Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simbol Purusa Pradana Tertuang Mulai dari Rajah, Banten hingga Mudra

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 28 Juli 2022 | 22:21 WIB
PURUSA: Gunung Batur, Gunung Abang dan Gunung Agung dilihat dari Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani, Bangli. Gunung merupakan simbol purusa.   Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Sudiarta. I Made Mertawan/I Putu Mardika/Bali Ex
PURUSA: Gunung Batur, Gunung Abang dan Gunung Agung dilihat dari Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani, Bangli. Gunung merupakan simbol purusa.  Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Sudiarta. I Made Mertawan/I Putu Mardika/Bali Ex
BULELENG, BALI EXPRESS -Istilah dan simbol-simbol purusa dan pradana dapat dilihat dalam berbagai bentuk ritual. Seperti sarana upakara, mantram atau puja, uperengga, tetandingan, mudra dan lain-lain. Hal tersebut digunakan oleh umat Hindu di Bali dalam melaksanakan Panca Yadnya.

Dosen Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Sudiarta mengatakan, konsep purusa dan pradana dapat ditemukan dalam rerajahan. Ada yang dinamakan rerajahan Semara-Ratih yang dipakai pada saat upacara akil-balig (menek bajang) dan dalam upacara matatah.

Semara lambang purusa dan Ratih lambang pradana. Sedangkan dalam bentuk tetandingan, olahan lawar merupakan simbol pradana dan tetandingan (jejatah) dilambangkan sebagai purusa. Dalam wujud tetandingan, olahan lawar tempatnya di bawah dan di atasnya jejatah.

Purusa dan pradana juga ditemukan dalam bentuk mudra. Ada mudra akasa (sikap tangan menghadap ke bawah) melambangkan purusa, dan mudra pertiwi yang merupakan sikap tangan menghadap ke atas dan melambangkan pradana.

Dalam bentuk upakara dan upacara ada upakara yang disimbolkan sebagai lingga (purusa) seperti gebogan, pulogembal, dapetan, peras, dan upakara yang disimbolkan sebagai yoni (predana) seperti misalnya pengambean, sesayut, tebasan, jerimpen.

Selain itu ada juga yang disebut banten dewa-dewi, yang merupakan banten di sanggar surya juga simbol purusa-pradhana. Banten tipat-bantal yang dipakai pada saat upacara majauman, juga melambangkan purusa-pradana. Tipat lambang pradana, bantal lambang purusa.

“Simbol purusa dan pradana dalam bentuk upacara, antara lain dapat dilihat dalam upacara nyegara gunung dan upacara majejiwan di Bale Paselang,” imbuhnya.

Sarana upakara berupa klakat sudamala lanang yang merupakan anyaman di tengah-tengahnya tertutup, dan klakat sudamala istri yang anyaman di tengah-tengahnya berlobang juga merupakan konsep purusa pradana. Klakat sudamala lanang dan istri dipakai dalam membuat banten dewa-dewi.

Jejahitan sampian yang digolongkan sebagai purusa (lingga) yaitu sampian metangga, antara lain sampian peras, sampian pengambean, sampian dapetan. Sampian yang digolongkan sebagai pradana (Yoni), antara lain sampian nagasari, sampian jaet guwak.

Ada banyak jenis dan bentuk jajan cacalan, salah satu diantaranya ada yang disebut cacalan lingga-yoni (purusa-pradana) yang dipakai dalam tetandingan banten suci. Di Sanggar Surya ada sarana biu lalung (simbol purusa) dan klukuh berisi berem (simbol pradana).

Selanjutnya dalam berbagai ciptaan-Nya, purusa dan pradana lebih bermakna simbolis, seperti antara lain gunung, tumpeng, dan keris sebagai simbol purusa, dan segara, danau, penek, sarung keris, tikeh dadakan sebagai simbol pradana.

Selain itu, kalau dicermati lebih jauh simbol-simbol purusa berkaitan dengan benda-benda yang letaknya tinggi. Seperti gunung, akasa, posisinya menghadap ke bawah mudra akasa, bentuknya runcing (tumpeng, keris), berbentuk panjang (sate). Sedangkan simbol-simbol pradana berkaitan dengan benda-benda yang letaknya rendah, di bawah yaitu samudra, pertiwi. “Posisi menghadap ke atas (mudra pertiwi), bentuknya datar (penek, tikeh dadakan),” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Purusa Pradana #Siwa Tattwa #balinese #Awal Mula Penciptaan #adat #hindu #pura #budaya #tradisi