Sanggar Gita Bandana Praja yang tampil di Pesta Kesenian Bali ini menggeber kisah murkanya Dewa Baruna selama 4 jam di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar
Pembeberan alur cerita menarik. Duselipi humor, namun serius katena sarat pesan yang disampaikan, sesuai dengan tema PKB ke-44 tahun ini, Danu Kerthi, memuliakan air di dalam kehidupan.
Seniman tari drama gong maupun panyalonarang tampil apik. Bahkan kedua unsur seni tari itu berkolaborasi dengan sangat mengalir sesuai cerita. Sesekali seniman memunculkan humornya, yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak.
Begitu juga saat seniman memerankan suasana sedih, seketika penonton hening menghayati jalannya cerita dalam pementasan tersebut. “Perpaduan antara drama gong dan panyalonarang harus menyatu. Maka inilah memerlukan adanya sopir yang kuat,” terang pembina pementasan Gede Kariyasa.
Selain itu juga referensi yang diambil, mengapa harus disebut dengan drama gong panyalonarang. Didapatkanlah bahwa alam kedewataan ini terdiri atas bhuana agung dan bhuana alit. “Ini yang dideskripsikan agar nyambung,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Kariyasa menambahkan bahwa alur cerita yang dipentaskan sesuai tema PKB tahun ini. Danu Kerthi, sebagai salah satu penghormatan maupun cara menjaga air sebagai sumber kehidupan.
“Sebagai salah satu sumber kehidupan dalam jalan cerita alurnya dramatis. Drama gong sudah mewakili, dan panyalonarangan juga terwakili. Kami lebih banyak memberikan sebuah wacana kepada masyarakat, cerita ini divisualkan air itu dicemarkan oleh kita sendiri. Bagaimana cara kita meminimalisasi agar tidak terjadi hal itu,” tegas dia.
Di akhir pementasan, para penonton sempat dikagetkan dengan turut dipentaskannya bangke matah ( mayat). Terlebih bangke matah yang ditampilkan sebanyak dua bangke matah yang digotong dan ditutup dengan kain putih. Suasana yang kental panyalonarangan pun terasa saat tukang undang leak menyampaikan pementasan bangke -bangkean tersebut.
Setelah pementasan yang mulai memasuki penutupan, para penonton ada yang karauhan dan menuju ke panggung. Mengetahui hal tersebut para pamangku yang ada di pementasan, mendekati mereka yang karauhan (trance) dan segera diperciki tirta, agar penonton yang kerauhan sadar kembali.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya