Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Made Gami Sandi Untara menyebut, melakukan puja bhakti tersebut merupakan jalan atau cara untuk mencapai kelepasan (moksa). Namun, lain halnya bagi setiap manusia yang tidak pernah berbakti kepada para leluhurnya, bahkan tidak mensthanakan roh suci leluhurnya di Sanggah Kamulan.
“Maka ia akan mendapatkan karma phala yang tidak baik bagi kehidupannya, seperti kehidupan yang sengsara dan sering mengalami kesakitan selama hidupnya,” ungkapnya.
Dalam Lontar Purwa dijelaskan penggunaan daksina palinggih Sang Dewa Pitara sebagai sarana pemujaan leluhur. Daksina itu distanakan di Kamulan, kalau laki (roh suci itu) di stanakan di ruang bagian kanan, kalau perempuan, distanakan di ruang kiri (dari Kamulan) di sana bersatu dengan Dewa Hyangnya dulu. Oleh Sang Pandita diberikan puja jaya-jaya, lalu disembah oleh keturunannya.
Daksina Palinggih itu boleh dilukar terus dibakar. Abunya dimasukkan ke dalam kelapa gading disertai dengan kewangen lalu ditanam di belakang sanggah Kamulan. Prosesi ini dilakukan sembari mengumandangkan kekidungan. “Seperti inilah salah satu cara dalam berbakti kepada leluhur seperti dalam Lontar Purwa,” paparnya.
Di Bali, sikap tidak ingat atau bhakti dengan leluhur, Dewa Pitara, Sang Dewa Pitara sangat berakibat fatal. Dalam Lontar Purwa disebutkan, keturunan dan keluarganya bisa saja tertimpa penyakit disakiti oleh Dewa Pitaranya, itulah yang menyebabkan datang penyakit yang aneh-aneh dan tidak bisa diobati menurut ketentuan usada.
“Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tidak patut, gila-gilaan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, boros kekayaannya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum, sebab telah dirusak oleh bhuta kala karena Dewa Pitara tidak mempunyai tempat,” imbuhnya.
Dalam Lontar Purwa juga dijelaskan jika ada seseorang yang tidak menuntaskan kewajibannya sebagai anak untuk mengupacarai orang tua bahkan leluhurnya sampai selesai, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang dipenuhi dengan kesulitan dan kesengsaraan. Bahkan, mereka akan tertimpa banyak masalah dan juga penyakit yang sulit untuk diobati.
Hal tersebut juga akan memberikan pengaruh terhadap keturunan selanjutnya. Sehingga keturunan selanjutnya pun juga akan ikut untuk merasakan hukuman bagi mereka yang tidak menjalankan kewajibannya secara baik dan benar.
Dari hal tersebut maka diperlukan kesadaran setiap individu guna untuk mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi. “Melalui pemujaan Palinggih Kamulan kita diharapkan eling dengan kawitan. Apalagi kita memiliki utang Pitra Rna (utang kepada orang tua dan leluhur), maka diwajibkan setiap manusia untuk membayar utang tersebut, salah satunya melalui bhakti,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya