawasa sangat kuat.

"Masih ada. Tapi sekarang dibungkusnya menggunakan plastik," singkatnya.

Tidak ada ritual khusus saat melakukan pembuangan air-ari itu. Kebiasaan menggantung ari-ari bayi itu tidak dilakukan di rumah seseorang yang melahirkan, namun digantung di sebuah hutan yang disebut dengan Pigi. Disanalah ari-ari bayi tergantung. Ada pula yang ditanam di Pigi itu.

"Sekarang sudah mulai ditanam. Mulai tahun 1975 orang sudah menanam. Ditanam begitu saja. Digantung begitu saja setinggi dada, tidak terlalu tinggi. Tidak ada yang menggantung atu menanam di rumah seperti yang dilakukan pada umumnya. Semuanya di Pigi," lanjutnya.

Meski saat ini jarang ada yang melakoni kebiasaan itu, namun masih ada yang melakukan. Masyarakat desa Tigawasa percaya, jika menggantung ari-ari bayi, kelak ketika bayi itu tumbuh dewasa maka ia akan tumbuh kuat serta diberkahi dalam pekerjaannya. Misalnya, ketika ari-ari itu digantung, kelak anak yang tumbuh dewasa akan pandai memanjat pohon. Baik itu cengkeh atau pepohonan lainnya yang tumbuh di desa Tigawasa.

"Dulu orang menggantung ari-ari itu mengharapkan atau mendoakan anaknya agar dapat memanjat pohon ketika besar nanti. Atau menjadi tumbuh tinggi. Itu kepercayaan, apa yang kita harapkan bisa saja menjadi kenyataan. Itu sugesti, sugesti bisa kita hidupkan, bisa kita jadikan pelajaran," tuturnya.

Masyarakat Desa Tigawasa pun sangat percaya bila melakukan hal yang tidak baik di tempat pembuangan ari-ari maka roh-roh ari-ari itu akan memberikan kutukan. Walau dikatakan saat melakukan penggantungan ari-ari tidak ada pengaruhnya bagi bayi, namun hal-hal mistik seperti itu ada di desa tersebut.

"Nah apabila kita melakukan hal yang tidak baik di tempat itu maka akan diganggu oleh tonya. Tonya itu berasal dari roh-roh ari-ari ynag dibung disana. Istilahnya Ketemelan," tegas Jro Sudaya.

Walau akan mengalami Ketemelan bila melakukan hal yang kurang baik, namun ilmu pengeleakan di tempat itu tidak mempan. Meski ari-ari yang digantung atau diletakkan dalam Pigi itu berbau amis yang notabene disukai oleh makhluk halus, namun di desa itu tidak pernah terjadi.

"Kalau perihal black magic tidak mungkin bisa juga dilakukan, karena di desa Tigawasa tidak memiliki pura prajapati. Dalem setra dan dalem pemuunan, itu tidak ada di sini sehingga jika ada yang melaukan pengeleakan itu tidak bisa terwujud," kata dia.

Tradisi menggantung ari-ari di desa Tigawasa ini terbilang sangat unik. Namun sangat sedikit orang yang mengetahui keunikan ini. Sebab masyarakat desa tidak pernah melakukan publikasi apa pun.

Keunikan ini dilakukan layaknya melakukan kebiasaan sehari-hari. Penggantungan ari-ari ini juga disebut-sebut sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada saudara 4 yang ada pada diri manusia.

"Kalau ari-ari itu sama dengan sampah kelahiran. Di Bali sampah kelahiran itu adalah saudara 4 manusia. Ada darah, plasenta, ketuban dan ari-ari. Merekalah yang melindungi manusia. Ketika upacara tiga bulan, mereka akan dipanggil kembali untuk menemani bayi yang diupacarai," tutupnya. Editor : I Putu Suyatra
#tigawasa #bali #GANTUNG ARI ARI #hindu #tradisi unik #buleleng