Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga mengatakan, pembagian wilayah dalam Lontar Asta Bhumi terdiri dari panca raksa. Diantaranya, Sri Raksa, melingkupi sudut timur laut difungsikan untuk lokasi membangun sanggah-pemerajan atau tempat suci keluarga.
Kemudian pada bagian Guru Raksa, melingkupi sudut tengah, diperuntukkan untuk tempat suci lebuh, Durga Raksa, pada sudut Barat Daya diperuntukkan sebagai tempat membangun kandang ternak rumahan atau hewan peliharaan dan bangunan dapur.
Selanjutnya Kala Raksa, mewilayahi sudut Barat Laut, yang diperuntukkan untuk tempat membangun palinggih tugu/panunggun karang, sumur/sumber air bersih, dan kamar mandi. Serta Siwa Raksa, melingkupi bagian tengah pekarangan sebagai tempat mendirikan bangunan pelinggih Siwa Reka.
“Jenis palinggih di tengah pekarangan inilah yang pada umumnya dikenal dengan sebutan Surya Natah. Dikatakan Ariyoga, bentuk arsitekturnya Palinggih Surya Natah ini sangat terkait dengan Ista Dewata manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang akan distanakan nantinya,” ujarnya.
Ia menyebut, terdapat tiga tipe bentuk, yakni berbentuk dasar persegi empat-bujur sangkar. Dimana, tetap menganut konsep tri angga (tiga bagian badan) bangunannya, yakni bagian kaki (tepas ujan dan bebaturan), badan atau pengawak (tersusun atas palih taman-sari) dan bagian kepala atau sari terbuat dari gedong kayu dengan bentuk atap limas.
Penutup atap berbahan ijuk dan genteng, untuk menstanakan Sang Hyang Mpu Bumi. Palinggih Surya Natah seperti ini berfungsi sebagai 'pangijeng natah' atau penjaga halaman hunian dari pergolakan pertemuan dua kutub energi, karena diyakini di natah menjadi titik pertemuan energi bapa-akasa (maskulin) dengan energi ibu-pertiwi (feminim).
“Pertemuan dua kutub energi ini menciptakan (ngreka) kehidupan, dengan demikkian ada juga yang kemudian menyebut palinggih ini sebagai stana Sanghyang Siwa Reka,” papar pria asal Bakbakan, Gianyar ini.
Kemudian ada Surya Natah berbentuk dasar dan pepalinggihan sama seperti palinggih pertama yang telah disebutkan di atas. Demikian juga bagian sarinya juga dari gedong kayu, namun dengan penutup atap alang-alang. Umumnya bentuk ini bertujuan untuk menstanakan Sang Hyang Taksu Usada/Balian.
“Secara fungsi untuk pemujaan kepada ista dewata terkait pengobatan, yakni Sang Hyang Siwa Mahosadhi termasuk pengayatan kepada Dewi Danuantari dan Bhagawan Kasyapa. Dengan demikian Palinggih Surya Natah beratap alang-alang ini biasanya ada di halaman rumah para praktisi usadha,” sebutnya.
Selanjutnya tipe Ketiga, palinggih Surya Natah yang berbentuk Padmasari. Palinggih tipe ini berfungsi untuk Pangoleman pangundang dalam arti panyawangan atau pangayatan kepada para dewa. Baik Dewa Pratista atau manifestasi Tuhan maupun Atma Pratista, roh suci leluhur yang sudah menyatu dengan Siwa.
“Fungsi utamanya untuk melakukan pemujaan ngayat/ngubeng ke seluruh Pura Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat, Dang Kahyangan Jagat, Dang Kahyangan dan Pura Kawitan,” jelasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya