Bahkan, saat pandemi Covid-19, umat Hindu di Bali berdasarkan keyakinannya menghaturkan Nasi Wong-wongan sebagai pilihan untuk mengurangi kekacauan atau gerubug.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, keyakinan umat Hindu di Bali menyebut jika gerubug disebabkan oleh bhuta-bhuti dan Durga Dewi untuk mengacaukan alam semesta ini.
Durga Dewi/Dewi Durga merupakan manifestasi Tuhan dalam fungsinya untuk memberikan sanksi pada perbuatan yang jahat. “Oleh karena itu Nasi Wong-wongan ini sebagai panyomya para bhuta tersebut agar tidak lagi menyebarkan penyakit,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, Nasi Wong-wongan dibuat dengan dilengkapi sarana bawang, jahe dan garam. Sarana itu merupakan perpaduan yang sangat sempurna untuk menetralkan dan menyeimbangkan unsur sekala dan niskala.
Demikian juga unsur vatta, pitta dan kapha yaitu tiga unsur yang ada dalam tubuh. “Apabila salah satu dari unsur tersebut tidak seimbang maka tubuh akan sakit,” katanya lagi.
Tubuh, sebut Suardika, adalah bhuwana alit. Sedangkan alam semesta adalah bhuwana agung. Keduanya ini hendaknya ada dalam keseimbangan.
Penggunaan bawang, jahe dan garam apabila dilihat dari cara memerolehnya yaitu jahe dan bawang adalah tanaman yang terdapat di darat dan garam terdapat di laut. Dengan demikian, darat dan laut menyatu dalam satu kesatuan yang dapat menciptakan keseimbangan.
“Persembahan berupa Nasi Wong-wongan dengan sarana yang lainnya diyakini dapat nyomya bhuta yang negatif menjadi positif atau menjadi dewa, sehingga tidak lagi mengganggu kehidupan manusia,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya