Kepala Dinas Kebudayaan Badung I Gde Eka Sudarwitha mengatakan pembinaan menyeluruh dilakukan secara intensif setiap seminggu sekali. Sedangkan pembinaan sektoral untuk masing-masing materi lomba dilaksanakan hampir setiap hari oleh para pembina.
Untuk memperoleh peserta dilakukan dengan cara mengirimkan surat kepada seluruh Camat di Badung mengirimkan wakil yang memiliki potensi. “Sebelum pandemi (pandemi Covid-19), pembinaannya lebih terstruktur. Dari tingkat kecamatan dilombakan terlebih dahulu dengan peserta dari masing-masing desa. Baru kemudian seleksi di tingkat kabupaten,” ujar Sudarwitha saat dikonfirmasi Kamis (18/8) lalu.
Menurutnya, dari wakil setiap kecamatan akan dilakukan seleksi kembali berdasarkan penampilannya di hadapan tim pembina Kabupaten Badung. Setelah mendapatkan peserta, dilakukan pembinaan secara sektoral oleh pembina masing-masing. “Kemudian kita juga lakukan pembinaan bersama secara umum. Pembinaan oleh provinsi juga sudah dilakukan di Museum Yadnya, Mengwi,” ungkapnya.
Disinggung terkait target, mantan Camat Petang ini menjelaskan, akan mempertahankan juara umum pada tahun 2019. Untuk itu wakil dari Kabupaten Badung akan berupaya sebaik mungkin. Sehingga setelah memenangkan UDG di tingkat provinsi dapat berlaga di tingkat nasional.
Kepala Bidang Sejarah Dinas Kebudayaan Badung Nyoman Indrawati menambahkan, Kabupaten Badung tahun ini mengirim 15 orang peserta.
Rinciannya, lima orang mengikuti kategori lomba kidung dewasa campuran, dua orang mengikuti lomba menghafal sloka anak-anak (putra dan putri), dua orang lomba membaca sloka remaja putra berpasangan, dua orang lomba membaca palawakya berpasangan remaja putri, dua orang lomba geguritan pasangan anak-anak putri, dan dua orang mengikuti lomba makekawin berpasangan remaja putra. “Tahun ini Badung mengikuti semua materi. Tahun 2019, kami sampai kirim 73 peserta untuk berlomba pada puluhan kategori,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya