Klian Adat Buleleng Nyoman Sutrisna memaparkan, penggunaan sarana berupa hewan dalam berbagai ritual khususnya di Buleleng sudah menjadi tradisi. Bahkan, di Desa Adat Buleleng saat jelang Hari Raya Nyepi belasan jenis hewan dijadikan sarana persembahan, tepatnya saat Pengerupukan dibuatkan upacara Mapepada.
Menurutnya, penggunaan sarana hewan tidak hanya disebutkan dalam berbagai lontar. Tetapi juga dalam pustaka suci Hindu. Seperti dalam kitab Manawa Dharmasastra V.42. Di sana disebutkan bahwa Tuhan menciptakan binatang dan tumbuhan untuk tujuan upacara-upacara kurban, dengan maksud untuk kebaikan bumi.
“Seorang yang mengetahui arti sebenarnya dari Weda, menyembelih seekor hewan dengan tujuan-tujuan tersebut di atas menyebabkan dirinya sendiri bersama-sama hewan itu masuk ke dalam keadaan yang sangat membahagiakan,” katanya.
Mantan Kadis Pariwisata Buleleng ini menyebutkan, sloka dalam kitab Manawa Dharmasastra menjadi latar belakang dan acuan umat Hindu Bali dalam menggunakan hewan sebagai salah satu unsur dalam upakara dalam upacara yadnya.
“Menjadikan hewan sebagai kurban suci diharapkan dapat membuat manusia lebih mampu mendekatkan diri dengan Tuhan dan akhirnya dapat menyatu dengan-Nya,” kata Sutrisna.
Menurutnya, hewan yang dikurbankan tidaklah semata-mata hanya digunakan sebagai keperluan manusia. Dengan pengorbanan, hewan yang dikurbankan sendiri akan mendapatkan tempat yang lebih baik setelah kematiannya.
Kitab Manawa Dharmasastra V.40 menguraikan bahwa: Tumbuh-tumbuhan semak-semak, pohon-pohonan, ternak, seperti burung-burung lainnya yang telah digunakan sebagai sarana upakara akan lahir dalam tingkat yang lebih tinggi pada kelahiran yang akan datang.
Penggunaan hewan dalam berbagai ritual upakara, khususnya oleh umat Hindu di Bali, dikelompokkan berdasarkan atas jumlah kaki dan habitat hidup dari hewan tersebut.
Menurutnya, hal itu pun juga dilakukan oleh Desa Adat Buleleng saat melaksanakan berbagai ritual keagamaan. Sebut saja pengelompokan hewan suku pat (berkaki empat), soroh kedis (unggas), isin alas (binatang di hutan), isin tukad (binatang yang berhabitat di sungai), isin carik (hewan yang berhabitat di sawah), isin pasih (binatang yang berhabitat di laut) dan gumatat-gumitit.
Hewan suku pat yang sering dipakai dalam upakara yadnya adalah sapi, kambing, kerbau, lembu, babi, anak babi, anjing. Untuk soroh kedis, yang digunakan adalah angsa, ayam, bebek, merpati, gagak, kuntul, perkutut, tekukur.
Lalu, isin alas yang biasa digunakan adalah cendrawasih, badak, babi hutan, kijang, rusa, trenggiling, landak, harimau, monyet, ular, kukang, ayam hutan, biawak, rubah kucing, musang, luwak, dan tikus.
Untuk isin tukad, yang digunakan adalah udang, kepiting, nilam, sidat, lele, bulus, mujair, ikan gabus. Sedangkan isin carik yang biasa digunakan adalah belalang, capung, katak, belut, keong. Ada juga kerapu, teri, penyu tergolong ke dalam isin pasih.
Terakhir, gumatat-gumitit yang biasa digunakan adalah tawon, lebah, larva kumbang, kelabang, kalajengking, dan ulat bulu.
“Berbagai hewan itu semua ada manfaatnya dalam tingkatan upacara. Sehingga sudah selayaknya kita juga perlu melakukan konservasi untuk melestarikan hewan yang dijadikan sarana upacara, sehingga tetap ada saat dibutuhkan,” ungkap Sutrisna. Editor : I Komang Gede Doktrinaya