Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lawar Galungan Berkaitan dengan Sang Kala Tiga

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 7 Juni 2022 | 21:01 WIB
NGALAWAR: Lomba ngalawar di Desa Dangin Puri Kangin, Denpasar, Jumat (15/4) lalu. Lomba ini berkaitan dengan piodalan Pura Suwa Gina Taman Sari. Dok Bali Express
NGALAWAR: Lomba ngalawar di Desa Dangin Puri Kangin, Denpasar, Jumat (15/4) lalu. Lomba ini berkaitan dengan piodalan Pura Suwa Gina Taman Sari. Dok Bali Express
DENPASAR, BALI EXPRESS- Sehari sebelum Hari Raya Galungan, disebut Panampahan yang identik dengan nampah (menyembelih) babi dan membuat lawar. Mengacu pada ajaran tantra, binatang merupakan simbol kebodohan. Secara filosofi, Panampahan diartikan untuk membunuh kebodohan yang ada dalam diri Demikian disampaikan Budayawan I Gede Anom Ranuara, Senin (6/6).

Guru Anom-sapaan akrab I Gede Anom Ranuara ini, tidak memungkiri jika orang Bali asli menganut sekte Bhairawa. Jika difeminimkan Bhairawa menjadi Bhairawi yaitu Dewi Durga yang identik dengan olahan daging mentah. “Durga itu raksasa, Raksa itu menguasai dan Sa itu sendiri, sehingga ia ingin menguasai semua secara individualnya,” papar Guru Anom.

Dalam Lontar Hyang Durga disebutkan, semua olahan daging babi ditujukan kepada Dewi Durga, baik itu gayah maupun lawar. Ia menjelaskan bahwa lawar sama dengan anyang identik dengan olahan daging mentah. Namun dalam lontar caru tidak disebutkan adanya lawar, melainkan urab. “Ketika kita berbicara urab barak dan urab putih tidak ada anyang, namun kalau ada olahan mentah itu lah lawar,” ungkapnya.

Galungan selalu identik dengan lawar. Hal ini dikarenakan dalam perayaan Hari Raya Galungan berkaitan dengan Sang Kala Tiga, yaitu Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Ketiganya adalah simbol angkara (tidak suci). Berbicara bhuta maka identik dengan Durga. Sementara Durga identik dengan persembahan olahan daging mentah dari babi.

Lawar dapat diklasifikasikan menjadi tiga dari tingkat kepedasannya. Pertama Dharmawangsa Santa yaitu lawar yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak hingga dewasa. Kedua Bima Kroda yaitu lawar yang dapat dikonsumsi oleh peminum, pedasnya dari cabai. Terakhir Arjuna Menangis yaitu lawar yang pedasnya dari merica.

Secara fungsi untuk dikonsumsi disebut dengan lawar, namun jika digunakan sebagai persembahan disebut dengan urab. Dalam satu tandingan urab yang akan digunakan sebagai persembahan terdiri atas urab barak, urab putih, gegecok, dan serapah ngeleb.

Dalam satu porsi tandingan ada urab yang teksturnya kasar hingga halus. Hal ini merupakan filosofi pemrosesan Sad Ripu menjadi Sad Guna. “Inilah pemaknaan yang terselubung dari adanya olah-olahan Penampahan Galungan. Di sini kita dituntut bagaimana memroses Sad Ripu menjadi Sad Guna. Bagaimana proses mengolah daging babi menjadi urutan, serapah, lawar atau urab,” tandasnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #adat #hari raya galungan #lawar #hindu #pura #Sang Kala Tiga #budaya #tradisi