Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan, jauh sebelum tradisi Perang Api dikenal, sudah ada pemujaan Hyang Api (Dewa Api). Itu dapat dilihat dari temuan sejumlah prasasti yang menyebutkan tentang pemujaan Dewa Api seperti dalam Sukawana AI (Caka 804-892M). Bahkan, munculnya pemujaan terhadap Hyang Api karena adanya rasa kagum dan hormat dari peristiwa munculnya api unggun gaib.
Kemungkinan pendirian Hyang Api lainnya juga diawali oleh perstiwa-peristiwa gaib yang serupa. Misalnya dari nama Pura Labuh Api (api jatuh) yang ada di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan. Demikian pula Pura Kobar Api yang ada di Denpasar Barat, menunjukkan gejala yang serupa.
Dikatakan Suka, rasa kagum bercampur takut dan hormat terhadap peristiwa gaib tersebut, memengaruhi perilaku warga untuk mewujudkan rasa hormat dan bhakti tersebut dalam bentuk bangunan suci dan perilaku ritual secara rutin terhadap Dewa Api.
“Hal ini dimaksudkan agar mereka terhindar dari bahaya atau bencana akibat api, bahkan sebaliknya berharap mendapatkan berkah untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup bersama,” ujarnya, Rabu (30/1).
Sebelum masuk dan kuatnya pengaruh agama Hindu dan Budha di Bali, Dewa Api merupakan salah satu tokoh Dewa Mayor (Dewa tertinggi) yang dipuja oleh masyarakat Bali purba.
Pemujaan Dewa Api sudah muncul atau berkembang cukup mantap paling tidak pada masa Megalithik. Pemujaan terhadap Hyang Api lambat laun menimbulkan sebuah tradisi Perang Api. Tradisi ini pun tumbuh di desa-desa di Bali. Momentumnya dilaksanakan jelang perayaan hari Raya Nyepi atau pergantian tahun saka di Bali.
“Perang Api masih eksis hingga kini dan masih dilestarikan, terutama menjelang perayaan Nyepi dimana sebelum dilaksanakan sipeng, maka pada saat Pangerupukan rata-rata dilaksanakan Perang Api. Tradisi ini menyebar di Bali,” paparnya.
Sebut saja tradisi Perang Api di Desa Adat Unggahan, Kecamatan Seririt, Buleleng. Tradisi ini dilaksanaan menggunakan sarana api dan merupakan rangkaian dari menyambut Nyepi. Proses pelaksanaanya dilakukan setelah upacara macaru, dan upacara Mabubu. Saat Mabubu inilah tradisi Perang Api itu dilaksanakan di pusat desa.
Adapun sarana yang digunakan diantaranya danyuh atau daun janur yang sudah tua dan dikeringkan, kemudian diikat sebesar paha orang dewasa. Kemudian danyuh tersebut dibakar dan dicarikan lawan yang ukurannya sama dengan ikatan danyuh lawan.
“Perang api berakhir jika danyuh yang dibakar tersebut mati, begitu seterusnya Perang Api berlanjut diatraksikan sampai peserta dari Perang Api tersebut habis,”paparnya.
Tradisi Perang Api di Desa Adat Unggahan merupakan tradisi yang sangat sakral. Apabila tidak dilaksanakan karena pertimbangan tertentu, maka sebagai gantinya adalah menghaturkan banten guru piduka.
Banten ini merupakan sarana untuk memohon maaf atau pengampunan atas kesalahan yang dilakukan, baik disengaja maupun tidak. Tradisi yang telah dilaksanakan secara turun-temurun, mempunyai latar belakang yang berbeda dengan tradisi daerah lainnya.
“Tradisi Perang Api bertujuan memeriahkan perayaan Hari Raya Nyepi, memupuk kejujuran, pengendalian diri maupun mengendalikan rasa ego bagi peserta yang mengikuti tradisi Perang Api tersebut,” paparnya.
Tradisi Perang Api yang dikenal dengan nama Lukat Gni, juga dilakukan oleh warga Puri Satria Kawan, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung.
Tradisi ini turun-temurun dilaksanakan setiap tahun, Tilem sasih Kasanga atau malam Pangrupukan, sehari menjelang Nyepi.
Lukat Gni atau disebut juga Perang Api berasal dari dua kata, lukat dan gni. Lukat atau malukat berarti pembersihan dari segala kotoran lahir dan batin. Gni berarti api.
Lukat Gni dapat diartikan sebagai sebuah tradisi pembersihan atau penyucian bhuana alit (mikrokosmos) dan bhuana agung (makrokosmos) dari segala kekotoran atau mala dengan sarana api, juga menjaga keseimbangan alam dan manusia, sehingga terjadi keharmonisan dalam pelaksanaan Catur Brata Panyepian.
Prosesi diawali dengan melakukan persembahyangan bersama di pura atau merajan setempat, guna memohon keselamatan dan kelancaran pelaksanaan Lukat Gni.
“Puluhan pemuda yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini selanjutnya menuju catus pata atau perempatan desa untuk melaksanakan tradisi tersebut,” ujar Suka.
Para peserta selanjutnya menghantamkan api dari danyuh (daun kelapa kering) yang diikat kepada masing-masing lawan yang diiringi suara tabuh baleganjur. Para peserta tidak nampak luka, meski dipukul dengan api.
Tradisi Lukat Gni atau Perang Api merupakan tradisi warisan leluhur yang ada di Puri Satria Kawan. Tradisi ini merupakan salah satu jenis panglukatan yang dilaksanakan untuk membersihkan atau menyucikan bhuana alit dan buana agung.
“Tradisi ini diharapkan mampu menetralkan pengaruh-pengaruh negatif dan tercipta keharmonisan pada diri dan keseimbangan alam semesta,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya