Dikatakannya, dalam Lontar Raja Bhairawa, Sang Hyang Acintya telah pula bersifat Sadguna Brahman. Sama dengan Sang Hyang Iswara atau Sang Hyang Bayu. Sedangkan dalam Lontar Nawaruci, sebagai pencipta atau asal mula Dewata Nawa Sanga, Sapta Resi dan Dewa Catur Loka Pala.
Pria yang juga sebagai pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Kabupaten Gianyar ini menambahkan, Sang Hyang Acintya adalah penggambaran Tuhan. Baik dalam aspek Nirguna Brahman maupun dalam aspeknya yang Sadguna Brahman.
“ Nirguna Brahman adalah aspek Tuhan yang masih pasif, sedangkan Sadguna Brahman aspek Tuhan yang sudah aktif sebagai pencipta, pemelihara, pamralina,” imbuhnya.
Dalam Lontar Siwagama, Sang Hyang Acintya disebutkan berwujud bayangan tanpa batas karena kesempurnaannya, tanpa jenis kelamin. Di dalam Lontar tersebut dinyatakan wujud manusia tanpa jenis kelamin melambangkan salah satu sifat Tuhan adalah Ardhanareswari. “Tidak laki juga tidak perempuan,” tegasnya.
Ada digambarkan berdiri dua kaki ada pula berdiri dengan satu kaki atau Ngekapada. “Dua kaki melambangkan Rwa Bhineda, yaitu Purusa dan Pradana. Dalam wujud dua kaki melambangkan Tuhan itu masih Nirguna Brahman yaitu masih pasif, belum mencipta dan lain-lain,” katanya.
Sedangkan dalam wujud Ngekapada dimana kaki kiri berjinjit dan ditekan oleh kaki kanan. “Tampaknya melambangkan bahwa Tuhan itu sudah Sadguna Brahman, dimana purusa telah menggerakkan predana. Pertemuan purusa dan predana inilah menimbulkan ciptaan kemahakuasaan Tuhan dan tak terpikirkan,” jelasnya.
Dalam Lontar Raja Bhairawa, Sang Hyang Acintya disamakan dengan Sang Hyang Iswara. Demikian pula dalam lontar lainnya ada disamakan dengan Dewa Siwa. Sang Hyang Acintya dilukiskan dengan menggerakkan cakra dan padma.
“Kaki kiri berjinjit pada cakra dan cakra menggerakkan padma. Cakra lambang senjata Dewa Wisnu penggerak alam semesta. Kalau alam semesta ini berhenti bergerak, hancurlah alam ini,” imbuhnya.
Disebutkannya, Tuhan memelihara alam ini dengan penggerak cakra sebagai ciri kehidupan. Karena gerak itu ada musim, iklim, ada angin dan lainnya. Padma adalah lambang alam semesta stana Tuhan yang sebenarnya. Sebagaimana disebutkan dalam Yajur Weda.
Sedangkan penggunaan lambang Acintya menskalakan niskala dan penggambaran Tuhan Yang Maha Esa tiada lain adalah sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
Lambang Acintya ini menyatukan sekte-sekte yang pada awalnya ada di Bali. “Karena lambang tersebut merupakan penyatuan, Sang Hyang Acintya disebut juga Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal menggambarkan Tuhan Yang Maha Esa tidak ada yang kedua. Juga lambang pemersatu umat,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya