Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pamangku Pura Menjangan Semua Titah Gaib, Pantang Babi Guling

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 4 Mei 2022 | 16:25 WIB
KIDUL : Palinggih Ratu Kanjeng Kidul. Putu Mardika/Bali Express
KIDUL : Palinggih Ratu Kanjeng Kidul. Putu Mardika/Bali Express
SINGARAJA, BALI EXPRESS -Kawasan Pulau Menjangan di Desa Sumber Kelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng tidak hanya dijadikan sebagai kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Tetapi juga menjadi kawasan wisata spiritual yang cukup dikenal di kalangan penekun spiritual karena terdapat belasan palinggih.

Sejumlah pura di areal inipun sudah dibangun sejak 1999 silam. Seperti halnya sebuah tempat suci, pasti memiliki hari odalan atau Pujawali, seperti juga Pura Menjangan yang pujawalinya jatuh saat Purnama Sasih Kapitu. Pamedek yang nangkil pun dari berbagai penjuru Nusantara.

Photo
Photo
BEJI : Pura Taman Beji atau Palinggih Pingit Klenting Sari.Putu Mardika/Bali Express

Detetan petsembahyangan di kawasan Pura Menjangan cukup panjang karena banyak ada palinggih. Pamedek akan mengawali bersembahyang dari Palinggih Lebuh. Setelah itu wajib melakukan persembahyangan di Pura Taman Beji.

Setelah itu menuju ke Pasraman Brahma Ireng linggih Ida Ratu Lingsir Kebo Iwa. Kemudian persembahyangan dilakukan ke Palinggih Dewi Kwam Im, Palinggih Gajah Mada yang meraga Wisnu Murti.

Persembahyangan kemudian bergeser ke Palinggih Dalem Waturengggong, Dalem Erlangga, Hyang Bhatara Pasupati, Ida Bhatara Hyang Ganesha, Linggih Ida Ratu Kanjeng  Roro Kidul,  linggih Ida Ibu Parwati, Lingga Yoni dan Sang Hyang Semar. Seluruh persembahyangan dipimpin langsung oleh pamangku.

Ratu Ibu Tungga Bhuwana Pertiwi selaku pangempon kawasan Pura Gili Menjangan mengatakan kawasan Pura Gili Menjangan yang mulai dibangun sejak tahun 1999 ini, saat  pujawali umumnya nyejer selama 7 hari tahun pertama. Kemudian tahun kedua nyejernya selama 11 hari. Begitu seterusnya secara bergantian di angka tujuh hari dan sebelas hari.

“Misal tahun 2000 pujawalinya diambil nyejer selama 7 hari saat Purnama Sasih Kapitu. Kemudian tahun 2001 itu diambil nyejer selama 11 hari. Memang itu permintaan Beliau (Gajah Mada),” ungkapnya.

Pamangku yang ngayah pun jumlahnya cukup banyak. Mereka sebagian besar ngayah karena kajumput (ditunjuk secara niskala). Kisah para pamangku pun sebutnya beragam, sehingga mereka bisa ngayah di Pulau Menjangan.

Ada yang karena sakit tak kunjung sembuh dan tidak terdeteksi secara medis, ada pula karena mengalami berbagai musibah yang tak henti-hentinya. Hingga akhirnya mereka mendapat petunjuk untuk ngayah di Pulau Menjangan.

“Memang tidak boleh sembarangan masuk (ngayah) di sini. Kalau hanya sebatas ngaku kajumput, tetapi tidak ikhlas, biasanya bisa tidak kuat bertahan. Karena kalau sudah ngayah itu harus ikhlas. Bisa sehari full melayani pamedek yang nangkil sampai lupa makan karena saking padatnya. Mereka yang kajumput rata-rata memang sudah siap lahir bathin,” paparnya.

Saat hari Purnama dan Tilem jumlah pamedek yang nangkil mencapai ratusan orang. Jumlah itu bisa dilihat dari orderan boat yang mencapai 35 boat per hari. Jika setiap boat isinya 10 pemdek, maka dalam sehari jumlahnya mencapai 350 orang yang nangkil untuk sembahyang.

Disinggung terkait pantangan saat nangkil, Ratu Ibu menyebut agar pamedek tidak menghaturkan daging babi seperti babi guling ke palinggih di kawasan Pulau Menjangan. Sebab, dari beberapa kali pengalaman yang terjadi, babi guling akan diseruduk oleh hewan Menjangan dan dibawa kabur entah kemana.

“Pernah sudah terjadi, umat bawa daging babi langsung dibawa sama Menjangan kemudian dibuang. Itu Sudah berkali-kali kejadiannya. Umat sudah membuktikan. Jadi jangan sampai seperti itu. Bisa haturkan sarana apapun, selain daging babi,” tutupnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#11 Palinggih #bali #balinese #Pawisik Gajah Mada #adat #hindu #pura #budaya #tradisi #Pura Menjangan