Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pantang Ngaben Tiga Sawa Bersamaan dan Ngalangkar Watangan

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 9 April 2022 | 04:25 WIB
Bendesa Adat Tumbak Bayuh Ida Bagus Gede Widnyana. dok Bali Express
Bendesa Adat Tumbak Bayuh Ida Bagus Gede Widnyana. dok Bali Express
BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung memiliki sebuah pantangan dalam pelaksanaan Ngaben.

Pantangan tersebut adalah tidak boleh melaksanakan Ngaben dengan jumlah tiga sawa secara bersamaan. Selain itu, Ngaben ngalangkar watangan juga jadi pantangan di desa setempat.

Bendesa Adat Tumbak Bayuh Ida Bagus Gede Widnyana mengatakan, pada dasarnya pelaksanaan Ngaben di tempatnya memiliki kemiripan dari desa lainnya. Seperti halnya dalam penentuan waktu pelaksanaannya juga ditentukan sesuai dengan hari baik.

Ngaben tidak boleh dilaksanakan saat bertepatan dengan piodalan di Pura Kahyangan Tiga, disesuaikan juga dengan situasi di lingkungan masing-masing banjar. Seperti misalnya saat ada pelaksanaan upacara Panca Yadnya lainnya.

“Contohnya saat ada upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, dan Rsi Yadnya, sehingga pelaksanaan Ngaben sebaiknya setelah upacara tersebut atau mendahuluinya,” ungkap  Widnyana saat dikonfirmasi Kamis (7/4).

Ia menerangkan, pantangan Ngaben yang paling mencolok adalah tidak diperbolehkan ngelangkar watang. Terutama saat ada kematian di ruas jalan yang sama menuju setra. Saat ada lebih dari satu kematian, yang boleh melaksanakan Ngaben terlebih dulu adalah yang rumah paling dekat dengan setra.

“Kami akan menggunakan konsep luan ke teben. Ini berlaku untuk pelaksanaan pangabenan di satu ruas jalan yang sama. Misalnya saat ada satu kematian dan sudah direncanakan melaksanakan Ngaben, tetapi kembali ada yang meninggal, namun rumahnya lebih dekat dengan setra, maka yang lebih dekat lah harus didahulukan ke setra. Begitu juga saat penentuan hari pangabenan, yang memiliki rumah lebih jauh dari setra tidak boleh mendahului,” bebernya.

Hal ini diyakini sebagai dresta yang tidak boleh dilanggar. Namun, pihaknya menyebutkan pernah dalam suatu kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan pantangan itu. Sehingga ia pun memohon petunjuk kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

“ Jadi mesti dihaturkan pajati guru bendu sewaka ngemaruak nyepih jalan. Jadinya diumpamakan jalan tersebut dibedakan atau disepih dulu dengan dipisahkan benang tridatu,” terangnya.

Ida Bagus Gede Widnyana menambahkan, masih ada satu pantangan yang tidak boleh dilaksanakan dalam upacara pangabenan, yakni saat watangan berjumlah tiga. Salah satunya harus mengalah dan mengambil hari baik lainnya. Apabila tidak bisa diundur, dapat dilakukan dengan menambah satu upacara Ngaben untuk ayam hitam.

“Kalau memang tidak bisa dihindari, maka kami akan menghaturkan pangampura di Ida Sasuhunan Prajapati. Sehingga yang melakukan upacara terakhir akan menambahkan upacara Ngaben untuk ayam hitam,” imbuhnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #balinese #Pantang Ngaben Tiga Sawa Bersamaan #Ida Bagus Gede Widnyana #Bendesa Adat Tumbak Bayuh #hindu #pura #budaya #Ngalangkar Watangan