Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Saka Roras Rumah Adat Tigawasa, Rumah Tinggal Sekaligus Tempat Ritual

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 18 Mei 2022 | 14:27 WIB
SAKA RORAS : Rumah adat Saka Roras masih dipertahankan di Desa Adat Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Ist
SAKA RORAS : Rumah adat Saka Roras masih dipertahankan di Desa Adat Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Ist
SINGARAJA, BALI EXPRESS -Desa Adat Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng hingga kini masih melestarikan rumah adat yang disebut Saka Roras. Saka berarti tiang, Roras dalam bahasa Indonesia berarti dua belas (12).

Rumah adat ini tak hanya difungsikan sebagai tempat tinggal, rumah adat ini juga berfungsi sebagai tempat melaksanakan aktivitas ritual.

Kelian adat Desa Tigawasa Made Sudarmayasa mengatakan, secara struktur rumah adat ini memiliki 12 buah tiang kayu sebagai penyangga utama struktur bangunan. Rumah ini memiliki bentuk segi empat yang sederhana dan bentuk atap limasan.

Umumnya, fungsi ruang yang terdapat pada rumah adat menciptakan suatu tatanan ruang dalam. Sebagai tempat beristirahat terdapat dua buah bale (tempat tidur) yang berukuran sama dan terbuat dari kayu.

Kayu struktur dari bale ini adalah merupakan bagian dari struktur bangunan. Satu bale difungsikan untuk tempat tidur orang tua yang memiliki posisi di sebelah kanan pintu masuk (dekat dengan paon) dan satunya lagi berfungsi untuk tempat tidur anak yang berposisi di sebelah kiri pintu masuk.

Kemudian di dalam rumah juga terdapat paon (dapur) sebagai tempat memasak dan menyimpan perlengkapan serta persediaan makanan.

Paon berada tepat di sisi kanan pintu masuk. Terdapat area yang disebut dengan gentong sebagai tempat menyimpan peralatan dapur dan bahan makanan.

“Kalau tempat untuk bercengkrama dengan sesama anggota keluarga biasanya di dalam disediakan tempat menerima tamu yang posisinya berada di seberang paon dan bersebelahan dengan bale tempat tidur anak,” ujarnya.

Selanjutnya untuk tempat pemujaan leluhur,  terdapat sebuah meja yang terbuat dari tanah polpolan dan berada di antara dua buah bale yang ada pada bangunan adat ini. Terdapat pula tempat pemujaan yang digantung di atas bale tempat tidur orang tua yang disebut dengan pelangkiran,  dibuat dari bambu.

“Tempat pemujaan leluhur ini berada di luar bangunan tepatnya di bagian belakang bangunan, dibuatkan sebuah tempat pemujaan leluhur yang umumnya terbuat dari material berbahan bambu,” imbuhnya.

Ada pula tempat untuk menerima tamu berada di depan rumah yang disebut dengan ampik. Ia menambahkan, tidak semua rumah memiliki ampik. Hanya Saka Roras yang tertutup yang memiliki ampik.

Rumah Saka Roras juga dijadikan tempat untuk penyimpanan padi dan hasil bumi lainnya.  Untuk mewadahi penyimpanan ini terdapat bangunan yang berada tepat di depan rumah yang bernama jineng (lumbung) yang dimiliki oleh semua masyarakat di masa lampau. “Namun sekarang hanya beberapa masyarakat saja yang memiliki jineng karena sudah tidak lagi berprofesi sebagai petani,” sebutnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Saka Roras #Tempat Ritual #balinese #runah adat #Rumah Tinggal #hindu #pura #Rumah Adat Tigawasa