Setiap 210 hari, tepatnya Saniscara Kliwon Wuku Landep, umat Hindu di Bali merayakan Hari Tumpek Landep, yang kali ini jatuh, Sabtu, 9 April 2022.
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tumpek Landep diyakini sebagai waktu baik turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati, yaitu Dewa yang berkuasa atas segala jenis senjata atau alat-alat yang terbuat dari logam.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan, kata Landep dimaknai sebagai ketajaman, sehingga dimaknai sebagai momentum untuk memeringati segala hal yang tajam dan runcing.
“Makna secara filosofis dari arti tajam adalah pikiran. Atau Landeping idep. Sehingga yang dipertajam adalah pemahaman, wawasan dan pengetahuan agar tetap diasah dengan belajar,” ujarnya, Rabu (6/4) siang.
Dalam implementasinya, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Landep dengan membuatkan upacara seperti berbagai macam pusaka warisan dari para leluhur yang dikeramatkan. Seperti keris,tumbak, pisau, sabit, dan senjata lainnya.
“Semua tujuan upacara itu dihaturkan kepada manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai semua senjata atau peralatan seraya memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar semua peralatan itu bertuah,” paparnya.
Tak hanya beragam jenis senjata, perayaan Hari Tumpek Landep tak dipungkiri mengalami pergeseran terhadap alat-alat yang terbuat dari logam. Seperti alat elektronik, kendaraan, perabot rumah tangga, yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Peringatan Tumpek Landep ini mengandung makna bahwa manusia harus selalu sadar untuk mengasah ketajaman batinnya. Diharapkan dengan ketajaman batin tersebut akan terbangun sifat dan sikap hidup yang peka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.
Kepekaan terhadap masalah sosial akan menyebabkan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial seperti masalah kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya. Ketajaman pikiran diartikan sebagai sebuah penghayatan agar dapat berjalan pada jalan yang benar.
“Masalah sosial seperti kemiskinan, di tengah pandemi Covid-19 membuat kita harus semakin peka terhadap lingkungan. Kita bisa terjun untuk membantu sesama. Bisa juga terlibat dalam aksi sosial dengan berbagai ilmu pengetahuan kepada orang lain, sebagai wujud kepekaan sosial,” katanya.
Ia menyebut, manusia harus menjadikan pikiran sebagai sumber kebahagiaan dengan mengendalikannya. Menurutnya, manusia harus menjadi joki bagi kuda-kuda pikirannya yang mengarahkan ke arah yang baik.
“Jangan biarkan kuda-kuda pikiran yang mengarahkanmu menuju kesengsaraan pikiran. Di sini penajaman pikiran perlu dilakukan untuk meluruskan fungsi dan kegunaan alat-alat yang digunakan untuk kehidupan tersebut jika ada yang melenceng dari jalur penggunaannya,” paparnya.
Perayaan Hari Tumpek Landep tertuang dalam Lontar Sundarigama. Menurut Nyoman Suardika, dalam Lontar Sundarigama menjelaskan tentang banten-banten yang dipersembahkan pada saat upacara Tumpek Landep.
"Kunang ring wara landep, saniscara kliwon, pujawalin bhatara siwa, mwah yoganira sanghyang pasupati, pujawalinira bhatara siwa, tumeng putih kuning adanan, iwak sata putih, sarupane wenang, gerang, trasi bang, sedah who, aturakna ri sanggar. Yoganira sanghyang pasupati, sasayut pasupati 1, sasayut jayeng perang 1, sasayut kusuma yudha 1, suci 1, daksina 1, peras ajuman 1, canang wangi, tadah pawitra, reresik, astawakna ring sarwa dewa lalandep ing aperang, kalinganya rikang wwang, apasupati landep ing idep, samangkana, lekasakna sarwa mantra wisesa, danu dhara, uncarakna ring bhusana ning paperangan kunag, minta kasidyan ring Sang Hyang Pasupati".
Jika diterjemahkan : Pada wuku landep, yakni pada hari Sabtu Kliwon Landep merupakan hari suci Bhatara Siwa dan hari suci Sanghyang Pasupati. Sesajen untuk persembahan kepada Bhatara Siwa terdiri atas tumpeng putih kuning, daging ayam putih, ikan teri, terasi merah, sedahan who dipersembahkan di Sanggar.
Sesajen untuk persembahan kepada Shangyang Pasupati terdiri atas 1 sasayut pasupati, 1 sasayut jayeng perang, 1 sasayut kusuma yudha, 1 suci, 1 daksina, 1 peras ajuman, canang wangi, tadah pawitra (air suci), reresik, dipersembahkan kepada para dewa penguasa senjata tajam yang digunakan di medan perang. Maknanya adalah menajaman batin dan pikiran.
Karena itu, pada saat Tumpek Landep umat wajib merapalkan mantra-mantra mujarab, terutama mantra danurdhara, dirapalkan untuk mendoakan kekuatan busana perang, mohon keberhasilan kepada Sang Hyang Pasupati
Ia mengatakan, penggunaan Sasayut Pasupati pada upacara Tumpek Landep dilakukan mengingat benda-benda tersebut merupakan alat untuk mempertahankan diri dan alat sakral sebagai tanda bahwa seseorang memiliki kekuasaan serta wibawa dalam teritorial tertentu.
Banten Sasayut Pasupati ini umumnya dihaturkan pada mobil dan sepeda motor. Pamangku yang memimpin upacara umumnya memercikan tirtha dan mengoleskan minyak yang terdapat pada Banten Pasupati.
Banten Sasayut Pasupati yang digunakan pada saat upacara Tumpek Landep ditujukan kepada Sang Hyang Pasupati agar yang diharapkan oleh umat dapat terkabul. Selain itu, untuk memohon keselamatan dalam memanfaatkan alat-alat yang digunakan pada kehidupan.
Pasupati juga merupakan permohonan untuk menghidupkan benda-benda sakral dengan menggunakan Upacara Pasupati untuk dapat memberi kekuatan magis pada benda. ”Jadi, tumpek Landep tujuannya mengasah pikiran layaknya perabotan-perabotan yang digunakan tersebut, supaya lebih tajam dan berguna untuk kebaikan. Pikiran yang tajam akan mampu memerangi kebodohan dan menekan sifat bhutakala dalam diri,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya