Mereka yang melaksanakan upacara ruwayan ini bisa karena kelahirannya, sakit berkepanjangan dan lainnya. Orang-orang tersebut dikategorikan harus diruwat dengan pertunjukan wayang kulit sebagai wayang ruwatan dengan lakon khas, yaitu Sudhamala dan Sapuh Leger.
Jro Dalang Putu Ardiyasa mengatakan, lakon Sudhamala dalam Lontar Siwagama berawal dari Hyang Siwa menyuruh Dewi Uma ke marcepada (bumi) guna mencari obat. Hyang Siwa berpura-pura sakit untuk menguji kesetian seorang Dewi Uma. Tidak membuang waktu, Dewi Uma pun berangkat ke alam manusia.
Keberangkatan Sang Dewi rupanya diikuti oleh Hyang Siwa dengan berubah wujud menjadi seorang gembala sapi. Perjalanan Dewi Uma mengarungi lautan, gunung, sawah, dan sungai. Namun tidak menemukan obat dicarinya.
Suatu ketika, Dewi Uma berjalan-jalan di hutan yang sangat lebat. Di sana ada seorang gembala sapi duduk menunggu sejumlah sapi yang sedang makan rumput. Melihat sapi putih yang dicari-cari selama ini, akhirnya Dewi Uma menemui penggembala yang sebenarnya adalah Hyang Siwa.
Perbincangan Dewi Uma dengan gembala sapi berjalan alot. Mulai dari perkenalan, menyampaikan maksud dan tujuan hingga terjalin sebuah kesepakatan di sana.
Tujuan Dewi Uma ke hutan adalah mencari air susu sapi putih untuk obat Hyang Siwa yang sakit. Air susu sapi putih tidak boleh dibeli dengan uang ataupun emas, akhirnya segala cara dilakukan agar mendapatkan air susu sapi itu.
Sang gembala sapi membuat kesepakatan dengan Dewi Uma. Jika ingin air susu sapi putih, Dewi Uma harus melayani sang gembala layaknya hubungan suami istri. Setelah selesai, Dewi Uma kembali ke Siwa Loka dengan membawa air susu sapi untuk obat sang suami. Sedangkan gembala sapi tiada lain Hyang Siwa telah kembali duluan ke sorga agar rencana tidak terbongkar.
“Dewi Uma melakukan kama salah (Manik Sphatika) dengan penggembala sapi, kepulangan beliau ke sorga menjadi titik kesalahan Dewi Uma hingga dikutuk menjadi penghuni kuburan. Wajah yang seram dengan sebutan Dewi Durga, pada akhirnya dibersihkan/Sudhamala oleh Sang Sahadewa. Kembalinya Dewi Uma dalam wujud cantik merupakan simbol penyucian kotoran yang membelenggunya,” ujar Jro Ardiyasa.
Kemudian dalam Lontar Cepa Kala/Japa Kala dalam lakon Sapuh Leger disebutkan bahwa lahirnya Dewa Kala bermula dari segumpal bola api yang disebut Manik Sphatika yang artinya sperma yang mengristal. Tiada lain adalah sperma Hyang Siwa jatuh di samudra.
Kama yang sempat ditunggu oleh para Dewa di Sorga. Karena kelahirannya lama sekali tidak muncul, seluruh dewata memecahkan dengan senjata mereka masing-masing. Maka muncul lah seorang raksasa besar, giginya runcing, rambut gimbal, suara membelah akasa serta mata yang mendelik. Semua dewata melarikan diri menjauhinya.
“Makna kedua cerita lontar tersebut adalah pertemuan laki dan perempuan dalam memadu kasih tidak pada tempatnya, awal terbentuknya benih janin dalam kandungan seorang istri/ibu. Manik Sphatika tiada lain adalah sperma dari ayah akibat hubungan yang menyimpang. Pertemuan Kama-Jaya dan Kama-Ratih menghasilkan jabang bayi dalam kandungan,” ungkapnya.
Dikatakan Jro Ardiyasa, adegan wayang dalam lakon Sudhamala dan Sapuh Leger mengandung makna sebuah proses kelahiran bayi beserta perwatakannya.
Seperti adegan terakhir lakon Sapuh Leger, terjadi perselisihan Bhatara Kala/Dewa Kala dengan Dalang Sambirana, dan berakhir dengan tunduknya Dewa Kala berkat kekuatan magis seorang dalang.
“Secara makna mitos ini sebagai upaya keras dalam pendewasaan pribadi manusia. Secara psikologis mitos Sudhamala dan Sapuh Leger menjadi etika dan nilai bagi manusia secara umumnya,” papar pria asal Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli itu. Editor : I Komang Gede Doktrinaya