SALAH seorang warga Desa Adat Selulung, Putu Ardiyasa, mengatakan Wadak sangat dihormati dan disakralkan masyarakat, karena sebelum wadak diliarkan harus melalui proses upacara yang disebut upacara pengeleb.
Dikatakan Ardiyasa, sampai saat ini belum ditemukan bukti berupa prasasti, lontar maupun babad yang secara tertulis yang menyebutkan tentang sejarah wadak di kawasan Desa Adat Selulung. Namun, sejarah wadak hanya berupa cerita lisan yang diwariskan secara turun temurun.
Krama Selulung meyakini jika keberadaan wadak erat hubungannya dengan kepercayaan yang dianut masyarakat setempat yaitu Hindu Siwa. “Untuk menunjukan rasa bakti masyarakat kepada Dewa Siwa maka dihaturkan sapi jantan Bali sebagai simbolis dari lembu Nandini tunggangan Dewa Siwa. Selanjutnya sapi tersebut disebut dengan wadak,” ujar pria yang juga akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.
Berdasarkan cerita yang diterima dari pendahulunya, wadak dikaitkan dengan pelaksanaan upacara Raja Homa pada masa pemerintahan Raja Jaya Pangus yang memerintah di Bali sekitar tahun 1099-1103 Caka. Raja Jaya Pangus adalah raja yang memerintahkan rakyatnya terutama dalam hal adat istiadat,kebanyakan prasasti yang dibuat oleh Raja Jaya Pangus memang terkait dengan adat istiadat di desa
“Wadak itu berasal dari bahasa kawi yaitu warak yang kemudian dalam bahasa Jawa diartikan menjadi badak. Badak ini dikaitkan dengan upacara Raja Homa yang menggunakan badak sebagi hewan kurban,” paparnya.
Pada saat itu upacara serupa juga dilaksanakan di kawasan Selulung yang disebut upacara mabiaya. Secara filososfis, upacara mabiaya bertujuan untuk menyeimbangkan antara bhuana agung dan bhuana alit.
Hanya saja, upacara mabiaya sulit dilaksanakan karena badak tidak ditemukan di pulau Bali. Solusinya, masyarakat mengganti badak dengan hewan yang memiliki ciri-ciri menyerupai badak. Yaitu sapi jantan Bali.
“Pertimbangannya karena sama-sama berkaki empat dan bertanduk. Agar sapi tersebut dapat berfungsi sama seperti badak, dilakukan suatu upacara khusus yang disebut upacara pengeleb,” imbuhnya.
Pada jaman dahulu wadak ini akan disembelih pada saat upacara mabiaya. Hanya saja saat ini upacara mabiaya sudah tidak dilakukan lagi karena masyarakat percaya adanya kutukan. Dampaknya jumlah wadak terus bertambah sementara kemampuan masyarakat untuk mensuplai pakan terbatas. Akhirnya wadak diliarkan agar dapat mencari pakan sendiri.
“Sehingga saat ini masyarakat dapat memanfaatkan wadak sebagai pejantan dalam mengawinkan sapi betinanya,” sebutnya.
Pada upacara pengeleb sapi jantan yang dipilih sebagai wadak adalah sapi jantan yang mempunyai ciri-ciri sapi jantan unggul. Seperti rambut kecil tipis yang disebut bulu geles. Dari sisi usia muda, rata-rata berusia enam bulan sampai satu tahun. Begitu juga, godel harus berwarna merah bata, tidak berwarna putih. Termasuk, tidak cacat fisik baik pirung, peceng dan perot.
Upacara pengeleb dilakukan dengan memperhatikan padewasa. Dimana hari-hari baik dipilih sesuai dengan masyarakat yang membayar kaul. Namun, masyarakat kerap memilih pelaksanaan upacara saat anggara kliwon. Baik anggara kasih julungwangi, prangbakat dan dukut.
Ia menambahkan, masyarakat melakukan upacara pengeleb karena ada beberapa alasan. Pertama karena permohonan yang terkabulkan (kaul), telah dikaruniai anak laki-laki, atau bahkan karena telah mebunuh atau menjual wadak.
Masyarakat percaya apabila salah satu dari alasan tersebut di atas dilanggar, maka masyarakat yang bersangkutan akan mengalami sakit yang berkepanjangan. “oleh karena itu untuk dapat sembuh dari penyakit yang diderita tersebut masyarakat yang bersangkutan harus melakukan upacara pengeleb,” ungkapnya.