Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nasi Wong-wongan Dibuat dan Dihaturkan Saat Situasi Tak Biasa

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 30 Juli 2022 | 18:16 WIB
GANJIL : Nasi Wong-wongan tak dihaturkan sembarangan. Sebab, sarana ini hanya bisa dihaturkan jika terjadi hal-hal yang ganjil. Ist
GANJIL : Nasi Wong-wongan tak dihaturkan sembarangan. Sebab, sarana ini hanya bisa dihaturkan jika terjadi hal-hal yang ganjil. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Nasi Wong-wongan tak bisa dihaturkan secara sembarangan. Sebab, sarana ini hanya bisa dihaturkan jika terjadi hal-hal yang ganjil. Semisal dalam satu keluarga mengalami sakit keras yang tidak kunjung sembuh, seperti wabah virus yang terjadi yang tidak tampak oleh mata.

Bahkan, saat pandemi Covid-19, umat Hindu di Bali berdasarkan keyakinannya menghaturkan Nasi Wong-wongan sebagai pilihan untuk mengurangi kekacauan atau gerubug.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, keyakinan umat Hindu di Bali menyebut jika gerubug disebabkan oleh bhuta-bhuti dan Durga Dewi untuk mengacaukan alam semesta ini.

Durga Dewi/Dewi Durga merupakan manifestasi Tuhan dalam fungsinya untuk memberikan sanksi pada perbuatan yang jahat. “Oleh karena itu Nasi Wong-wongan ini sebagai panyomya para bhuta tersebut agar tidak lagi menyebarkan penyakit,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, Nasi Wong-wongan dibuat dengan dilengkapi sarana bawang, jahe dan garam. Sarana itu merupakan  perpaduan yang sangat sempurna untuk menetralkan dan menyeimbangkan unsur sekala dan niskala.

Demikian juga unsur vatta, pitta dan kapha yaitu tiga unsur yang ada dalam tubuh. “Apabila salah satu dari unsur tersebut tidak seimbang maka tubuh akan sakit,” katanya lagi.

Tubuh, sebut Suardika, adalah bhuwana alit. Sedangkan alam semesta adalah bhuwana agung. Keduanya ini hendaknya ada dalam keseimbangan.

Penggunaan bawang, jahe dan garam apabila dilihat dari cara memerolehnya yaitu jahe dan bawang adalah tanaman yang terdapat di darat dan garam terdapat di laut. Dengan demikian, darat dan laut menyatu dalam satu kesatuan yang dapat menciptakan keseimbangan.

“Persembahan berupa Nasi Wong-wongan dengan sarana yang lainnya diyakini dapat nyomya bhuta yang negatif menjadi positif atau menjadi dewa, sehingga tidak lagi mengganggu kehidupan manusia,” pungkasnya.

 

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #adat #Ketua PHDI Kecamatan Buleleng #hindu #pura #budaya #tradisi #Nasi Wong-wongan #nasi putih #Nyoman Suardika